alexametrics
25.6 C
Madiun
Tuesday, May 24, 2022

Mahal tapi Ada, Murah tapi Langka

DOLOPO, Jawa Pos Radar Madiun  – Kabar akan adanya bantuan minyak goreng (migor) murah tidak serta-merta membuat semua pelaku usaha mikro (UM) di Kabupaten Madiun gembira. Sebaliknya, sebagian besar dari mereka mengeluh. Sebab, syaratnya mereka wajib mengantongi nomor induk berusaha (NIB) dan nomor pokok wajib pajak (NPWP).

Faktanya, banyak pelaku UM yang belum memilikinya. Apalagi, pelaku UM sepuh. Mereka gagap dengan perkembangan teknologi dan regulasi. Sehingga, mereka memilih membeli migor di pasaran meski harganya mahal. Daripada murah tetapi syarat bikin susah. ‘’Migor itu bahan pokok yang harus ada, soal harga bisa dinego,’’ kata Endang Susilawati, pengusaha makaroni di Dolopo, Sabtu (19/2).

Sejak sepuluh hari lalu usahanya tidak berproduksi lantaran kelangkaan migor. Dia pun terpaksa merumahkan pekerjanya sementara waktu. Pun, tidak dapat memenuhi permintaan distributor. Untuk produksi dia memerlukan 40 liter migor per hari. Terakhir dia hanya mendapat dua liter migor. ‘’Tidak ada migor sama sekali,’’ keluhnya.

Baca Juga :  10 Bakal CPNS Gagal Pemberkasan

Dampak luar biasa tersebut membuat Endang berpikir dua kali untuk melanjutkan usahanya. Jika kondisi seperti ini terus berlanjut, dia berencana menutup beberapa gerainya serta mengurangi produksi. Dia berharap distribusi migor dipermudah agar dapat berproduksi lagi. ‘’Ketersediaan migor harus kontinu,’’ ujarnya.

Endang dapat dikategorikan pengusaha menengah. Pelaku UM seperti Sugeng, pedagang gorengan di Pasar Dolopo, juga mengalami kesulitan yang sama. Kendati pelanggannya justru meningkat. Itu lantaran mereka enggan goreng-goreng sendiri. ‘’Kami kesulitan berproduksi karena migor langka, padahal permintaan bertambah,’’ tuturnya.

Meskipun begitu, dia tetap optimistis untuk melanjutkan usahanya. Pun, tetap mematok harga gorengannya sama dengan sebelum migor langka. Namun, jika harga migor terus melonjak, dia berencana menaikkan harga gorengannya. ‘’Lebih baik mahal tapi ada, daripada murah tapi langka,’’ sebutnya. (tr2/c1/sat/her)

DOLOPO, Jawa Pos Radar Madiun  – Kabar akan adanya bantuan minyak goreng (migor) murah tidak serta-merta membuat semua pelaku usaha mikro (UM) di Kabupaten Madiun gembira. Sebaliknya, sebagian besar dari mereka mengeluh. Sebab, syaratnya mereka wajib mengantongi nomor induk berusaha (NIB) dan nomor pokok wajib pajak (NPWP).

Faktanya, banyak pelaku UM yang belum memilikinya. Apalagi, pelaku UM sepuh. Mereka gagap dengan perkembangan teknologi dan regulasi. Sehingga, mereka memilih membeli migor di pasaran meski harganya mahal. Daripada murah tetapi syarat bikin susah. ‘’Migor itu bahan pokok yang harus ada, soal harga bisa dinego,’’ kata Endang Susilawati, pengusaha makaroni di Dolopo, Sabtu (19/2).

Sejak sepuluh hari lalu usahanya tidak berproduksi lantaran kelangkaan migor. Dia pun terpaksa merumahkan pekerjanya sementara waktu. Pun, tidak dapat memenuhi permintaan distributor. Untuk produksi dia memerlukan 40 liter migor per hari. Terakhir dia hanya mendapat dua liter migor. ‘’Tidak ada migor sama sekali,’’ keluhnya.

Baca Juga :  Ribuan Balita di Kabupaten Madiun Alami Stunting

Dampak luar biasa tersebut membuat Endang berpikir dua kali untuk melanjutkan usahanya. Jika kondisi seperti ini terus berlanjut, dia berencana menutup beberapa gerainya serta mengurangi produksi. Dia berharap distribusi migor dipermudah agar dapat berproduksi lagi. ‘’Ketersediaan migor harus kontinu,’’ ujarnya.

Endang dapat dikategorikan pengusaha menengah. Pelaku UM seperti Sugeng, pedagang gorengan di Pasar Dolopo, juga mengalami kesulitan yang sama. Kendati pelanggannya justru meningkat. Itu lantaran mereka enggan goreng-goreng sendiri. ‘’Kami kesulitan berproduksi karena migor langka, padahal permintaan bertambah,’’ tuturnya.

Meskipun begitu, dia tetap optimistis untuk melanjutkan usahanya. Pun, tetap mematok harga gorengannya sama dengan sebelum migor langka. Namun, jika harga migor terus melonjak, dia berencana menaikkan harga gorengannya. ‘’Lebih baik mahal tapi ada, daripada murah tapi langka,’’ sebutnya. (tr2/c1/sat/her)

Most Read

Artikel Terbaru

/