alexametrics
24.5 C
Madiun
Saturday, May 28, 2022

Petani Madiun Enggan Ribet Asuransi Usaha Tani

MEJAYAN, Jawa Pos Radar Caruban – Musim penghujan tahun ini diperkirakan berpotensi menyebabkan bencana banjir. Sehingga, patut diwaspadai dampaknya yang dapat merugikan petani. Misalnya, gagal panen, lantaran tanaman terendam. ‘’Paling rawan tanaman padi yang mendekati masa panen,’’ kata Kabid Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Dinas Pertanian dan Perikanan (Disperta) Kabupaten Madiun Parna, Kamis (4/11).

Sejatinya, potensi kerugian akibat gagal panen tersebut dapat ditekan. Yakni, melalui asuransi usaha tani. Sayangnya, tingkat kepesertaan petani masih rendah. Padahal, dapat melindungi petani dari kerugian gagal panen akibat bencana alam seperti banjir, kekeringan, serangan hama, dan penyakit tanaman. ‘’Perlindungannya berupa uang Rp 6 juta per hektare jika gagal panen’’ ujarnya.

Parna mengungkapkan, tahun ini hanya 14,95 hektare yang diasuransikan. Yakni, dari dua kelompok tani di wilayah Balerejo dan Dagangan. Pun, masa premi asuransinya telah habis dan belum daftar lagi. ‘’Jadi, setiap masuk masa tanam, harus daftar lagi dan membayar lagi premi asuransi Rp 36 ribu per hektare,’’ tuturnya.

Baca Juga :  Semua Ruas Tol Berpotensi Laka

Lahan pertanian yang diasuransikan itu sangat rendah jika dibandingkan total luas tanam di Kabupaten Madiun 27.673 hektare di 15 kecamatan. Pun, hanya petani padi yang ikut asuransi. Sedangkan petani jagung, bawang merah, cabai, atau petani tanaman hortikultura lain belum mamanfaatkan.

Parna menambahkan, rendahnya minat petani mendaftar asuransi diketahui saat timnya sosialisasi di setiap wilayah. Respons petani nyaris tidak ada. Diduga para petani enggan ribet mengurusnya. (tr1/c1/sat/her)

MEJAYAN, Jawa Pos Radar Caruban – Musim penghujan tahun ini diperkirakan berpotensi menyebabkan bencana banjir. Sehingga, patut diwaspadai dampaknya yang dapat merugikan petani. Misalnya, gagal panen, lantaran tanaman terendam. ‘’Paling rawan tanaman padi yang mendekati masa panen,’’ kata Kabid Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Dinas Pertanian dan Perikanan (Disperta) Kabupaten Madiun Parna, Kamis (4/11).

Sejatinya, potensi kerugian akibat gagal panen tersebut dapat ditekan. Yakni, melalui asuransi usaha tani. Sayangnya, tingkat kepesertaan petani masih rendah. Padahal, dapat melindungi petani dari kerugian gagal panen akibat bencana alam seperti banjir, kekeringan, serangan hama, dan penyakit tanaman. ‘’Perlindungannya berupa uang Rp 6 juta per hektare jika gagal panen’’ ujarnya.

Parna mengungkapkan, tahun ini hanya 14,95 hektare yang diasuransikan. Yakni, dari dua kelompok tani di wilayah Balerejo dan Dagangan. Pun, masa premi asuransinya telah habis dan belum daftar lagi. ‘’Jadi, setiap masuk masa tanam, harus daftar lagi dan membayar lagi premi asuransi Rp 36 ribu per hektare,’’ tuturnya.

Baca Juga :  Sembilan Warga Wungu di Lima RT Terserang DBD

Lahan pertanian yang diasuransikan itu sangat rendah jika dibandingkan total luas tanam di Kabupaten Madiun 27.673 hektare di 15 kecamatan. Pun, hanya petani padi yang ikut asuransi. Sedangkan petani jagung, bawang merah, cabai, atau petani tanaman hortikultura lain belum mamanfaatkan.

Parna menambahkan, rendahnya minat petani mendaftar asuransi diketahui saat timnya sosialisasi di setiap wilayah. Respons petani nyaris tidak ada. Diduga para petani enggan ribet mengurusnya. (tr1/c1/sat/her)

Most Read

Artikel Terbaru

/