alexametrics
33.7 C
Madiun
Thursday, September 29, 2022

Diserang Wereng, Puluhan Hektare Tanaman Padi di Madiun Gagal Panen

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Sebagian petani di Kabupaten Madiun harus gigit jari. Pasalnya, tanaman padi mereka gagal panen. Serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) wereng cokelat biangnya. ‘’Ada 38,45 hektare lahan yang terserang dengan berbagai tingkatan pada Agustus ini,’’ kata Koordinator Tingkat Kota/Kabupaten Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (Kortikab POPT) Jawa Timur Waloyo, Jumat (12/8)

Waloyo menyebutkan, per 1 sampai 15 Agustus ini, tercatat 13,28 hektare lahan terkena serangan ringan. Sementara 14,70 hektare sedang dan 10,75 hektare berat. Kondisi tanah yang kurang sehat juga memicu munculnya OPT. Pada tes tanah diketahui pH-nya di bawah standar.

Belum lagi ditambah dampak anomali cuaca kemarau basah yang membuat lahan sawah tergenang air dan saluran irigasi kurang optimal. ‘’Pada periode 16 sampai 31 Juli lalu ada lahan seluas 16,25 hektare terkena serangan gejala berat yang diklaim ke Jasindo,’’ ungkapnya.

Baca Juga :  Seorang Kades Terpilih Positif Covid-19, Bakal Dilantik Bupati Madiun via Zoom

Menurut Waloyo, pihaknya bersama dinas pertanian dan perikanan (disperta) setempat sudah berupaya memberikan alternatif solusi agar gagal panen bisa diantisipasi. Mulai memperbaiki kualitas tanah dengan mengurangi penggunaan pupuk kimia hingga berganti organik.

Juga penjagaan ritme tanam lebih lama sedikit agar pertumbuhan padi maksimal. Sebab, banyak kesalahan petani padi terlalu buru-buru menanam dan memanen. Sehingga, pada masa tanam selanjutnya, tanah belum siap tanam namun sudah ditanami. Akibatnya, padi baru terhambat pertumbuhannya. Hal tersebut memancing OPT muncul dan menyerang tanaman tersebut.

Gagal panen diprediksi akan terjadi kembali jika masih dipertahankan ritme tersebut. Tahun ini, sebut Waloyo, memang berat. Karena serangannya dari iklim dan tanah. Belum lagi semakin berkurangnya jatah pupuk bersubsidi dan penggunaan seadanya. Namun, petani kurang berminat beralih ke organik. ‘’Padahal tanaman saat masa bunting butuh banyak asupan nutrisi selain dari pupuk kimia tersebut,’’ jelasnya. (mg3/c1/sat)

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Sebagian petani di Kabupaten Madiun harus gigit jari. Pasalnya, tanaman padi mereka gagal panen. Serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) wereng cokelat biangnya. ‘’Ada 38,45 hektare lahan yang terserang dengan berbagai tingkatan pada Agustus ini,’’ kata Koordinator Tingkat Kota/Kabupaten Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (Kortikab POPT) Jawa Timur Waloyo, Jumat (12/8)

Waloyo menyebutkan, per 1 sampai 15 Agustus ini, tercatat 13,28 hektare lahan terkena serangan ringan. Sementara 14,70 hektare sedang dan 10,75 hektare berat. Kondisi tanah yang kurang sehat juga memicu munculnya OPT. Pada tes tanah diketahui pH-nya di bawah standar.

Belum lagi ditambah dampak anomali cuaca kemarau basah yang membuat lahan sawah tergenang air dan saluran irigasi kurang optimal. ‘’Pada periode 16 sampai 31 Juli lalu ada lahan seluas 16,25 hektare terkena serangan gejala berat yang diklaim ke Jasindo,’’ ungkapnya.

Baca Juga :  Lima Hari, 29.611 Orang Piknik ke 13 Destinasi Wisata di Madiun

Menurut Waloyo, pihaknya bersama dinas pertanian dan perikanan (disperta) setempat sudah berupaya memberikan alternatif solusi agar gagal panen bisa diantisipasi. Mulai memperbaiki kualitas tanah dengan mengurangi penggunaan pupuk kimia hingga berganti organik.

Juga penjagaan ritme tanam lebih lama sedikit agar pertumbuhan padi maksimal. Sebab, banyak kesalahan petani padi terlalu buru-buru menanam dan memanen. Sehingga, pada masa tanam selanjutnya, tanah belum siap tanam namun sudah ditanami. Akibatnya, padi baru terhambat pertumbuhannya. Hal tersebut memancing OPT muncul dan menyerang tanaman tersebut.

Gagal panen diprediksi akan terjadi kembali jika masih dipertahankan ritme tersebut. Tahun ini, sebut Waloyo, memang berat. Karena serangannya dari iklim dan tanah. Belum lagi semakin berkurangnya jatah pupuk bersubsidi dan penggunaan seadanya. Namun, petani kurang berminat beralih ke organik. ‘’Padahal tanaman saat masa bunting butuh banyak asupan nutrisi selain dari pupuk kimia tersebut,’’ jelasnya. (mg3/c1/sat)

Most Read

Artikel Terbaru

/