alexametrics
23.6 C
Madiun
Thursday, May 26, 2022

Migor Curah Menghilang dari Pasaran, Kemasan Menumpuk

MEJAYAN, Jawa Pos Radar Madiun – Upaya pemerintah menjaga ketersediaan dan kestabilan harga minyak goreng (migor) gagal total. Penerapan harga eceran tertinggi (HET) maupun gelontoran operasi pasar besar-besaran terkesan sia-sia. Bahkan, saat ini harganya dikembalikan ke mekanisme pasar.

Ujung-ujungnya kelangkaan dan kenaikan harga migor tak terkendali. Di Pasar Caruban Baru (PCB), misalnya. Harga salah satu kebutuhan dapur itu kembali naik. Pun, stok migor curah menghilang. ‘’Minggu ini tidak ada barang,’’ kata Tri Wulan, seorang pedagang migor curah pasar setempat, Jumat (18/3).

Drum penampung migor curah Tri kosong sejak beberapa hari terakhir lantaran tidak ada kiriman. Tri tak tahu-menahu penyebabnya. Padahal, migor curah biasa dikirim sepekan sekali. ‘’Mungkin karena ada subsidi akhir-akhir ini. Harga murah, barang jadi ndak ada,’’ duga perempuan 52 tahun itu.

Tri semakin repot menyikapi protes pelanggannya. Sebab, harga migor kemasan juga naik gila-gilaan. Buntut kebijakan pemerintah pusat melepas aturan satu harga (HET) yang diberlakukan mulai Februari lalu. ‘’Pembeli carinya curah, karena kemasan lebih mahal,’’ ungkapnya.

Saat ini harga migor kemasan Rp 280 ribu per karton. Naik signifikan dibanding sebelumnya Rp 156 ribu. Harga eceran yang  dulu Rp 14 ribu kini menjadi Rp 24 ribu per liter. Itu pun saat ini tidak ada stok. ‘’Habis juga yang kemasan, seminggu dijatah satu karton dari sales,’’ bebernya.

Baca Juga :  Antisipasi Kelangkaan Migor, Pemkab Magetan Terus-terusan Gelar Operasi Pasar

Sri Wahyuningsih, seorang pengunjung PCB, mengurungkan niatnya membeli migor. Selain karena harga kelewat mahal, dia masih punya persediaan di rumah. Dia hanya berharap harga migor tidak semahal saat ini. ‘’Sebenarnya memberatkan, tapi ya tetap beli kalau sudah nggak punya nanti,’’ katanya.

Kabid Perdagangan Dinas Perdagangan, Koperasi, dan Usaha Mikro (Disperdagkop-UM) Kabupaten Madiun Toni Eko Prasetyo mengklaim tidak ada kenaikan harga migor kemasan. Menurut dia, migor kemasan sederhana maupun premium kembali ke harga ekonomi. ‘’Kalau migor curah, pusat menaikkan HET menjadi Rp 14 ribu per liter,’’ ungkapnya.

Soal hilangnya migor curah di pasaran, Toni heran. Padahal, peningkatan HET migor curah cukup menguntungkan produsen maupun distributor. Sehingga, diasumsikan ketersediaan dan penyaluran akan lebih lancar. ‘’Sesegera mungkin akan kami cek ke pihak terkait untuk memastikan penyebabnya,’’ ujarnya. (den/c1/sat/her)

MEJAYAN, Jawa Pos Radar Madiun – Upaya pemerintah menjaga ketersediaan dan kestabilan harga minyak goreng (migor) gagal total. Penerapan harga eceran tertinggi (HET) maupun gelontoran operasi pasar besar-besaran terkesan sia-sia. Bahkan, saat ini harganya dikembalikan ke mekanisme pasar.

Ujung-ujungnya kelangkaan dan kenaikan harga migor tak terkendali. Di Pasar Caruban Baru (PCB), misalnya. Harga salah satu kebutuhan dapur itu kembali naik. Pun, stok migor curah menghilang. ‘’Minggu ini tidak ada barang,’’ kata Tri Wulan, seorang pedagang migor curah pasar setempat, Jumat (18/3).

Drum penampung migor curah Tri kosong sejak beberapa hari terakhir lantaran tidak ada kiriman. Tri tak tahu-menahu penyebabnya. Padahal, migor curah biasa dikirim sepekan sekali. ‘’Mungkin karena ada subsidi akhir-akhir ini. Harga murah, barang jadi ndak ada,’’ duga perempuan 52 tahun itu.

Tri semakin repot menyikapi protes pelanggannya. Sebab, harga migor kemasan juga naik gila-gilaan. Buntut kebijakan pemerintah pusat melepas aturan satu harga (HET) yang diberlakukan mulai Februari lalu. ‘’Pembeli carinya curah, karena kemasan lebih mahal,’’ ungkapnya.

Saat ini harga migor kemasan Rp 280 ribu per karton. Naik signifikan dibanding sebelumnya Rp 156 ribu. Harga eceran yang  dulu Rp 14 ribu kini menjadi Rp 24 ribu per liter. Itu pun saat ini tidak ada stok. ‘’Habis juga yang kemasan, seminggu dijatah satu karton dari sales,’’ bebernya.

Baca Juga :  Vaksinasi Warga Diiming-imingi Minyak Goreng

Sri Wahyuningsih, seorang pengunjung PCB, mengurungkan niatnya membeli migor. Selain karena harga kelewat mahal, dia masih punya persediaan di rumah. Dia hanya berharap harga migor tidak semahal saat ini. ‘’Sebenarnya memberatkan, tapi ya tetap beli kalau sudah nggak punya nanti,’’ katanya.

Kabid Perdagangan Dinas Perdagangan, Koperasi, dan Usaha Mikro (Disperdagkop-UM) Kabupaten Madiun Toni Eko Prasetyo mengklaim tidak ada kenaikan harga migor kemasan. Menurut dia, migor kemasan sederhana maupun premium kembali ke harga ekonomi. ‘’Kalau migor curah, pusat menaikkan HET menjadi Rp 14 ribu per liter,’’ ungkapnya.

Soal hilangnya migor curah di pasaran, Toni heran. Padahal, peningkatan HET migor curah cukup menguntungkan produsen maupun distributor. Sehingga, diasumsikan ketersediaan dan penyaluran akan lebih lancar. ‘’Sesegera mungkin akan kami cek ke pihak terkait untuk memastikan penyebabnya,’’ ujarnya. (den/c1/sat/her)

Most Read

Artikel Terbaru

/