alexametrics
29.9 C
Madiun
Friday, May 20, 2022

Pantang Awetkan Ikan dengan Es

SARADAN, Jawa Pos Radar Madiun – Pemandangan ikan air tawar segar dijajakan di pinggir Jalan Madiun-Surabaya, masuk Desa Pajaran, Saradan, sudah jamak. Mulai yang sebesar lengan hingga setelapak tangan. Ikan-ikan yang digantung itu sekali waktu dicelupkan ke seember air lalu dipajang lagi. ‘’Biar tetap segar,’’ kata Paidi, salah seorang penjual ikan, Minggu (13/2).

Ada ikan gabus, wader, bader, lopis, hingga nila. Semua jenis ikan itu hasil tangkapan dari Waduk Bening alias Widas. Bendungan yang tak jauh dari lokasi berjualan pria 46 tahun warga Pajaran tersebut. ‘’Ada yang hasil mancing sendiri, kadang juga beli dari teman yang mancing di waduk,’’ ujarnya.

Belasan tahun sudah Paidi berdagang ikan di tepi jalan kawasan hutan itu. Tak ada timbangan, ikan dijual per ikat. Konsumennya pengendara yang melintas. Omzetnya sehari sekitar Rp 250 ribu-Rp 300 ribu. Ikan gabus yang paling laris. ‘’Gabus alami, petugas waduk biasanya nyebar benih nila atau bader,’’ ungkapnya.

Baca Juga :  Pemdes Kauman-Pemkab Ngawi Lobi Kelola Rumah dr Radjiman Wedyodiningrat

Tak ada kotak es di lapak Paidi. Dia trauma menjual ikan yang diawetkan dengan es. Beberapa kali calon pembeli balik kanan. Sebab, mereka suka ikan yang benar-benar baru ditangkap. ‘’Tidak pakai formalin juga,’’ tegasnya.

Paidi jualan bersama istrinya, Sulasih, yang membuka lapak di seberang jalan. Cara menjajakan ikan-ikan itu cukup sederhana dan khas. Yakni, ikan digantung di ranting yang diikat ke batang pohon. Jika tidak laku, Paidi bakal menjual ikan-ikannya dari pasar ke pasar. Sebab, maksimal sehari semalam harus habis. ‘’Kalau tidak habis, dijual keliling ke pasar besar (Madiun, Red), pasar Klitik, atau pasar sayur (Caruban),’’ terangnya. (den/c1/sat)

SARADAN, Jawa Pos Radar Madiun – Pemandangan ikan air tawar segar dijajakan di pinggir Jalan Madiun-Surabaya, masuk Desa Pajaran, Saradan, sudah jamak. Mulai yang sebesar lengan hingga setelapak tangan. Ikan-ikan yang digantung itu sekali waktu dicelupkan ke seember air lalu dipajang lagi. ‘’Biar tetap segar,’’ kata Paidi, salah seorang penjual ikan, Minggu (13/2).

Ada ikan gabus, wader, bader, lopis, hingga nila. Semua jenis ikan itu hasil tangkapan dari Waduk Bening alias Widas. Bendungan yang tak jauh dari lokasi berjualan pria 46 tahun warga Pajaran tersebut. ‘’Ada yang hasil mancing sendiri, kadang juga beli dari teman yang mancing di waduk,’’ ujarnya.

Belasan tahun sudah Paidi berdagang ikan di tepi jalan kawasan hutan itu. Tak ada timbangan, ikan dijual per ikat. Konsumennya pengendara yang melintas. Omzetnya sehari sekitar Rp 250 ribu-Rp 300 ribu. Ikan gabus yang paling laris. ‘’Gabus alami, petugas waduk biasanya nyebar benih nila atau bader,’’ ungkapnya.

Baca Juga :  Covid-19 Rambah Sekolah, Wiwik: Kalau Bisa Jangan PJJ

Tak ada kotak es di lapak Paidi. Dia trauma menjual ikan yang diawetkan dengan es. Beberapa kali calon pembeli balik kanan. Sebab, mereka suka ikan yang benar-benar baru ditangkap. ‘’Tidak pakai formalin juga,’’ tegasnya.

Paidi jualan bersama istrinya, Sulasih, yang membuka lapak di seberang jalan. Cara menjajakan ikan-ikan itu cukup sederhana dan khas. Yakni, ikan digantung di ranting yang diikat ke batang pohon. Jika tidak laku, Paidi bakal menjual ikan-ikannya dari pasar ke pasar. Sebab, maksimal sehari semalam harus habis. ‘’Kalau tidak habis, dijual keliling ke pasar besar (Madiun, Red), pasar Klitik, atau pasar sayur (Caruban),’’ terangnya. (den/c1/sat)

Most Read

Artikel Terbaru

/