alexametrics
24.1 C
Madiun
Monday, July 4, 2022

4 Kera Ekor Panjang Diamankan Petugas BKSDA

MADIUN – Sri Lestari kini tak bisa lagi memandangi tingkah polah empat ekor monyet jenis ekor panjang yang dipiaranya sejak 10 tahun lalu. Binatang peliharaan warga Desa Rejosari, Sawahan, itu diamankan petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Wilayah 1 Madiun kemarin (14/2).

Langkah BKSDA itu dilakukan setelah dua monyet piaraan Sri lepas dan meresahkan warga setempat. ‘’Saya ikhlas, ketimbang terus kepikiran,’’ kata Sri ketika ditanya perasaannya kehilangan binatang peliharaannya.

Monyet bernama latin Macaca fascicularis itu sebetulnya bukan jenis binatang dilindungi. Namun, karena ditangani petugas BKSDA, Sri tidak keberatan untuk dibawa setelah berhasil diamankan. Dia tidak ingin terbebani keluhan warga bila sewaktu-waktu terlepas kembali, meski monyet itu terbilang jinak.

Dia menyebut, monyet piaraannya tidak menyakiti bila tak ada yang mengganggu. Sejumlah bocah tetangga pun sering datang dan melihat tingkah polahnya yang lucu. ‘’Waktu terlepas hanya berkeliaran. Kadang naik atap rumah warga dan minum kopi sisa pengunjung warung,’’ terangnya.

Sri mengungkapkan, empat ekor monyet itu merupakan satu keluarga. Terdiri dua induk dan dua anak. Mereka tinggal di satu kandang berukuran panjang dan tinggi 3 meter serta lebar 1 meter. Induk jantan dan seekor anak terlepas Senin lalu (11/2).

Berawal ketika melepaskan botol mineral yang tersangkut pada tangan salah satu anak kera. Namun, upaya itu malah dikira menyakiti. ‘’Waktu pintu kandang saya buka, yang bapaknya langsung menyerang. Keduanya lantas kabur,’’ bebernya sembari menyebut petugas BKSDA langsung dihubungi diminta menangkap.

Baca Juga :  Kusyuk Panjatkan Doa untuk Mendiang Kadinkes

Kepala Resort 05 Madiun BKSDA Jatim Suparni mengatakan, butuh waktu enam jam untuk menangkap dua ekor monyet itu karena saking gesitnya. Enam orang yang dilibatkan harus bersusah payah membuat jebakan makanan. Kedua kera yang dibeli dari tepi hutan Ngawi itu akhirnya berhasil ditangkap sekitar 300-an meter dan 100 meter dari rumah Sri. ‘’Monyet-monyet itu hanya berlarian di pinggir rumah warga,’’ ujarnya.

Suparni menyebut, dua ekor monyet yang tersisa di kandang juga ikut diamankan di BKSDA Wilayah 1 Madiun di Mojopurno, Wungu. Karena tidak ada tempat, monyet tersebut bakal dikirim ke BKSDA Surabaya untuk dikarantina.

Tawaran ke sejumlah lembaga konservasi seperti Madiun Umbul Square dan Banyu Biru Magetan pun ditolak karena sudah tidak bisa menampung. ‘’Populasi monyet ekor panjang ini masih tinggi. Selain hutan Ngawi, banyak dijumpai di Gunung Lawu dan Wilis,’’ terangnya.

Dia membenarkan bahwa monyet ekor panjang bukan termasuk hewan dilindungi. Pun Sri tidak dikategorikan melakukan pelanggaran karena pemeliharaannya bukan untuk kepentingan mengeruk uang semisal topeng monyet. ‘’Karena berdasar permintaan pemilik, kami bersedia mengamankan dengan proses serah terima,’’ tuturnya. (cor/c1/isd)

MADIUN – Sri Lestari kini tak bisa lagi memandangi tingkah polah empat ekor monyet jenis ekor panjang yang dipiaranya sejak 10 tahun lalu. Binatang peliharaan warga Desa Rejosari, Sawahan, itu diamankan petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Wilayah 1 Madiun kemarin (14/2).

Langkah BKSDA itu dilakukan setelah dua monyet piaraan Sri lepas dan meresahkan warga setempat. ‘’Saya ikhlas, ketimbang terus kepikiran,’’ kata Sri ketika ditanya perasaannya kehilangan binatang peliharaannya.

Monyet bernama latin Macaca fascicularis itu sebetulnya bukan jenis binatang dilindungi. Namun, karena ditangani petugas BKSDA, Sri tidak keberatan untuk dibawa setelah berhasil diamankan. Dia tidak ingin terbebani keluhan warga bila sewaktu-waktu terlepas kembali, meski monyet itu terbilang jinak.

Dia menyebut, monyet piaraannya tidak menyakiti bila tak ada yang mengganggu. Sejumlah bocah tetangga pun sering datang dan melihat tingkah polahnya yang lucu. ‘’Waktu terlepas hanya berkeliaran. Kadang naik atap rumah warga dan minum kopi sisa pengunjung warung,’’ terangnya.

Sri mengungkapkan, empat ekor monyet itu merupakan satu keluarga. Terdiri dua induk dan dua anak. Mereka tinggal di satu kandang berukuran panjang dan tinggi 3 meter serta lebar 1 meter. Induk jantan dan seekor anak terlepas Senin lalu (11/2).

Berawal ketika melepaskan botol mineral yang tersangkut pada tangan salah satu anak kera. Namun, upaya itu malah dikira menyakiti. ‘’Waktu pintu kandang saya buka, yang bapaknya langsung menyerang. Keduanya lantas kabur,’’ bebernya sembari menyebut petugas BKSDA langsung dihubungi diminta menangkap.

Baca Juga :  PROYEK RTH: Duit Ada, Bupati Belum Memilih

Kepala Resort 05 Madiun BKSDA Jatim Suparni mengatakan, butuh waktu enam jam untuk menangkap dua ekor monyet itu karena saking gesitnya. Enam orang yang dilibatkan harus bersusah payah membuat jebakan makanan. Kedua kera yang dibeli dari tepi hutan Ngawi itu akhirnya berhasil ditangkap sekitar 300-an meter dan 100 meter dari rumah Sri. ‘’Monyet-monyet itu hanya berlarian di pinggir rumah warga,’’ ujarnya.

Suparni menyebut, dua ekor monyet yang tersisa di kandang juga ikut diamankan di BKSDA Wilayah 1 Madiun di Mojopurno, Wungu. Karena tidak ada tempat, monyet tersebut bakal dikirim ke BKSDA Surabaya untuk dikarantina.

Tawaran ke sejumlah lembaga konservasi seperti Madiun Umbul Square dan Banyu Biru Magetan pun ditolak karena sudah tidak bisa menampung. ‘’Populasi monyet ekor panjang ini masih tinggi. Selain hutan Ngawi, banyak dijumpai di Gunung Lawu dan Wilis,’’ terangnya.

Dia membenarkan bahwa monyet ekor panjang bukan termasuk hewan dilindungi. Pun Sri tidak dikategorikan melakukan pelanggaran karena pemeliharaannya bukan untuk kepentingan mengeruk uang semisal topeng monyet. ‘’Karena berdasar permintaan pemilik, kami bersedia mengamankan dengan proses serah terima,’’ tuturnya. (cor/c1/isd)

Most Read

Artikel Terbaru

/