23.7 C
Madiun
Sunday, January 29, 2023

Cuaca Buruk, Durian Petani Suluk Membusuk

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Panen raya tidak membuat petani durian di Kabupaten Madiun semringah. Pasalnya, cuaca buruk beberapa bulan terakhir berdampak pada turunnya kualitas hasil panen. Bahkan, tak sedikit buah durian yang membusuk di pohon. ‘’Curah hujan tinggi. Akibatnya, banyak hama menyerang, misalnya lalat buah,’’ kata Suyanto, seorang petani durian Desa Suluk, Dolopo, kemarin (23/1).

Selain hama lalat buah yang mengakibatkan buah menjadi cacat dan mudah membusuk, penurunan kualitas hasil panen durian kali ini disebabkan faktor kesuburan tanah. Di kalangan petani biasa disebut asem-aseman. Kondisi itu membuat rasa buah tidak manis seperti lazimnya durian lokal. ‘’Buahnya jadi anyep,’’ ujarnya.

Suyanto menyebutkan, dalam kondisi normal, dari sekitar 3 hektare lahan duriannya ditambah 600-an pohon milik petani lain mampu menghasilkan 25 ribu buah durian dalam satu musim. Sementara, pada tahun ini hanya sekitar 10 ribu. ‘’Sudah tiga tahun terakhir hasil panen kurang bagus karena kebanyakan hujan dibanding panas,’’ ungkapnya.

Baca Juga :  Sejak Pulang Jadi TKI di Malaysia, Kejiwaan Penusuk Tetangga Terganggu

Suyanto menjual durian hasil panennya di kisaran Rp 25 ribu-Rp 75 ribu per buah, tergantung kualitas dan ukuran. “Yang rusak tapi masih bisa dimakan itu biasanya untuk bonus. Kalau tidak ya diobral hanya Rp 10 ribu per buah,” sebutnya.

Sayangnya, sejauh ini para petani durian belum membentuk kelompok sehingga tidak ada pembinaan maupun monitoring dari dinas terkait. ‘’Harapannya, pemerintah bisa membantu kami menemukan solusi agar hasil panen seperti dulu lagi,’’ ucapnya. (mg3/isd)

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Panen raya tidak membuat petani durian di Kabupaten Madiun semringah. Pasalnya, cuaca buruk beberapa bulan terakhir berdampak pada turunnya kualitas hasil panen. Bahkan, tak sedikit buah durian yang membusuk di pohon. ‘’Curah hujan tinggi. Akibatnya, banyak hama menyerang, misalnya lalat buah,’’ kata Suyanto, seorang petani durian Desa Suluk, Dolopo, kemarin (23/1).

Selain hama lalat buah yang mengakibatkan buah menjadi cacat dan mudah membusuk, penurunan kualitas hasil panen durian kali ini disebabkan faktor kesuburan tanah. Di kalangan petani biasa disebut asem-aseman. Kondisi itu membuat rasa buah tidak manis seperti lazimnya durian lokal. ‘’Buahnya jadi anyep,’’ ujarnya.

Suyanto menyebutkan, dalam kondisi normal, dari sekitar 3 hektare lahan duriannya ditambah 600-an pohon milik petani lain mampu menghasilkan 25 ribu buah durian dalam satu musim. Sementara, pada tahun ini hanya sekitar 10 ribu. ‘’Sudah tiga tahun terakhir hasil panen kurang bagus karena kebanyakan hujan dibanding panas,’’ ungkapnya.

Baca Juga :  Review Perda Lawas, Bapemperda Nilai Sudah Terlambat

Suyanto menjual durian hasil panennya di kisaran Rp 25 ribu-Rp 75 ribu per buah, tergantung kualitas dan ukuran. “Yang rusak tapi masih bisa dimakan itu biasanya untuk bonus. Kalau tidak ya diobral hanya Rp 10 ribu per buah,” sebutnya.

Sayangnya, sejauh ini para petani durian belum membentuk kelompok sehingga tidak ada pembinaan maupun monitoring dari dinas terkait. ‘’Harapannya, pemerintah bisa membantu kami menemukan solusi agar hasil panen seperti dulu lagi,’’ ucapnya. (mg3/isd)

Most Read

Artikel Terbaru