alexametrics
27.4 C
Madiun
Sunday, May 22, 2022

Soda Kue Melejit, Perajin Brem di Madiun Menjerit

MEJAYAN, Jawa Pos Radar Madiun – Meredanya kasus Covid-19 menjadi angin segar bagi perajin brem di Kabupaten Madiun. Aktivitas produksi dan penjualan berangsur membaik. ”Waktu PSBB (pembatasan sosial berskala besar) produksi berhenti total selama setengah tahun, lebih parah daripada masa PPKM,” kata Romadhon, perajin brem di Desa Kaliabu, Mejayan, Sabtu (5/2).

Romadhon menuturkan, omzet penjualan oleh-oleh khas Madiun itu kini mulai menggeliat. Pun, tidak sedikit distributor yang menambah jumlah pesanan. ”Selain diambil langsung oleh distributor, saya juga menyetok ke beberapa toko di Kabupaten Madiun dan Ngawi,” ungkapnya.

Meski usaha brem mulai membaik, bukan berarti tanpa kendala. Saat ini perajin dihadapkan pada kenaikan harga sejumlah bahan baku seperti beras ketan, ragi, dan yang paling parah soda kue. ‘’Beras ketan yang biasanya hanya Rp 9.000 sekarang Rp  12 ribu sekilo,” ujarnya.

Harga ragi tak luput dari kenaikan. Yakni, dari sebelumnya Rp 135 ribu menjadi Rp 175 ribu per bal. Sementara, harga soda kue naik hingga dua kali lipat dari Rp 150 ribu menjadi Rp 300 ribu per sak. ”Kata distributor dipengaruhi kurs dolar, karena selama ini diimpor dari Tiongkok,” sebut Romadhon.

Baca Juga :  Alat Rekam E-KTP Rusak, Dispendukcapil Kabupaten Madiun Jemput Bola

Dalam sebulan Romadhon menghabiskan 5-6 kuintal ketan putih untuk diolah menjadi brem. Setelah diolah, satu kuintal bahan tersebut menghasilkan sekitar 500 boks brem ukuran besar isi lima lapis. ”Kalau yang kotak ukuran kecil isi tiga lapis sekitar 700,” katanya.

Meski harga sejumlah bahan baku naik, para perajin umumnya tidak serta-merta menaikkan harga jual brem hasil olahannya. Mereka memilih mempertahankan harga lama dengan risiko keuntungan berkurang. ”Reseller tidak mau beli kalau harganya naik,” ujarnya sembari menyebut harga kertas kemasan juga mengalami kenaikan. (rio/c1/isd/her)

MEJAYAN, Jawa Pos Radar Madiun – Meredanya kasus Covid-19 menjadi angin segar bagi perajin brem di Kabupaten Madiun. Aktivitas produksi dan penjualan berangsur membaik. ”Waktu PSBB (pembatasan sosial berskala besar) produksi berhenti total selama setengah tahun, lebih parah daripada masa PPKM,” kata Romadhon, perajin brem di Desa Kaliabu, Mejayan, Sabtu (5/2).

Romadhon menuturkan, omzet penjualan oleh-oleh khas Madiun itu kini mulai menggeliat. Pun, tidak sedikit distributor yang menambah jumlah pesanan. ”Selain diambil langsung oleh distributor, saya juga menyetok ke beberapa toko di Kabupaten Madiun dan Ngawi,” ungkapnya.

Meski usaha brem mulai membaik, bukan berarti tanpa kendala. Saat ini perajin dihadapkan pada kenaikan harga sejumlah bahan baku seperti beras ketan, ragi, dan yang paling parah soda kue. ‘’Beras ketan yang biasanya hanya Rp 9.000 sekarang Rp  12 ribu sekilo,” ujarnya.

Harga ragi tak luput dari kenaikan. Yakni, dari sebelumnya Rp 135 ribu menjadi Rp 175 ribu per bal. Sementara, harga soda kue naik hingga dua kali lipat dari Rp 150 ribu menjadi Rp 300 ribu per sak. ”Kata distributor dipengaruhi kurs dolar, karena selama ini diimpor dari Tiongkok,” sebut Romadhon.

Baca Juga :  Ekspor Porang dari Madiun ke Tiongkok Macet

Dalam sebulan Romadhon menghabiskan 5-6 kuintal ketan putih untuk diolah menjadi brem. Setelah diolah, satu kuintal bahan tersebut menghasilkan sekitar 500 boks brem ukuran besar isi lima lapis. ”Kalau yang kotak ukuran kecil isi tiga lapis sekitar 700,” katanya.

Meski harga sejumlah bahan baku naik, para perajin umumnya tidak serta-merta menaikkan harga jual brem hasil olahannya. Mereka memilih mempertahankan harga lama dengan risiko keuntungan berkurang. ”Reseller tidak mau beli kalau harganya naik,” ujarnya sembari menyebut harga kertas kemasan juga mengalami kenaikan. (rio/c1/isd/her)

Most Read

Artikel Terbaru

/