alexametrics
24.5 C
Madiun
Saturday, May 28, 2022

Investor Kesulitan Mencari Lahan

MADIUN – Semangat menumbuhkan iklim investasi di kabupaten ini dihadapkan problem sulitnya mencari lahan. Kawasan strategis di sekitaran tol Madiun–Wilangan tak mudah didapatkan.

Kabid Penanaman Modal DPMPTSP Kabupaten Madiun Agung Budiarto menyebut banyak investor yang kesulitan mencari lahan di sekitaran jalan bebas hambatan. Misalnya, lokasi yang tepat sudah diperoleh, namun harga tanahnya tidak sesuai bujet. ‘’Sarana penunjang yang menjadi sasaran investor juga masih belum memadai,’’ katanya.

Agung berharap lekas ada perbaikan infrastruktur di daerah yang bakal menjadi sentra industri. Agar, cita-cita menjadikan tol Madiun-Wilangan sebagai magnet investasi tak lagi jauh panggang dari api. ‘’Sejauh ini, baru enam investor besar yang berani tanam modal di dekat jalur keluar-masuk tol,’’ ungkapnya.

Enam investor besar itu berdiri di Kecamatan Madiun dan Balerejo. Itu bagian dari 36 investor per Juni tahun ini. Semuanya sudah mengantongi perizinan pemanfaatan ruang (PPR) dari dinas penanaman modal perizinan dan pelayanan terpadu satu pintu Kabupaten Madiun. ‘’Lainnya tersebar di beberapa kecamatan,’’ imbuh Agung.

Dari puluhan investor itu, hanya PT Asia Prima Konjac yang nilai investasinya tembus puluhan miliar. Pabrik pengolahan porang di Kuwu, Balerejo, itu menanamkan modal hingga Rp 75 miliar. Investasi lainnya berkisar hingga belasan miliar. Seperti PT Tiga Putra Rahma Perkasa yang menginvestasikan Rp 19 miliar untuk membangun perumahan di Kelurahan Nglames. Serta PT INKA Multi Solusi yang menanamkan Rp 17,5 miliar untuk reparasi lokomotif dan gerbong kereta api di Bagi. Sedangan nilai investasi pabrik plastik CV Synergy Sedaya di Gunungsari sebesar Rp 4,3 miliar. ‘’Sinergitas koordinasi antar-OPD pemberi izin industri juga perlu direkatkan kembali,’’ harapnya.

Baca Juga :  Wah, UMK Kabupaten Madiun Hanya Naik Rp 6.822

Sinergitas itu, lanjut Agung, sangat penting. Sebab, DPMPTSP selaku palang pintu perizinan di kabupaten ini tak bisa melangkah sendiri. Tanpa dukungan OPD terkait lain yang juga bertupoksi memberikan rekomendasi. ‘’Sinergitas yang belum terjalin baik ini semoga lekas terurai,’’ ucapnya.

Kuku investasi yang telah ditancapkan 36 investor sejauh ini bernilai hingga Rp 250 miliar. Perumahan, perdagangan, dan pergudangan menjadi pangsa paling banyak. Hingga tutup tahun, DPMPTSP menarget nilai investasi bisa menyentuh Rp 500 miliar. ‘’Kami harus gencar promosi, bisnis gathering, dan komunikasi dengan investor yang sudah masuk untuk membujuk lainnya,’’ jelas Agung.

Saat ini, DPMPTSP juga menaruh atensi terhadap PT Ciomas Adisatwa yang merupakan bagian PT Japfa Comfeed Indonesia. Perusahaan bidang agri-food itu berniat mendirikan rumah penyembelihan khusus ayam potong di Bongsopotro, Saradan. Nilai investasinya ditaksir mencapai Rp 20 miliar. ‘’Sudah ada keyakinan 80 persen perusahaan itu bakal berinvestasi di sini,’’ ujarnya.

PT Ciomas Adisatwa diminta mempersiapkan secara matang sejumlah aspek. Salah satunya, penghitungan biaya dalam membangun dan kesiapan tenaga kerja. Selain mempertimbangkan faktor lingkungan, DPMPTSP juga meminta perusahaan menyosialisasikan keberadaan rumah pemotongan di lahan seluas dua hektare kepada warga setempat. Demi menghindari terjadinya penolakan masyarakat. Pasalnya, perusahaan itu hanya mengakomodasi pemotongan ayam potong yang dipasok dari para peternak. ‘’Jadi, para peternak ayam potong bisa memasok ke sana,’’ tandasnya. (cor/c1/fin)

 

MADIUN – Semangat menumbuhkan iklim investasi di kabupaten ini dihadapkan problem sulitnya mencari lahan. Kawasan strategis di sekitaran tol Madiun–Wilangan tak mudah didapatkan.

Kabid Penanaman Modal DPMPTSP Kabupaten Madiun Agung Budiarto menyebut banyak investor yang kesulitan mencari lahan di sekitaran jalan bebas hambatan. Misalnya, lokasi yang tepat sudah diperoleh, namun harga tanahnya tidak sesuai bujet. ‘’Sarana penunjang yang menjadi sasaran investor juga masih belum memadai,’’ katanya.

Agung berharap lekas ada perbaikan infrastruktur di daerah yang bakal menjadi sentra industri. Agar, cita-cita menjadikan tol Madiun-Wilangan sebagai magnet investasi tak lagi jauh panggang dari api. ‘’Sejauh ini, baru enam investor besar yang berani tanam modal di dekat jalur keluar-masuk tol,’’ ungkapnya.

Enam investor besar itu berdiri di Kecamatan Madiun dan Balerejo. Itu bagian dari 36 investor per Juni tahun ini. Semuanya sudah mengantongi perizinan pemanfaatan ruang (PPR) dari dinas penanaman modal perizinan dan pelayanan terpadu satu pintu Kabupaten Madiun. ‘’Lainnya tersebar di beberapa kecamatan,’’ imbuh Agung.

Dari puluhan investor itu, hanya PT Asia Prima Konjac yang nilai investasinya tembus puluhan miliar. Pabrik pengolahan porang di Kuwu, Balerejo, itu menanamkan modal hingga Rp 75 miliar. Investasi lainnya berkisar hingga belasan miliar. Seperti PT Tiga Putra Rahma Perkasa yang menginvestasikan Rp 19 miliar untuk membangun perumahan di Kelurahan Nglames. Serta PT INKA Multi Solusi yang menanamkan Rp 17,5 miliar untuk reparasi lokomotif dan gerbong kereta api di Bagi. Sedangan nilai investasi pabrik plastik CV Synergy Sedaya di Gunungsari sebesar Rp 4,3 miliar. ‘’Sinergitas koordinasi antar-OPD pemberi izin industri juga perlu direkatkan kembali,’’ harapnya.

Baca Juga :  Jaksa Buikan Mantan Kades Kaligunting

Sinergitas itu, lanjut Agung, sangat penting. Sebab, DPMPTSP selaku palang pintu perizinan di kabupaten ini tak bisa melangkah sendiri. Tanpa dukungan OPD terkait lain yang juga bertupoksi memberikan rekomendasi. ‘’Sinergitas yang belum terjalin baik ini semoga lekas terurai,’’ ucapnya.

Kuku investasi yang telah ditancapkan 36 investor sejauh ini bernilai hingga Rp 250 miliar. Perumahan, perdagangan, dan pergudangan menjadi pangsa paling banyak. Hingga tutup tahun, DPMPTSP menarget nilai investasi bisa menyentuh Rp 500 miliar. ‘’Kami harus gencar promosi, bisnis gathering, dan komunikasi dengan investor yang sudah masuk untuk membujuk lainnya,’’ jelas Agung.

Saat ini, DPMPTSP juga menaruh atensi terhadap PT Ciomas Adisatwa yang merupakan bagian PT Japfa Comfeed Indonesia. Perusahaan bidang agri-food itu berniat mendirikan rumah penyembelihan khusus ayam potong di Bongsopotro, Saradan. Nilai investasinya ditaksir mencapai Rp 20 miliar. ‘’Sudah ada keyakinan 80 persen perusahaan itu bakal berinvestasi di sini,’’ ujarnya.

PT Ciomas Adisatwa diminta mempersiapkan secara matang sejumlah aspek. Salah satunya, penghitungan biaya dalam membangun dan kesiapan tenaga kerja. Selain mempertimbangkan faktor lingkungan, DPMPTSP juga meminta perusahaan menyosialisasikan keberadaan rumah pemotongan di lahan seluas dua hektare kepada warga setempat. Demi menghindari terjadinya penolakan masyarakat. Pasalnya, perusahaan itu hanya mengakomodasi pemotongan ayam potong yang dipasok dari para peternak. ‘’Jadi, para peternak ayam potong bisa memasok ke sana,’’ tandasnya. (cor/c1/fin)

 

Most Read

Artikel Terbaru

/