23.7 C
Madiun
Sunday, January 29, 2023

Angkot-Angdes di Kabupaten Madiun Makin Ditinggalkan

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Moda transportasi umum jenis angkutan kota (angkot) maupun desa (angdes) di Kabupaten Madiun semakin langka. Catatan dinas perhubungan (dishub) setempat, selama empat tahun terakhir jumlah pengajuan izin trayek jenis angkutan tersebut menunjukkan tren penurunan.

Kasi Angkutan Umum dan Pengujian Dishub Taryono memerinci, pada 2018 lalu total armada angkot-angdes di Kabupaten Madiun tercatat sebanyak 44 unit. Setahun berselang, jumlah itu turun menjadi 40. Kemudian, pada 2020 menyusut tinggal 32 unit.

‘’Tahun lalu, pengajuan izin trayek maupun perpanjangan yang masuk ke kami hanya ada sembilan. Sedangkan tahun ini (per Oktober) delapan,’’ ujarnya, Sabtu (5/11).

Dia menyebutkan, saat ini angkot-angdes hanya bisa dijumpai di wilayah Caruban, Gemarang, Dolopo-Suluk, dan Dimong.

Sementara, trayek lain seperti Dungus dan Kare yang dulu ramai kini tidak ada satupun armada yang beroperasi. ‘’Dampak semakin banyaknya kendaraan pribadi yang dianggap lebih praktis dan cepat,’’ tuturnya.

Baca Juga :  Ratusan Kendaraan di Ngawi Tak Layak Mengaspal

Taryono mengatakan, maraknya kendaraan pribadi memaksa banyak pemilik angkot-angdes yang mengandangkan armadanya. Apalagi, biaya operasional dari waktu ke waktu semakin membengkak. ‘’Akhirnya banyak yang beralih ke pekerjaan lain,’’ ungkapnya.

Menyusutnya jumlah armada angkot-angdes yang beroperasi, lanjut dia, mengakibatkan pendapatan asli daerah (PAD) dari sektor itu mengalami penurunan signifikan. Tidak terkecuali tahun ini. Dari target Rp 1.545.000,  hingga Oktober lalu baru terealisasi Rp 440.000.

Taryono mengaku pihaknya sudah berupaya mendorong minat masyarakat memanfaatkan transportasi umum. Salah satunya melalui kebijakan pemotongan pajak angkutan umum hingga 50 persen. Namun, sejauh ini belum membuahkan hasil. (mg3/isd)

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Moda transportasi umum jenis angkutan kota (angkot) maupun desa (angdes) di Kabupaten Madiun semakin langka. Catatan dinas perhubungan (dishub) setempat, selama empat tahun terakhir jumlah pengajuan izin trayek jenis angkutan tersebut menunjukkan tren penurunan.

Kasi Angkutan Umum dan Pengujian Dishub Taryono memerinci, pada 2018 lalu total armada angkot-angdes di Kabupaten Madiun tercatat sebanyak 44 unit. Setahun berselang, jumlah itu turun menjadi 40. Kemudian, pada 2020 menyusut tinggal 32 unit.

‘’Tahun lalu, pengajuan izin trayek maupun perpanjangan yang masuk ke kami hanya ada sembilan. Sedangkan tahun ini (per Oktober) delapan,’’ ujarnya, Sabtu (5/11).

Dia menyebutkan, saat ini angkot-angdes hanya bisa dijumpai di wilayah Caruban, Gemarang, Dolopo-Suluk, dan Dimong.

Sementara, trayek lain seperti Dungus dan Kare yang dulu ramai kini tidak ada satupun armada yang beroperasi. ‘’Dampak semakin banyaknya kendaraan pribadi yang dianggap lebih praktis dan cepat,’’ tuturnya.

Baca Juga :  Kota Madiun Dinilai Layak Terapkan Angkutan Massal

Taryono mengatakan, maraknya kendaraan pribadi memaksa banyak pemilik angkot-angdes yang mengandangkan armadanya. Apalagi, biaya operasional dari waktu ke waktu semakin membengkak. ‘’Akhirnya banyak yang beralih ke pekerjaan lain,’’ ungkapnya.

Menyusutnya jumlah armada angkot-angdes yang beroperasi, lanjut dia, mengakibatkan pendapatan asli daerah (PAD) dari sektor itu mengalami penurunan signifikan. Tidak terkecuali tahun ini. Dari target Rp 1.545.000,  hingga Oktober lalu baru terealisasi Rp 440.000.

Taryono mengaku pihaknya sudah berupaya mendorong minat masyarakat memanfaatkan transportasi umum. Salah satunya melalui kebijakan pemotongan pajak angkutan umum hingga 50 persen. Namun, sejauh ini belum membuahkan hasil. (mg3/isd)

Most Read

Artikel Terbaru