alexametrics
23.8 C
Madiun
Saturday, July 2, 2022

Pemkab Madiun Tolak Sapi dari Daerah Endemik PMK

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Peribahasa itu tepat untuk menggambarkan dampak ekonomi di balik mewabahnya penyakit mulut dan kuku (PMK) pada hewan ternak. ‘’Antisipasi efek ekonominya yang sulit,’’ kata Bupati Madiun Ahmad Dawami, Kamis (19/5).

Diketahui, dampak terburuk hewan ternak yang terjangkit PMK adalah kematian. Kalau sudah begitu, peternak bakal buntung. Karena itu, dampak ekonomi ini tidak boleh dipandang sebelah mata. Mengingat PMK cepat menular. ‘’Kalau ditemukan sekali saja, kita (Kabupaten Madiun, Red.) tidak bisa menjual ke luar (daerah, Red.),’’ ungkap Kaji Mbing, sapaan bupati.

Memang, menurut Kaji Mbing, hingga saat ini tidak ditemukan kasus PMK di Kabupaten Madiun. Kendati demikian, berbagai upaya antisipasi tetap dilakukan. Mulai monitor lapangan di sejumlah pasar hewan sampai pemaksimalan petugas kesehatan hewan.  ‘’Kami juga sudah petakan daerah-daerah endemik terkait penyakit ini,’’ sambungnya.

Salah satunya di daerah tetangga, Magetan. Sehingga, hewan ternak dari wilayah ini tidak boleh masuk Kabupaten Madiun. ‘’Bersama polres, lalu lintas hewan ternak diantisipasi. Sudah ada petugas di titik-titik perlintasan,’’ ungkapnya.

Baca Juga :  Jatah Pupuk Subsidi Kabupaten Madiun Habis Agustus

Ada tujuh pasar hewan di kabupaten ini. Empat pasar daerah dan tiga pasar desa. Kaji Mbing memastikan pasar-pasar tersebut tetap buka saat ini. Namun demikian, langkah tegas bakal segera diambil jika ditemukan kasus PMK. ‘’Pasar-pasar hewan dikendalikan dinas terkait. Kalau ditemukan (PMK), otomatis pasar ditutup,’’ ujarnya.

Berbagai upaya itu dilakukan agar tidak ada pihak yang dirugikan. Terutamanya, peternak. Untuk itu, lanjut dia, upaya antisipasi bakal dimaksimalkan. Pun berharap peternak turut serta. Mulai menjaga kebersihan kandang, asupan gizi ternak, sampai tidak menjual dan segera lapor ke dokter hewan saat ada indikasi PMK pada ternak. Misal, kaki pincang dan muncul luka pada rongga mulut. ‘’Yang terpenting saat ini masyarakat tetap tenang, tidak usah panik, dan tetap waspada,’’ pintanya. (den/sat)

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Peribahasa itu tepat untuk menggambarkan dampak ekonomi di balik mewabahnya penyakit mulut dan kuku (PMK) pada hewan ternak. ‘’Antisipasi efek ekonominya yang sulit,’’ kata Bupati Madiun Ahmad Dawami, Kamis (19/5).

Diketahui, dampak terburuk hewan ternak yang terjangkit PMK adalah kematian. Kalau sudah begitu, peternak bakal buntung. Karena itu, dampak ekonomi ini tidak boleh dipandang sebelah mata. Mengingat PMK cepat menular. ‘’Kalau ditemukan sekali saja, kita (Kabupaten Madiun, Red.) tidak bisa menjual ke luar (daerah, Red.),’’ ungkap Kaji Mbing, sapaan bupati.

Memang, menurut Kaji Mbing, hingga saat ini tidak ditemukan kasus PMK di Kabupaten Madiun. Kendati demikian, berbagai upaya antisipasi tetap dilakukan. Mulai monitor lapangan di sejumlah pasar hewan sampai pemaksimalan petugas kesehatan hewan.  ‘’Kami juga sudah petakan daerah-daerah endemik terkait penyakit ini,’’ sambungnya.

Salah satunya di daerah tetangga, Magetan. Sehingga, hewan ternak dari wilayah ini tidak boleh masuk Kabupaten Madiun. ‘’Bersama polres, lalu lintas hewan ternak diantisipasi. Sudah ada petugas di titik-titik perlintasan,’’ ungkapnya.

Baca Juga :  Empat Atlet Pencak Silat Kabupaten Madiun Lolos ke Porprov 2022

Ada tujuh pasar hewan di kabupaten ini. Empat pasar daerah dan tiga pasar desa. Kaji Mbing memastikan pasar-pasar tersebut tetap buka saat ini. Namun demikian, langkah tegas bakal segera diambil jika ditemukan kasus PMK. ‘’Pasar-pasar hewan dikendalikan dinas terkait. Kalau ditemukan (PMK), otomatis pasar ditutup,’’ ujarnya.

Berbagai upaya itu dilakukan agar tidak ada pihak yang dirugikan. Terutamanya, peternak. Untuk itu, lanjut dia, upaya antisipasi bakal dimaksimalkan. Pun berharap peternak turut serta. Mulai menjaga kebersihan kandang, asupan gizi ternak, sampai tidak menjual dan segera lapor ke dokter hewan saat ada indikasi PMK pada ternak. Misal, kaki pincang dan muncul luka pada rongga mulut. ‘’Yang terpenting saat ini masyarakat tetap tenang, tidak usah panik, dan tetap waspada,’’ pintanya. (den/sat)

Most Read

Artikel Terbaru

/