alexametrics
29.3 C
Madiun
Thursday, May 12, 2022

Butuh Waktu 4–5 Tahun Tuntaskan Registrasi Lahan Porang

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Pemkab Madiun pesimistis registrasi lahan porang cepat selesai. Sebab, banyak kendala di lapangan. ‘’Baru sedikit yang sudah selesai,’’ kata Sub-Koordinator Tanaman Serealia Bidang Tananam Pangan dan Hortikultura (TPH) Dinas Pertanian dan Perikanan (Disperta) Kabupaten Madiun Solikin, Rabu (11/5).

Kendati demikian, pihaknya tetap berupaya agar urusan ekspor komoditas tanaman pangan bernama ilmiah Amorphopallus muelleri itu lancar kembali. Apalagi registrasi lahan porang merupakan ketentuan dari Tiongkok sebagai negara tujuan ekspor.

Solikin menyebutkan, terdapat 113 checklist pendataan. Sebanyak 70 poin wajib diisi. Namun, pengisian tidak semudah membalik telapak tangan. Ada yang diperlukan tapi jarang dipedulikan petani. Seperti jenis bibit, ukuran bibit, dan ukuran umbi. ‘’Hal-hal seperti itu masuk checklist wajib,’’ ujarnya.

Registrasi lahan porang perlu pendataan detail. Solikin mengakui, pihaknya sulit menyelesaikan syarat itu dalam waktu dekat. Diperkirakan butuh waktu empat sampai lima tahun agar semua beres. Sebab, tahapan budi daya porang dari A sampai Z perlu dicatat.

Itu belum termasuk urusan administrasi yang petani cenderung tidak akrab dengan hal tersebut. ‘’Karena bingung mau menjual ke mana, petani saat ini juga pusing dengan cicilan KUR (kredit usaha rakyat) porang,’’ bebernya.

Baca Juga :  MUS Tak Terpengaruh Level PPKM

Catatan disperta, total terdapat 6.000-an petani porang di Kabupaten Madiun. Dari jumlah tersebut, baru 50 yang sudah mengantongi registrasi lahan. Sebanyak 29 usulan menunggu penyelesaian dan sekitar 200 bakal dilayangkan ke pemprov untuk menyelesaikan registrasi.

Terkait ketimpangan tersebut, Solikin mengklaim bahwa pihaknya telah ambil langkah. Antara lain, koordinasi dengan pengepul untuk membina petani terkait registrasi lahan. ‘’Setidaknya agar petani mempu membuat catatan terkait budi daya porang yang dibutuhkan untuk pendataan checklist itu,’’ tuturnya.

Selain itu, disperta hanya bisa berharap dan mendorong pihak pabrik turut andil. Solikin ambil contoh, pembinaan pabrik saus kepada petani tomat atau cabai. Dia berharap ada kerja sama serupa untuk komoditas porang di Kabupaten Madiun. ‘’Saat ini sudah ada yang seperti itu, tapi hanya sebagian kecil. Cuma satu pabrik,’’ sebutnya. (den/c1/sat)

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Pemkab Madiun pesimistis registrasi lahan porang cepat selesai. Sebab, banyak kendala di lapangan. ‘’Baru sedikit yang sudah selesai,’’ kata Sub-Koordinator Tanaman Serealia Bidang Tananam Pangan dan Hortikultura (TPH) Dinas Pertanian dan Perikanan (Disperta) Kabupaten Madiun Solikin, Rabu (11/5).

Kendati demikian, pihaknya tetap berupaya agar urusan ekspor komoditas tanaman pangan bernama ilmiah Amorphopallus muelleri itu lancar kembali. Apalagi registrasi lahan porang merupakan ketentuan dari Tiongkok sebagai negara tujuan ekspor.

Solikin menyebutkan, terdapat 113 checklist pendataan. Sebanyak 70 poin wajib diisi. Namun, pengisian tidak semudah membalik telapak tangan. Ada yang diperlukan tapi jarang dipedulikan petani. Seperti jenis bibit, ukuran bibit, dan ukuran umbi. ‘’Hal-hal seperti itu masuk checklist wajib,’’ ujarnya.

Registrasi lahan porang perlu pendataan detail. Solikin mengakui, pihaknya sulit menyelesaikan syarat itu dalam waktu dekat. Diperkirakan butuh waktu empat sampai lima tahun agar semua beres. Sebab, tahapan budi daya porang dari A sampai Z perlu dicatat.

Itu belum termasuk urusan administrasi yang petani cenderung tidak akrab dengan hal tersebut. ‘’Karena bingung mau menjual ke mana, petani saat ini juga pusing dengan cicilan KUR (kredit usaha rakyat) porang,’’ bebernya.

Baca Juga :  Rekrutmen CPNS Mandiri Pusingkan Pemkab Madiun

Catatan disperta, total terdapat 6.000-an petani porang di Kabupaten Madiun. Dari jumlah tersebut, baru 50 yang sudah mengantongi registrasi lahan. Sebanyak 29 usulan menunggu penyelesaian dan sekitar 200 bakal dilayangkan ke pemprov untuk menyelesaikan registrasi.

Terkait ketimpangan tersebut, Solikin mengklaim bahwa pihaknya telah ambil langkah. Antara lain, koordinasi dengan pengepul untuk membina petani terkait registrasi lahan. ‘’Setidaknya agar petani mempu membuat catatan terkait budi daya porang yang dibutuhkan untuk pendataan checklist itu,’’ tuturnya.

Selain itu, disperta hanya bisa berharap dan mendorong pihak pabrik turut andil. Solikin ambil contoh, pembinaan pabrik saus kepada petani tomat atau cabai. Dia berharap ada kerja sama serupa untuk komoditas porang di Kabupaten Madiun. ‘’Saat ini sudah ada yang seperti itu, tapi hanya sebagian kecil. Cuma satu pabrik,’’ sebutnya. (den/c1/sat)

Most Read

Artikel Terbaru

/