23.7 C
Madiun
Sunday, January 29, 2023

Produk UMKM Madiun Sulit Menembus Pasar Modern

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Upaya memasarkan produk usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) via pasar modern tersendat. Dari tahun ke tahun, jumlahnya stagnan. Sistem pembayaran konsinyasi dan standarisasi yang cukup rumit membuat minat pelaku UMKM cenderung menurun.

Kabid UMKM Dinas Perdagangan, Koperasi dan Usaha Mikro (Disperdagkop-UM) Kabupaten Madiun Dyah Kuswardani menyebutkan, pada 2021 ada 327 produk UMKM yang masuk mitra pasar modern. Sedangkan tahun lalu 326 produk UMKM yang sudah bermitra. Sehingga dalam dua tahun ada 653 produk.

Padahal, total olahan makanan UMKM binaan pemkab sebanyak 4.345 produk. Sementara ada 58 toko ritel swasta yang bermitra.

‘’Pemasaran juga via layanan penjualan modern lain. Seperti toko produk UMKM instansi maupun aplikasi e-katalog LPSE (layanan pengadaan secara elektronik) dari BUMN (badan usaha milik negara),’’ kata Dyah kemarin (23/1).

Kendala terbesar saat ini, menurut dia, minat pelaku UMKM yang kurang mengikuti program pengembangan produk untuk masuk pasar modern. Sistem konsinyasi atau pembayaran tidak langsung dan harus menunggu minimal dua minggu hingga sebulan, cukup merepotkan pelaku UMKM, terutama yang bermodal pas-pasan.

Baca Juga :  Harga Bawang Merah di Madiun Naik Dipicu Gagal Panen

Kondisi tersebut membuat pelaku UMKM berpikir dua kali dan merasa lebih untung jika memasarkan sendiri secara konvensional. ‘’Ini menjadi PR (pekerjaan rumah) kami untuk menyosialisasikan bahwa masuk pasar modern bisa membuat produk mereka semakin dikenal masyarakat dan banyak yang mencari,’’ ujarnya.

Pihaknya juga akan mendampingi UMKM untuk meningkatkan kualitas produk agar tidak kalah saing dengan pabrikan. Mulai memfasilitasi kelengkapan izin administrasi, packaging, hingga standarisasi dari pihak mitra. Pihaknya menargetkan tahun ini minimal 200 produk UMKM masuk pasar modern. ‘’Saat ini fokus olahan makanan dulu. Masih ada 3.692 produk lagi yang belum masuk pasar modern,’’ ungkapnya. (mg3/sat)

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Upaya memasarkan produk usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) via pasar modern tersendat. Dari tahun ke tahun, jumlahnya stagnan. Sistem pembayaran konsinyasi dan standarisasi yang cukup rumit membuat minat pelaku UMKM cenderung menurun.

Kabid UMKM Dinas Perdagangan, Koperasi dan Usaha Mikro (Disperdagkop-UM) Kabupaten Madiun Dyah Kuswardani menyebutkan, pada 2021 ada 327 produk UMKM yang masuk mitra pasar modern. Sedangkan tahun lalu 326 produk UMKM yang sudah bermitra. Sehingga dalam dua tahun ada 653 produk.

Padahal, total olahan makanan UMKM binaan pemkab sebanyak 4.345 produk. Sementara ada 58 toko ritel swasta yang bermitra.

‘’Pemasaran juga via layanan penjualan modern lain. Seperti toko produk UMKM instansi maupun aplikasi e-katalog LPSE (layanan pengadaan secara elektronik) dari BUMN (badan usaha milik negara),’’ kata Dyah kemarin (23/1).

Kendala terbesar saat ini, menurut dia, minat pelaku UMKM yang kurang mengikuti program pengembangan produk untuk masuk pasar modern. Sistem konsinyasi atau pembayaran tidak langsung dan harus menunggu minimal dua minggu hingga sebulan, cukup merepotkan pelaku UMKM, terutama yang bermodal pas-pasan.

Baca Juga :  Sah, 341 Pegawai Pemkab Madiun Resmi Berstatus PNS

Kondisi tersebut membuat pelaku UMKM berpikir dua kali dan merasa lebih untung jika memasarkan sendiri secara konvensional. ‘’Ini menjadi PR (pekerjaan rumah) kami untuk menyosialisasikan bahwa masuk pasar modern bisa membuat produk mereka semakin dikenal masyarakat dan banyak yang mencari,’’ ujarnya.

Pihaknya juga akan mendampingi UMKM untuk meningkatkan kualitas produk agar tidak kalah saing dengan pabrikan. Mulai memfasilitasi kelengkapan izin administrasi, packaging, hingga standarisasi dari pihak mitra. Pihaknya menargetkan tahun ini minimal 200 produk UMKM masuk pasar modern. ‘’Saat ini fokus olahan makanan dulu. Masih ada 3.692 produk lagi yang belum masuk pasar modern,’’ ungkapnya. (mg3/sat)

Most Read

Artikel Terbaru