23.7 C
Madiun
Sunday, January 29, 2023

Harga Telur di Madiun Melejit

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Satu per satu komoditas mengalami kenaikan harga. Sudah sebulan terakhir harga telur ayam ras merangkak naik.

Telur yang dalam kondisi normal harga per kilogramnya Rp 24.000 itu kini mencapai Rp 28.000. ‘’Naiknya bertahap,’’ kata Ani Rohayani, pedagang Pasar Pagotan, Senin (21/11).

Ani menyebutkan, awalnya harga telur naik menjadi Rp 25.500 per kilogram. Dua pekan berselang, naik lagi menyentuh angka Rp 27.000. ‘’Yang terbaru Rp 28.000. Kurang tahu penyebabnya (kenaikan harga). Dari peternak sudah naik. Kami hanya mengikuti,’’ tuturnya.

Sementara, harga telur ayam ras di Pasar Sambirejo saat ini mencapai Rp 26.000 per kilogram. ‘’Sebelumnya sekilo Rp 24 ribu. Sudah dua minggu ini harganya naik Rp 2 ribu,’’ ungkap Budi Utomo, salah seorang pedagang, kepada Jawa Pos Radar Caruban.

Meski naik tidak signifikan, Budi menyebutkan bahwa hal itu berdampak pada penurunan omzet penjualan. Sebab, warga memilih mengurangi konsumsi telur dan beralih ke komoditas lain yang harganya lebih terjangkau. ‘’Biasanya satu peti dua hari habis, ini seminggu masih tersisa,’’ imbuhnya. (mg3/isd)

Baca Juga :  Nominal PBB-P2 Tiga Kecamatan di Kabupaten Madiun Ini Bakal Naik

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Satu per satu komoditas mengalami kenaikan harga. Sudah sebulan terakhir harga telur ayam ras merangkak naik.

Telur yang dalam kondisi normal harga per kilogramnya Rp 24.000 itu kini mencapai Rp 28.000. ‘’Naiknya bertahap,’’ kata Ani Rohayani, pedagang Pasar Pagotan, Senin (21/11).

Ani menyebutkan, awalnya harga telur naik menjadi Rp 25.500 per kilogram. Dua pekan berselang, naik lagi menyentuh angka Rp 27.000. ‘’Yang terbaru Rp 28.000. Kurang tahu penyebabnya (kenaikan harga). Dari peternak sudah naik. Kami hanya mengikuti,’’ tuturnya.

Sementara, harga telur ayam ras di Pasar Sambirejo saat ini mencapai Rp 26.000 per kilogram. ‘’Sebelumnya sekilo Rp 24 ribu. Sudah dua minggu ini harganya naik Rp 2 ribu,’’ ungkap Budi Utomo, salah seorang pedagang, kepada Jawa Pos Radar Caruban.

Meski naik tidak signifikan, Budi menyebutkan bahwa hal itu berdampak pada penurunan omzet penjualan. Sebab, warga memilih mengurangi konsumsi telur dan beralih ke komoditas lain yang harganya lebih terjangkau. ‘’Biasanya satu peti dua hari habis, ini seminggu masih tersisa,’’ imbuhnya. (mg3/isd)

Baca Juga :  200 Kios Mangrak, Pemkot Madiun Bakal Tertibkan Bangunan Lantai Dua PBM

Most Read

Artikel Terbaru