alexametrics
33.7 C
Madiun
Thursday, September 29, 2022

Stok Urea Berlebih, Pupuk Bersubsidi untuk Kabupaten Madiun Terancam Mubazir

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Realokasi pupuk bersubsidi untuk Kabupaten Madiun dari Pemprov Jatim tidak serta-merta disambut semringah para petani. Sebab, jatah tambahan pupuk, khususnya urea, justru dinilai kurang tepat. ‘’Kami lebih membutuhkan ZA,’’ kata Sugiono, salah seorang petani di Kranggan, Geger, Kamis (22/9).

Menurut dia, stok pupuk urea saat ini sudah berlebihan. Sedangkan, kebutuhan urea, ZA, dan NPK sama. Masing-masing dua kuintal per masa tanam per petak (sekitar seperenam hektare) sawah. Sehingga, jika yang ditambah hanya urea, dinilai tidak membantu petani dan mubazir. ‘’Kalau pakai urea saja, hasilnya kurang bagus. Bahkan, berpotensi gagal panen,’’ ujarnya.

Sutrisno, petani di Kaibon, Geger, juga merasakan hal yang sama. Hanya, dia tetap membeli ZA untuk mencukupi nutrisi padinya meski harganya mahal. Sutrisno menyiasati dengan kompos yang lebih hemat. Terlebih dia termasuk petani bermodal pas-pasan. Hanya, untuk hasil optimal butuh waktu karena tidak seinstan pupuk kimia. ‘’Satu petak hanya butuh setengah kuintal urea. Lainnya menggunakan kompos,’’ ungkapnya.

Baca Juga :  Lahan Padi 50.691 Hektare di Ngawi Belum Kantongi Sertifikat Organik

Sutrisno menambahkan, pada musim tanam ketiga tahun ini, kebutuhan pupuk paling banyak pada September-Oktober. Sebab, tanaman padi memasuki masa pertumbuhan hingga dewasa. Pemupukan akan dihentikan menjelang masa panen. Karena itu, dia berharap pemprov lebih memperhatikan waktu distribusi. ‘’Selain urea, sebaiknya disegerakan. Setelah Oktober kami sudah tidak pemupukan,’’ bebernya.

Diketahui, Pemprov Jatim menambah jatah pupuk bersubsidi urea dan NPK untuk Kabupaten Madiun. Urea yang sebelumnya 23.348 ton menjadi 29.000 ton. Sementara NPK dari sebelumnya 10.899 ton kini menjadi 17.706 ton. Hingga saat ini stok pupuk bersubsidi yang belum terserap petani, urea 9.000 ton dan NPK 8.000 ton. (mg3/c1/sat)

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Realokasi pupuk bersubsidi untuk Kabupaten Madiun dari Pemprov Jatim tidak serta-merta disambut semringah para petani. Sebab, jatah tambahan pupuk, khususnya urea, justru dinilai kurang tepat. ‘’Kami lebih membutuhkan ZA,’’ kata Sugiono, salah seorang petani di Kranggan, Geger, Kamis (22/9).

Menurut dia, stok pupuk urea saat ini sudah berlebihan. Sedangkan, kebutuhan urea, ZA, dan NPK sama. Masing-masing dua kuintal per masa tanam per petak (sekitar seperenam hektare) sawah. Sehingga, jika yang ditambah hanya urea, dinilai tidak membantu petani dan mubazir. ‘’Kalau pakai urea saja, hasilnya kurang bagus. Bahkan, berpotensi gagal panen,’’ ujarnya.

Sutrisno, petani di Kaibon, Geger, juga merasakan hal yang sama. Hanya, dia tetap membeli ZA untuk mencukupi nutrisi padinya meski harganya mahal. Sutrisno menyiasati dengan kompos yang lebih hemat. Terlebih dia termasuk petani bermodal pas-pasan. Hanya, untuk hasil optimal butuh waktu karena tidak seinstan pupuk kimia. ‘’Satu petak hanya butuh setengah kuintal urea. Lainnya menggunakan kompos,’’ ungkapnya.

Baca Juga :  Diserang Wereng, Puluhan Hektare Tanaman Padi di Madiun Gagal Panen

Sutrisno menambahkan, pada musim tanam ketiga tahun ini, kebutuhan pupuk paling banyak pada September-Oktober. Sebab, tanaman padi memasuki masa pertumbuhan hingga dewasa. Pemupukan akan dihentikan menjelang masa panen. Karena itu, dia berharap pemprov lebih memperhatikan waktu distribusi. ‘’Selain urea, sebaiknya disegerakan. Setelah Oktober kami sudah tidak pemupukan,’’ bebernya.

Diketahui, Pemprov Jatim menambah jatah pupuk bersubsidi urea dan NPK untuk Kabupaten Madiun. Urea yang sebelumnya 23.348 ton menjadi 29.000 ton. Sementara NPK dari sebelumnya 10.899 ton kini menjadi 17.706 ton. Hingga saat ini stok pupuk bersubsidi yang belum terserap petani, urea 9.000 ton dan NPK 8.000 ton. (mg3/c1/sat)

Most Read

Artikel Terbaru

/