alexametrics
27.3 C
Madiun
Saturday, May 21, 2022

Pencinta Sejarah Ungkap Perkembangan Islam di Kabupaten Madiun

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Tokoh yang kali pertama menyebarkan agama Islam di wilayah Kabupaten Madiun disebut-sebut berasal dari Banten. Oleh warga lokal, tokoh tersebut lebih dikenal dengan sebutan Eyang Ngasik. ‘’Beliau (Eyang Ngasik, Red) datang pada 1707 di era Sultan Agung,’’ kata Ketua Kompas Madya Septian Dwita Kharisma kemarin (12/4).

Septian melontarkan hal itu dalam diskusi yang dikemas dalam acara bertajuk Blusukan Ngabuburit di kompleks Masjid Eyang Muhammad Ngasik, Desa Sukosari, Kecamatan Dagangan. Peserta diskusi sekitar 30 orang dari berbagai kalangan. Mulai keturunan Eyang Ngasik, takmir masjid, warga setempat, hingga beberapa elemen lainnya.

Selain diskusi, agenda tersebut juga diwarnai blusukan ke kompleks makam Eyang Ngasik. Di sana peserta mendengarkan cerita dari keturunan tokoh tersebut. Selain itu, meneliti arsitektur masjid dan makam yang dihiasi beberapa tulisan dengan aksara Jawa kuno. ”Alhamdulillah, semua narasumber bisa hadir,’’ ujarnya.

Baca Juga :  PMI Asal Madiun yang Bekerja di Hongkong Meninggal Usai Divaksin Booster

Kendati demikian, lanjut Septian, hasil diskusi kali ini belum mampu menguak secara benderang sejarah persebaran agama Islam di Kabupaten Madiun di masa lampau. Karena itu, pihaknya akan mengadakan kegiatan lanjutan dengan narasumber berbeda serta penelitian yang lebih mendalam. (tr2/c1/isd)

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Tokoh yang kali pertama menyebarkan agama Islam di wilayah Kabupaten Madiun disebut-sebut berasal dari Banten. Oleh warga lokal, tokoh tersebut lebih dikenal dengan sebutan Eyang Ngasik. ‘’Beliau (Eyang Ngasik, Red) datang pada 1707 di era Sultan Agung,’’ kata Ketua Kompas Madya Septian Dwita Kharisma kemarin (12/4).

Septian melontarkan hal itu dalam diskusi yang dikemas dalam acara bertajuk Blusukan Ngabuburit di kompleks Masjid Eyang Muhammad Ngasik, Desa Sukosari, Kecamatan Dagangan. Peserta diskusi sekitar 30 orang dari berbagai kalangan. Mulai keturunan Eyang Ngasik, takmir masjid, warga setempat, hingga beberapa elemen lainnya.

Selain diskusi, agenda tersebut juga diwarnai blusukan ke kompleks makam Eyang Ngasik. Di sana peserta mendengarkan cerita dari keturunan tokoh tersebut. Selain itu, meneliti arsitektur masjid dan makam yang dihiasi beberapa tulisan dengan aksara Jawa kuno. ”Alhamdulillah, semua narasumber bisa hadir,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Lama Tak Terpakai, Mesin ADM Dispendukcapil Kabupaten Madiun Rusak

Kendati demikian, lanjut Septian, hasil diskusi kali ini belum mampu menguak secara benderang sejarah persebaran agama Islam di Kabupaten Madiun di masa lampau. Karena itu, pihaknya akan mengadakan kegiatan lanjutan dengan narasumber berbeda serta penelitian yang lebih mendalam. (tr2/c1/isd)

Most Read

Artikel Terbaru

/