alexametrics
28.1 C
Madiun
Saturday, May 21, 2022

Yayasan Bambu Nusantara Deteksi HIV dari Kalangan LGBT Pakai Ora Quick

MEJAYAN, Jawa Pos Radar Madiun – Rasa malu penderita acap menghambat penanganan dan pencegahan HIV/AIDS. Kondisi itu yang dialami Yayasan Bambu Nusantara (YBN) Madiun selama mendampingi berbagai kalangan berisiko. Kini, faktor penghambat itu dapat dikikis menggunakan peranti tes HIV yang lebih privasi. ‘’Kami mendapat bantuan 50 Ora Quick dari Global Fund,’’ Kata Ketua YBN Madiun Titik Sugianti, Jumat (25/2).

Ora Quick merupakan alat tes HIV yang mendeteksi air liur. Cukup mengusapkan ujung alat ke gusi atas dan bawah untuk mendapatkan sampel air liur. Kemudian, dicelupkan ke cairan pelarut. Hasil tes dapat diketahui setelah 20-40 menit. Kemungkinan hasil bisa tidak valid, positif, dan negatif, ditandai dengan kemunculan setrip pada alat tes. ‘’Ora Quick sangat membantu saat ada yang malu periksa ke puskesmas atau rumah sakit dengan berbagai alasan,’’ ungkap Titik.

Kalangan lesbian, gay, biseksual, dan transgender alias LGBT menjadi kalangan binaan YBN Madiun yang kerap menolak periksa ke puskesmas atau rumah sakit. Karena itu, Titik bakal menggunakan Ora Quick untuk LGBT. ‘’Kami tetap akan mendampingi dalam penggunaan alatnya, rencananya bulan depan digunakan,’’ terang Titik.

Baca Juga :  Cegah Penularan HIV/AIDS, Dinkes Pacitan Skrining Pekerja Migran

YBN Madiun membina kaum LGBT sejak 2015. Kalangan tersebut diberi edukasi tentang HIV/AIDS. Pun, dengan cara voluntary counselling and testing (VCT) secara sukarela. Mulai pencegahan, perawatan, hingga pengobatan bagi penderita HIV/AIDS. Dengan adanya Ora Quick, diharapkan berbagai upaya yayasan yang berlokasi di Perumahan Puri Intan Sari, Kelurahan/Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun, itu bisa lebih optimal. ‘’Ora Quick cenderung mengungkap kasus tersembunyi,’’ ujar Titik.

Sejak 2019 YBN Madiun tidak menerima rawat inap. Belum dapat dipastikan kapan pihaknya menangani binaan secara rawat jalan. Kendati demikian, telah disiapkan 12 kamar untuk binaan. Baik untuk NAPZA maupun HIV/AIDS. ‘’Semoga ada peran aktif dari pemkab ataupun pemkot terkait edukasi NAPZA dan HIV/AIDS,’’ tuturnya. (tr2/c1/den/her)

MEJAYAN, Jawa Pos Radar Madiun – Rasa malu penderita acap menghambat penanganan dan pencegahan HIV/AIDS. Kondisi itu yang dialami Yayasan Bambu Nusantara (YBN) Madiun selama mendampingi berbagai kalangan berisiko. Kini, faktor penghambat itu dapat dikikis menggunakan peranti tes HIV yang lebih privasi. ‘’Kami mendapat bantuan 50 Ora Quick dari Global Fund,’’ Kata Ketua YBN Madiun Titik Sugianti, Jumat (25/2).

Ora Quick merupakan alat tes HIV yang mendeteksi air liur. Cukup mengusapkan ujung alat ke gusi atas dan bawah untuk mendapatkan sampel air liur. Kemudian, dicelupkan ke cairan pelarut. Hasil tes dapat diketahui setelah 20-40 menit. Kemungkinan hasil bisa tidak valid, positif, dan negatif, ditandai dengan kemunculan setrip pada alat tes. ‘’Ora Quick sangat membantu saat ada yang malu periksa ke puskesmas atau rumah sakit dengan berbagai alasan,’’ ungkap Titik.

Kalangan lesbian, gay, biseksual, dan transgender alias LGBT menjadi kalangan binaan YBN Madiun yang kerap menolak periksa ke puskesmas atau rumah sakit. Karena itu, Titik bakal menggunakan Ora Quick untuk LGBT. ‘’Kami tetap akan mendampingi dalam penggunaan alatnya, rencananya bulan depan digunakan,’’ terang Titik.

Baca Juga :  Kembali Produksi Makaroni meski Harga Jual Naik

YBN Madiun membina kaum LGBT sejak 2015. Kalangan tersebut diberi edukasi tentang HIV/AIDS. Pun, dengan cara voluntary counselling and testing (VCT) secara sukarela. Mulai pencegahan, perawatan, hingga pengobatan bagi penderita HIV/AIDS. Dengan adanya Ora Quick, diharapkan berbagai upaya yayasan yang berlokasi di Perumahan Puri Intan Sari, Kelurahan/Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun, itu bisa lebih optimal. ‘’Ora Quick cenderung mengungkap kasus tersembunyi,’’ ujar Titik.

Sejak 2019 YBN Madiun tidak menerima rawat inap. Belum dapat dipastikan kapan pihaknya menangani binaan secara rawat jalan. Kendati demikian, telah disiapkan 12 kamar untuk binaan. Baik untuk NAPZA maupun HIV/AIDS. ‘’Semoga ada peran aktif dari pemkab ataupun pemkot terkait edukasi NAPZA dan HIV/AIDS,’’ tuturnya. (tr2/c1/den/her)

Most Read

Artikel Terbaru

/