alexametrics
23.8 C
Madiun
Saturday, May 21, 2022

Ekspor Porang dari Madiun ke Tiongkok Macet

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Tidak hanya petani porang di Kabupaten Madiun, wakil rakyat pun resah mendengar kabar macetnya ekspor ke Tiongkok. Karena itu, mereka mendesak pemkab segera menindaklanjuti. ‘’Masalah ini harus cepat dituntaskan,’’ kata Ketua Komisi B DPRD Kabupaten Madiun Wahyu Widayat, Selasa (10/5).

Diketahui, ekspor porang ke Tiongkok tahun ini macet. Negara yang diklaim sebagai pangsa pasar terbesar tanaman bernama ilmiah Amorphophallus muelleri itu menerapkan standardisasi khusus. Termasuk kejelasan seluk-beluk komoditas yang ditandai dengan registrasi lahan. ‘’Kami berharap dinas terkait segera menyelesaikan registrasi lahan yang saat ini sedang berjalan,’’ pintanya.

Wahyu menekankan, standardisasi porang amat penting. Syarat yang ditentukan negara tujuan ekspor merupakan pintu perniagaan salah satu jenis tanaman pala kependhem itu. Sehingga, akan sangat berpengaruh pada harga jualnya. Apalagi, saat ini banyak petani mengeluhkan harga porang yang terus turun. ‘’Maka dari itu, registrasi lahan agar segera diselesaikan supaya harga bisa terkerek karena pangsa pasar luas,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Janda Tipu Lansia, ATM Dikuras Rp 55 Juta

Menurut Wahyu, registrasi lahan porang memang bukan perkara gampang. Berdasarkan data, baru 200-an petani porang yang telah mengantongi sertifikat registrasi lahan. Jumlah tersebut terpaut jauh dari total petani porang di kabupaten ini yang tembus 6.000-an. ‘’Dinas terkait dapat mengerahkan penyuluh pertanian atau yang lain untuk terus aktif dalam pendataan registrasi lahan porang,’’ tegasnya.

Registrasi lahan porang butuh pendataan dan pengecekan kondisi lapangan. Terkait hal itu, Wahyu mewanti-wanti agar tahapan tersebut dilaksanakan dengan baik. Menurut dia, tingkat kesesuaian data dengan kondisi riil di lapangan akan berdampak besar di kemudian hari. ‘’Karena registrasi lahan porang ini penting, sehingga data harus akurat,’’ ungkapnya.

Diketahui, porang bisa dimanfaatkan dalam bentuk umbi maupun katak (benih). Registrasi diperlukan hanya untuk lahan produksi umbi. Petani yang fokus menekuni bibit tidak perlu registrasi. ‘’Kalau untuk pembibitan, yang terpenting sertifikasi pemurnian benih porang varietas Madiun 1,’’ kata Warsito, koordinator pembibitan porang Lestari, Ngranget, Dagangan. (den/c1/sat)

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Tidak hanya petani porang di Kabupaten Madiun, wakil rakyat pun resah mendengar kabar macetnya ekspor ke Tiongkok. Karena itu, mereka mendesak pemkab segera menindaklanjuti. ‘’Masalah ini harus cepat dituntaskan,’’ kata Ketua Komisi B DPRD Kabupaten Madiun Wahyu Widayat, Selasa (10/5).

Diketahui, ekspor porang ke Tiongkok tahun ini macet. Negara yang diklaim sebagai pangsa pasar terbesar tanaman bernama ilmiah Amorphophallus muelleri itu menerapkan standardisasi khusus. Termasuk kejelasan seluk-beluk komoditas yang ditandai dengan registrasi lahan. ‘’Kami berharap dinas terkait segera menyelesaikan registrasi lahan yang saat ini sedang berjalan,’’ pintanya.

Wahyu menekankan, standardisasi porang amat penting. Syarat yang ditentukan negara tujuan ekspor merupakan pintu perniagaan salah satu jenis tanaman pala kependhem itu. Sehingga, akan sangat berpengaruh pada harga jualnya. Apalagi, saat ini banyak petani mengeluhkan harga porang yang terus turun. ‘’Maka dari itu, registrasi lahan agar segera diselesaikan supaya harga bisa terkerek karena pangsa pasar luas,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Dua Rumah Warga di Madiun Rusak Diterjang Banjir

Menurut Wahyu, registrasi lahan porang memang bukan perkara gampang. Berdasarkan data, baru 200-an petani porang yang telah mengantongi sertifikat registrasi lahan. Jumlah tersebut terpaut jauh dari total petani porang di kabupaten ini yang tembus 6.000-an. ‘’Dinas terkait dapat mengerahkan penyuluh pertanian atau yang lain untuk terus aktif dalam pendataan registrasi lahan porang,’’ tegasnya.

Registrasi lahan porang butuh pendataan dan pengecekan kondisi lapangan. Terkait hal itu, Wahyu mewanti-wanti agar tahapan tersebut dilaksanakan dengan baik. Menurut dia, tingkat kesesuaian data dengan kondisi riil di lapangan akan berdampak besar di kemudian hari. ‘’Karena registrasi lahan porang ini penting, sehingga data harus akurat,’’ ungkapnya.

Diketahui, porang bisa dimanfaatkan dalam bentuk umbi maupun katak (benih). Registrasi diperlukan hanya untuk lahan produksi umbi. Petani yang fokus menekuni bibit tidak perlu registrasi. ‘’Kalau untuk pembibitan, yang terpenting sertifikasi pemurnian benih porang varietas Madiun 1,’’ kata Warsito, koordinator pembibitan porang Lestari, Ngranget, Dagangan. (den/c1/sat)

Most Read

Artikel Terbaru

/