alexametrics
31.1 C
Madiun
Wednesday, May 25, 2022

Waspadai Ancaman Luapan Lima Sungai di Madiun

JIWAN, Jawa Pos Radar Madiun – Ancaman bencana hidrometeorologi belum pergi. Bersamaan peralihan musim, potensi sejumlah bencana alam dalam dua pekan ke depan diprediksi meningkat. ‘’Saat ini sudah pancaroba, jadi harus lebih waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi,’’ kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Madiun Muhamad Zahrowi, Kamis (17/3).

Zahrowi mengungkapkan, bencana hidrometeorologi yang berpotensi terjadi di Kabupaten Madiun yakni banjir, puting beliung, dan tanah longsor. Dari tiga jenis bencana alam itu, banjir paling mendominasi. ‘’Salah satu faktor utama penyebab bencana-bencana itu adalah curah hujan tinggi,’’ ujarnya.

Dia menyebutkan, sejumlah wilayah menyandang status langganan banjir. Salah satunya Desa Ngadirejo, Wonoasri, yang pekan lalu tergenang. Sementara, lima sungai rawan meluap saat curah hujan tinggi. Yakni, Kali Munggir, Bener, Kedungrejo, Setren, dan Glonggong (selengkapnya lihat grafis). ‘’Maret ini bisa dibilang puncak potensi bencana hidrometeorologi. Hujan yang terjadi sering disertai angin karena faktor pergantian musim,’’ tuturnya.

Baca Juga :  Bangunan Jembatan Baru Klumutan Butuh Rp 12 M

Angin kencang dan puting beliung juga berpotensi terjadi di semua wilayah di Kabupaten Madiun saat pancaroba. Namun, sejumlah kawasan masuk kategori rawan. ‘’Ada lima kecamatan rawan berdasarkan bencana yang terjadi sebelumnya. Yaitu, Balerejo, Sawahan, Gemarang, Saradan, dan Wonoasri,’’ sebut Zahrowi.

Karena itu, dia mewanti-wanti masyarakat di semua wilayah Kabupaten Madiun meningkatkan kewaspadaan. ‘’Berbagai upaya dan persiapan telah kami lakukan seperti mitigasi bencana. Untuk penanganan pascabencana, semua pemerintah desa punya anggaran untuk itu,’’ pungkasnya. (den/c1/isd/her)

JIWAN, Jawa Pos Radar Madiun – Ancaman bencana hidrometeorologi belum pergi. Bersamaan peralihan musim, potensi sejumlah bencana alam dalam dua pekan ke depan diprediksi meningkat. ‘’Saat ini sudah pancaroba, jadi harus lebih waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi,’’ kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Madiun Muhamad Zahrowi, Kamis (17/3).

Zahrowi mengungkapkan, bencana hidrometeorologi yang berpotensi terjadi di Kabupaten Madiun yakni banjir, puting beliung, dan tanah longsor. Dari tiga jenis bencana alam itu, banjir paling mendominasi. ‘’Salah satu faktor utama penyebab bencana-bencana itu adalah curah hujan tinggi,’’ ujarnya.

Dia menyebutkan, sejumlah wilayah menyandang status langganan banjir. Salah satunya Desa Ngadirejo, Wonoasri, yang pekan lalu tergenang. Sementara, lima sungai rawan meluap saat curah hujan tinggi. Yakni, Kali Munggir, Bener, Kedungrejo, Setren, dan Glonggong (selengkapnya lihat grafis). ‘’Maret ini bisa dibilang puncak potensi bencana hidrometeorologi. Hujan yang terjadi sering disertai angin karena faktor pergantian musim,’’ tuturnya.

Baca Juga :  Pembeli Rumah KPR Didominasi Kaum Milenial

Angin kencang dan puting beliung juga berpotensi terjadi di semua wilayah di Kabupaten Madiun saat pancaroba. Namun, sejumlah kawasan masuk kategori rawan. ‘’Ada lima kecamatan rawan berdasarkan bencana yang terjadi sebelumnya. Yaitu, Balerejo, Sawahan, Gemarang, Saradan, dan Wonoasri,’’ sebut Zahrowi.

Karena itu, dia mewanti-wanti masyarakat di semua wilayah Kabupaten Madiun meningkatkan kewaspadaan. ‘’Berbagai upaya dan persiapan telah kami lakukan seperti mitigasi bencana. Untuk penanganan pascabencana, semua pemerintah desa punya anggaran untuk itu,’’ pungkasnya. (den/c1/isd/her)

Most Read

Artikel Terbaru

/