alexametrics
24.2 C
Madiun
Friday, May 27, 2022

Pasutri Suharwedi-Roikhul Janah Kompak Produksi Batik Tulis

GEGER, Jawa Pos Radar Caruban – Deretan kain batik tulis dengan beragam motif tampak menghiasi setiap sudut rumah Suharwedi di Desa Banaran, Kecamatan Geger, Kabupaten Madiun. Sementara, si empunya rumah siang itu sedang membuat pola pada selembar kertas plano.

Setelah selesai, Suharwedi lantas meletakkan selembar kain di atas kertas pola itu. Lalu, pola disalin menggunakan pensil hingga detail. ‘’Baru kemudian dicanting, proses pewarnaan, dan dijemur. Lalu, diberi pengawet dan dibiarkan semalam. Paginya dilorot, lantas dikeringkan dengan cara diangin-anginkan,’’ paparnya, Senin (8/11).

Suharwedi dan Roikhul Janah, istrinya, menekuni kerajinan batik tulis sejak 2012 silam. Bermula saat pasangan suami istri (pasutri) itu berkunjung ke sebuah galeri batik di Bali. ‘’Tapi, di sana tidak ada aktivitas membatik sama sekali. Dari situ kami berinisiatif membuat batik sendiri,’’ ujar Suharwedi.

Berbekal pengalaman pernah membatik saat kuliah, Suharwedi lantas menularkan ilmunya kepada sang istri. Singkat cerita, keduanya lantas aktif memproduksi batik tulis. Tak disangka, karya pasutri itu laku di pasaran. Pun, belakangan berhasil merambah berbagai daerah seperti Surabaya, Malang, Jakarta, Jambi, dan Makassar.

Baca Juga :  Dua Rumah Warga di Madiun Rusak Diterjang Banjir

Bahkan, pernah ada warga Australia yang membeli batik buatan Suharwedi-Roikhul. Pesanan juga datang dari pejabat sejumlah instansi pemerintahan dan sekolah. ‘’Pernah juga dapat pesanan dari pengadilan agama dan lapas (lembaga pemasyarakatan, Red),’’ imbuh Roikhul.

Batik karya Suharwedi-Roikhul memiliki ciri khas motif parang. Keduanya juga menghasilkan motif baru batik mengangkat tema flora seperti ketela, jati, anggrek, kenanga, dan porang. ‘’Membatik itu tidak sulit. Kuncinya telaten dan punya kemauan belajar,’’ sebutnya.

Pandemi korona tidak terlalu berpengaruh pada penjualan batik karya Suharwedi-Roikhul. Dalam tiga pekan saja bisa laku hingga 100 lembar. Belum termasuk yang membeli langsung secara eceran. ‘’Kadang untuk hadiah tamu,’’ kata guru SMPN 1 Geger itu sembari menyebut batik buatannya dibanderol Rp 200 ribu-Rp 500 ribu. (irs/isd/c1/her)

GEGER, Jawa Pos Radar Caruban – Deretan kain batik tulis dengan beragam motif tampak menghiasi setiap sudut rumah Suharwedi di Desa Banaran, Kecamatan Geger, Kabupaten Madiun. Sementara, si empunya rumah siang itu sedang membuat pola pada selembar kertas plano.

Setelah selesai, Suharwedi lantas meletakkan selembar kain di atas kertas pola itu. Lalu, pola disalin menggunakan pensil hingga detail. ‘’Baru kemudian dicanting, proses pewarnaan, dan dijemur. Lalu, diberi pengawet dan dibiarkan semalam. Paginya dilorot, lantas dikeringkan dengan cara diangin-anginkan,’’ paparnya, Senin (8/11).

Suharwedi dan Roikhul Janah, istrinya, menekuni kerajinan batik tulis sejak 2012 silam. Bermula saat pasangan suami istri (pasutri) itu berkunjung ke sebuah galeri batik di Bali. ‘’Tapi, di sana tidak ada aktivitas membatik sama sekali. Dari situ kami berinisiatif membuat batik sendiri,’’ ujar Suharwedi.

Berbekal pengalaman pernah membatik saat kuliah, Suharwedi lantas menularkan ilmunya kepada sang istri. Singkat cerita, keduanya lantas aktif memproduksi batik tulis. Tak disangka, karya pasutri itu laku di pasaran. Pun, belakangan berhasil merambah berbagai daerah seperti Surabaya, Malang, Jakarta, Jambi, dan Makassar.

Baca Juga :  Pemkab Madiun Siapkan Skema Pembelajaran Adaptif

Bahkan, pernah ada warga Australia yang membeli batik buatan Suharwedi-Roikhul. Pesanan juga datang dari pejabat sejumlah instansi pemerintahan dan sekolah. ‘’Pernah juga dapat pesanan dari pengadilan agama dan lapas (lembaga pemasyarakatan, Red),’’ imbuh Roikhul.

Batik karya Suharwedi-Roikhul memiliki ciri khas motif parang. Keduanya juga menghasilkan motif baru batik mengangkat tema flora seperti ketela, jati, anggrek, kenanga, dan porang. ‘’Membatik itu tidak sulit. Kuncinya telaten dan punya kemauan belajar,’’ sebutnya.

Pandemi korona tidak terlalu berpengaruh pada penjualan batik karya Suharwedi-Roikhul. Dalam tiga pekan saja bisa laku hingga 100 lembar. Belum termasuk yang membeli langsung secara eceran. ‘’Kadang untuk hadiah tamu,’’ kata guru SMPN 1 Geger itu sembari menyebut batik buatannya dibanderol Rp 200 ribu-Rp 500 ribu. (irs/isd/c1/her)

Most Read

Artikel Terbaru

/