23.7 C
Madiun
Sunday, January 29, 2023

Bocah Hydrocephalus di Madiun Butuh Uluran Tangan

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Malang nian Bahrul Baqulum. Ukuran kepala bocah tujuh tahun itu tidak sebanding dengan tubuh kecilnya. Anak kedua pasangan suami-istri (pasutri), Mardi-Ngatinem, warga Desa Jatirejo, Wonoasri, itu mengidap hydrocephalus sejak usia dua tahun.

‘’Lewat umur setahun, kejang-kejang dan demam tinggi. Lalu semakin lama kepalanya membesar,’’ tutur Ngatinem, Rabu (7/12).

Mulanya Bahrul hanya diperiksakan di puskesmas setempat setiap kejang atau demam. Namun, karena ukuran kepalanya yang kian membesar, puskesmas menyarankan dirujuk di RSUD Panti Waluyo Caruban. Hasil pemeriksaan dokter, Bahrul dinyatakan mengidap hydrocephalus.

‘’Saat itu diminta dirujuk ke RS lebih besar di Solo. Tapi tidak saya bawa ke sana karena tidak punya biaya untuk operasi,” ungkapnya.

Menurut Ngatinem, sejauh ini hanya mengandalkan kontrol rutin seminggu sekali di puskesmas. Kendati tidak ada riwayat cacat, Bahrul belum bisa berbicara. Penyebabnya, cairan di bagian otak Bahrul menekan pita suaranya. Sehingga, kemampuan bicaranya terganggu.

Bagian tubuh lainnya tidak ada masalah. Pun, Bahrul sangat aktif bergerak layaknya anak seusianya. ‘’Untuk makan juga sulit. Baru bisa operasi 22 November kemarin dengan BPJS kesehatan,’’ imbuhnya.

Kondisi keluarga pasutri ini jauh dari kata cukup secara ekonomi. Tidak ada barang mewah di rumah berdinding kayu dan gedheg (anyaman bambu) yang tidak lagi utuh itu.

Baca Juga :  Kejar Target Penanganan Penderita Darah Tinggi

Tak jarang, ketika hujan deras, tampias air pun masuk rumah lewat lubang-lubang di dinding. Di rumah berukuran sekitar 4×6 meter itu juga tidak ada kasur.

Sudah15 tahun mereka tinggal di sana. Hanya beralaskan tikar yang menapak tanah untuk beraktivitas dan tidur. Mereka menerima bantuan KIS (kartu Indonesia sehat) tahun lalu. PKH (program keluarga harapan) pun baru dua kali cair.

‘’Pernah ada bantuan perbaikan rumah, karena dulu lubangnya lebih banyak, tapi setelah itu tidak ada lagi,’’ bebernya.

Sehari-hari, keluarga ini mengandalkan nafkah suami yang hanya seorang buruh tani dan kadang serabutan. Itu pun hanya cukup untuk makan dan sekolah.

Saat pandemi, dia sempat membantu jualan jamu. Namun, kini tidak lagi karena tidak ada yang menjaga Bahrul saat ditinggal bekerja. ‘’Kalau bantuan dari desa belum ada, dijenguk pernah,’’ sambungnya.

Bahrul baru diperiksakan di RS Muwardi, Surakarta, 11 November lalu dan keluar 24 November setelah menjalani operasi pertama. Selanjutnya akan kontrol 14 Desember untuk pembersihan jahitan dan mengecek kondisi sebelum operasi kedua.

Ngatinem berharap ada perhatian dan uluran tangan untuk membantu biaya pengobatan anaknya agar segera sembuh dan juga perbaikan rumahnya. ‘’Sejauh ini biaya ditanggung BPJS, butuh sekitar enam sampai tujuh kali operasi lagi hingga sembuh,’’ sebutnya. (mg3/sat)

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Malang nian Bahrul Baqulum. Ukuran kepala bocah tujuh tahun itu tidak sebanding dengan tubuh kecilnya. Anak kedua pasangan suami-istri (pasutri), Mardi-Ngatinem, warga Desa Jatirejo, Wonoasri, itu mengidap hydrocephalus sejak usia dua tahun.

‘’Lewat umur setahun, kejang-kejang dan demam tinggi. Lalu semakin lama kepalanya membesar,’’ tutur Ngatinem, Rabu (7/12).

Mulanya Bahrul hanya diperiksakan di puskesmas setempat setiap kejang atau demam. Namun, karena ukuran kepalanya yang kian membesar, puskesmas menyarankan dirujuk di RSUD Panti Waluyo Caruban. Hasil pemeriksaan dokter, Bahrul dinyatakan mengidap hydrocephalus.

‘’Saat itu diminta dirujuk ke RS lebih besar di Solo. Tapi tidak saya bawa ke sana karena tidak punya biaya untuk operasi,” ungkapnya.

Menurut Ngatinem, sejauh ini hanya mengandalkan kontrol rutin seminggu sekali di puskesmas. Kendati tidak ada riwayat cacat, Bahrul belum bisa berbicara. Penyebabnya, cairan di bagian otak Bahrul menekan pita suaranya. Sehingga, kemampuan bicaranya terganggu.

Bagian tubuh lainnya tidak ada masalah. Pun, Bahrul sangat aktif bergerak layaknya anak seusianya. ‘’Untuk makan juga sulit. Baru bisa operasi 22 November kemarin dengan BPJS kesehatan,’’ imbuhnya.

Kondisi keluarga pasutri ini jauh dari kata cukup secara ekonomi. Tidak ada barang mewah di rumah berdinding kayu dan gedheg (anyaman bambu) yang tidak lagi utuh itu.

Baca Juga :  Kejar Target Penanganan Penderita Darah Tinggi

Tak jarang, ketika hujan deras, tampias air pun masuk rumah lewat lubang-lubang di dinding. Di rumah berukuran sekitar 4×6 meter itu juga tidak ada kasur.

Sudah15 tahun mereka tinggal di sana. Hanya beralaskan tikar yang menapak tanah untuk beraktivitas dan tidur. Mereka menerima bantuan KIS (kartu Indonesia sehat) tahun lalu. PKH (program keluarga harapan) pun baru dua kali cair.

‘’Pernah ada bantuan perbaikan rumah, karena dulu lubangnya lebih banyak, tapi setelah itu tidak ada lagi,’’ bebernya.

Sehari-hari, keluarga ini mengandalkan nafkah suami yang hanya seorang buruh tani dan kadang serabutan. Itu pun hanya cukup untuk makan dan sekolah.

Saat pandemi, dia sempat membantu jualan jamu. Namun, kini tidak lagi karena tidak ada yang menjaga Bahrul saat ditinggal bekerja. ‘’Kalau bantuan dari desa belum ada, dijenguk pernah,’’ sambungnya.

Bahrul baru diperiksakan di RS Muwardi, Surakarta, 11 November lalu dan keluar 24 November setelah menjalani operasi pertama. Selanjutnya akan kontrol 14 Desember untuk pembersihan jahitan dan mengecek kondisi sebelum operasi kedua.

Ngatinem berharap ada perhatian dan uluran tangan untuk membantu biaya pengobatan anaknya agar segera sembuh dan juga perbaikan rumahnya. ‘’Sejauh ini biaya ditanggung BPJS, butuh sekitar enam sampai tujuh kali operasi lagi hingga sembuh,’’ sebutnya. (mg3/sat)

Most Read

Artikel Terbaru