alexametrics
23.8 C
Madiun
Saturday, May 21, 2022

IDI Prihatin Pelanggar Prokes Tak Lagi Disanksi

MEJAYAN, Jawa Pos Radar Caruban – Data Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Korwil IV Jawa Timur (Barat) per 17 Juni melaporkan terdapat 218 tenaga kesehatan (nakes) di Madiun Raya terkonfirmasi positif Covid-19. Bahkan, delapan lainnya harus kehilangan nyawa.

Kondisi tersebut diperparah dengan munculnya klaster-klaster akibat kegiatan masyarakat yang abai protokol kesehatan (prokes) di berbagai daerah. Tak terkecuali klaster mantenan di Desa Bantengan dan Mojopurno, Wungu, Kabupaten Madiun. Fakta tersebut mengundang keprihatinan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Madiun.

Ketua IDI Madiun Tauhid Islamy mengatakan, sudah bukan waktunya menggelar acara beramai-ramai. Dia berpendapat, masyarakat perlu dibiasakan dengan cara-cara lain yang mampu menekan tingkat kerumunan. ‘’Klaster mantenan itu menjadi bukti kalau pandemi Covid-19 belum berakhir,’’ kata Tauhid, Kamis (24/6).

Baca Juga :  Penanganan Permanen Longsor Berpotensi Molor

Kendati irit bicara terkait sanksi terhadap pelanggarnya, namun dia menyatakan bahwa sanksi merupakan salah satu jalan untuk membuat efek jera masyarakat. Agar kejadian serupa tidak terulang dan ledakan kasus Covid-19 tak terjadi lagi. ‘’Kalau sudah ada regulasi tentang sanksi, berarti tinggal penerapannya,’’ ujarnya. (den/her)

MEJAYAN, Jawa Pos Radar Caruban – Data Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Korwil IV Jawa Timur (Barat) per 17 Juni melaporkan terdapat 218 tenaga kesehatan (nakes) di Madiun Raya terkonfirmasi positif Covid-19. Bahkan, delapan lainnya harus kehilangan nyawa.

Kondisi tersebut diperparah dengan munculnya klaster-klaster akibat kegiatan masyarakat yang abai protokol kesehatan (prokes) di berbagai daerah. Tak terkecuali klaster mantenan di Desa Bantengan dan Mojopurno, Wungu, Kabupaten Madiun. Fakta tersebut mengundang keprihatinan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Madiun.

Ketua IDI Madiun Tauhid Islamy mengatakan, sudah bukan waktunya menggelar acara beramai-ramai. Dia berpendapat, masyarakat perlu dibiasakan dengan cara-cara lain yang mampu menekan tingkat kerumunan. ‘’Klaster mantenan itu menjadi bukti kalau pandemi Covid-19 belum berakhir,’’ kata Tauhid, Kamis (24/6).

Baca Juga :  Kampus II UNS Caruban Mencari Mahasiswa

Kendati irit bicara terkait sanksi terhadap pelanggarnya, namun dia menyatakan bahwa sanksi merupakan salah satu jalan untuk membuat efek jera masyarakat. Agar kejadian serupa tidak terulang dan ledakan kasus Covid-19 tak terjadi lagi. ‘’Kalau sudah ada regulasi tentang sanksi, berarti tinggal penerapannya,’’ ujarnya. (den/her)

Most Read

Artikel Terbaru

/