alexametrics
25.8 C
Madiun
Saturday, May 14, 2022

Simbol Toleransi sang Kiai, Bangun Tempat Ibadah Lima Agama di Madiun

BALEREJO, Jawa Pos Radar Madiun – Desa Bulakrejo, Balerejo, sejak beberapa bulan terakhir ramai dikunjungi warga berbagai daerah. Itu tidak terlepas dari keberadaan bangunan tempat ibadah lima agama –masjid, gereja, pura, wihara, dan kelenteng- di kompleks kediaman mendiang Kiai Aly Mursyid di desa setempat.

Slamet Riyadi, seorang pedagang di kompleks tersebut, mengatakan bahwa Aly Mursyid dulu kerap didatangi warga untuk berobat. Mereka memiliki berbagai latar belakang agama. ‘’Banyak yang sembuh sehingga makin hari makin ramai,’’ ujarnya Minggu (13/2).

Sikap toleransi akhirnya oleh Aly Mursyid diwujudkan dengan membangun tempat ibadah lima agama di kompleks kediamannya. Pembangunan dimulai pada awal 1990 secara bertahap. ”Terlebih dahulu kolam, rumah, baru lima tempat ibadah itu,’’ ungkap Kamto, salah seorang pekerja di kompleks tersebut.

Baca Juga :  KKN Mahasiswa Terhenti, Rektor Unipma Pastikan Tetap Masuk Hitungan Akademik

Pada 2007, lanjut Kamto, Kiai Mursyid wafat. Sebelum berpulang, sang kiai berwasiat kepada Ali Muslih, keponakannya, agar dimakamkan di halaman depan rumahnya yang dikelilingi bangunan rumah ibadah lima agama tersebut. ”Kiai Mursyid tidak menikah sampai akhir hayatnya sehingga tidak memiliki keturunan,” tutur Kamto.

Sejak itulah bangunan tempat ibadah lima agama tersebut maupun makam Kiai Aly Mursyid dikunjungi banyak peziarah dari berbagai daerah. ”Sejak dimakamkan di sini, keluarga sepakat  memfungsikan sebagai tempat wisata religi. Tidak ada unsur bisnis di dalamnya,’’ tegasnya.

Selama ini pihak keluarga tidak menarik biaya tiket masuk. Pengunjung hanya dikenai ongkos parkir Rp 2.000 untuk sepeda motor dan Rp 5.000 untuk kendaraan roda empat. (tr2/c1/isd/her)

BALEREJO, Jawa Pos Radar Madiun – Desa Bulakrejo, Balerejo, sejak beberapa bulan terakhir ramai dikunjungi warga berbagai daerah. Itu tidak terlepas dari keberadaan bangunan tempat ibadah lima agama –masjid, gereja, pura, wihara, dan kelenteng- di kompleks kediaman mendiang Kiai Aly Mursyid di desa setempat.

Slamet Riyadi, seorang pedagang di kompleks tersebut, mengatakan bahwa Aly Mursyid dulu kerap didatangi warga untuk berobat. Mereka memiliki berbagai latar belakang agama. ‘’Banyak yang sembuh sehingga makin hari makin ramai,’’ ujarnya Minggu (13/2).

Sikap toleransi akhirnya oleh Aly Mursyid diwujudkan dengan membangun tempat ibadah lima agama di kompleks kediamannya. Pembangunan dimulai pada awal 1990 secara bertahap. ”Terlebih dahulu kolam, rumah, baru lima tempat ibadah itu,’’ ungkap Kamto, salah seorang pekerja di kompleks tersebut.

Baca Juga :  GP Ansor Madiun Laporkan Dugaan Penyebar Berita Bohong Soal SE Menag

Pada 2007, lanjut Kamto, Kiai Mursyid wafat. Sebelum berpulang, sang kiai berwasiat kepada Ali Muslih, keponakannya, agar dimakamkan di halaman depan rumahnya yang dikelilingi bangunan rumah ibadah lima agama tersebut. ”Kiai Mursyid tidak menikah sampai akhir hayatnya sehingga tidak memiliki keturunan,” tutur Kamto.

Sejak itulah bangunan tempat ibadah lima agama tersebut maupun makam Kiai Aly Mursyid dikunjungi banyak peziarah dari berbagai daerah. ”Sejak dimakamkan di sini, keluarga sepakat  memfungsikan sebagai tempat wisata religi. Tidak ada unsur bisnis di dalamnya,’’ tegasnya.

Selama ini pihak keluarga tidak menarik biaya tiket masuk. Pengunjung hanya dikenai ongkos parkir Rp 2.000 untuk sepeda motor dan Rp 5.000 untuk kendaraan roda empat. (tr2/c1/isd/her)

Most Read

Artikel Terbaru

/