alexametrics
24.3 C
Madiun
Tuesday, July 5, 2022

101 Hektare Lahan Pertanian Mengering

CARUBAN – Disperta Kabupaten Madiun mencatat 101 hektare lahan pertanian kekeringan terdampak musim kemarau. Bahkan, sebagian di antaranya gagal panen. Sehingga produksi padi diperkirakan turun. Sebagai salah satu daerah lumbung padi di Jawa Timur, dampaknya bakal terasa  jika fenomena alam ini berlangsung lama. ‘’Potensi kekeringan masih didominasi kawasan lereng Gunung Wilis. Yaitu, Kecamatan Dagangan, Kare, dan Gemarang,’’ kata Kabid Holtikultura Disperta Kabupaten Madiun Sumanto Selasa (23/7).

Sumanto menyebut kekeringan terjadi hampir di seluruh daerah di pulau Jawa. Memasuki musim kemarau, debit penampungan air maupun sumur dalam menyusut. Dia menyebut berkurangnya sumber air ini lantaran minimnya penghijauan. ‘’Kekeringan hampir selalu terjadi saat musim kemarau tiba, tinggal bagaimana menyikapinya,’’ ujarnya.

Sumanto menambahkan, memasuki kemarau potensi kekeringan lahan pertanian akan semakin meluas. Dari data sementara yang dihimpun, lebih dari 101 hektare lahan pertanian di wilayahnya kekeringan dari total 32.000 hektare. Untuk mengatasi dampak yang lebih besar, dia mengimbau petani lebih efisien bercocok tanam. ‘’Seharusnya tidak memaksakan tanam padi, bisa diselingi palawija,’’ tuturnya.

Baca Juga :  Sebulan, 78 kasus DBD, 2 Meninggal

Ini mengingat volume air tiga waduk di Kabupaten Madiun mulai menyusut. Bahkan di bawah batas zona standar. Sehingga, untuk mengantisipasi kemarau yang bisa saja mundur dari perkiraan, petani diharapkan beralih ke palawija untuk musim tanam selanjutnya. ‘’Saya hanya berharap semua lebih bijak dan bisa membantu penghijauan kembali,’’ pintanya.

Suwandi, salah seorang petani di Madiun, menyebut hasil panen padinya kali ini turun 10 persen. Penyebabnya, air sumur pompanya berkurang saat padi berusia 60 hari. ‘’Biasanya kalau pengairannya lancar, hasilnya bisa mencapai lebih dari dua ton, tapi saat ini hanya sekitar 1,5 ton,’’ ungkap pemilik 0,5 hektare lahan ini. (mgc/c1/sat)

CARUBAN – Disperta Kabupaten Madiun mencatat 101 hektare lahan pertanian kekeringan terdampak musim kemarau. Bahkan, sebagian di antaranya gagal panen. Sehingga produksi padi diperkirakan turun. Sebagai salah satu daerah lumbung padi di Jawa Timur, dampaknya bakal terasa  jika fenomena alam ini berlangsung lama. ‘’Potensi kekeringan masih didominasi kawasan lereng Gunung Wilis. Yaitu, Kecamatan Dagangan, Kare, dan Gemarang,’’ kata Kabid Holtikultura Disperta Kabupaten Madiun Sumanto Selasa (23/7).

Sumanto menyebut kekeringan terjadi hampir di seluruh daerah di pulau Jawa. Memasuki musim kemarau, debit penampungan air maupun sumur dalam menyusut. Dia menyebut berkurangnya sumber air ini lantaran minimnya penghijauan. ‘’Kekeringan hampir selalu terjadi saat musim kemarau tiba, tinggal bagaimana menyikapinya,’’ ujarnya.

Sumanto menambahkan, memasuki kemarau potensi kekeringan lahan pertanian akan semakin meluas. Dari data sementara yang dihimpun, lebih dari 101 hektare lahan pertanian di wilayahnya kekeringan dari total 32.000 hektare. Untuk mengatasi dampak yang lebih besar, dia mengimbau petani lebih efisien bercocok tanam. ‘’Seharusnya tidak memaksakan tanam padi, bisa diselingi palawija,’’ tuturnya.

Baca Juga :  Unesa Buka Kampus di Magetan

Ini mengingat volume air tiga waduk di Kabupaten Madiun mulai menyusut. Bahkan di bawah batas zona standar. Sehingga, untuk mengantisipasi kemarau yang bisa saja mundur dari perkiraan, petani diharapkan beralih ke palawija untuk musim tanam selanjutnya. ‘’Saya hanya berharap semua lebih bijak dan bisa membantu penghijauan kembali,’’ pintanya.

Suwandi, salah seorang petani di Madiun, menyebut hasil panen padinya kali ini turun 10 persen. Penyebabnya, air sumur pompanya berkurang saat padi berusia 60 hari. ‘’Biasanya kalau pengairannya lancar, hasilnya bisa mencapai lebih dari dua ton, tapi saat ini hanya sekitar 1,5 ton,’’ ungkap pemilik 0,5 hektare lahan ini. (mgc/c1/sat)

Most Read

Artikel Terbaru

/