alexametrics
21.8 C
Madiun
Tuesday, June 28, 2022

Pemkab Madiun Cegah Ternak Luar Daerah Masuk Saradan

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Efek domino temuan kasus penyakit mulut dan kuku (PMK) di Desa Sambirejo, Saradan, mulai terasa. Salah satunya pembatasan perniagaan ternak di wilayah kecamatan setempat. Untuk mengantisipasi ledakan kasus, pihak kecamatan meminta warga untuk sementara tidak membeli sapi dari luar daerah.

Camat Saradan Marsono mengatakan, imbauan tidak membeli hewan ternak dari luar daerah itu sebagai antisipasi. Sebab, sapi yang terjangkit PMK diketahui baru dibeli dari Ngawi. ‘’Kalaupun terpaksa bertransaksi, harus betul-betul diperhatikan kondisi kesehatannya,’’ ujarnya, Rabu (25/5).

Marsono mengamini bahwa banyak penduduk Saradan yang memelihara sapi. Kondisi geografis wilayah setempat yang berupa daerah pegunungan disebut sebagai faktor utama. Data dinas ketahanan pangan dan peternakan (DKPP), populasi sapi di Kecamatan Saradan saat ini sebanyak 11.754 ekor.

Dia mengatakan, pemilik sapi yang diketahui positif PMK itu merupakan pedagang ternak. Pun, yang bersangkutan kooperatif dengan mengisolasi hewan ternaknya yang terjangkit. ‘’Petugas juga terus melakukan pemantauan isolasi dan pengobatan,’’ ungkapnya.

Temuan kasus hewan ternak positif PMK tak luput menyita perhatian Bupati Madiun Ahmad Dawami. Dia mengklaim berbagai upaya telah dilakukan pemkab untuk mengantisipasi wabah penyakit tersebut. Termasuk sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat seperti tidak memperjualbelikan ternak dalam kondisi sakit maupun cara penanganan ketika sakit.

Baca Juga :  Dua Jam, Tiga Nyawa Melayang di Tol Wilangan-Madiun

Sosialisasi, lanjut dia, juga menyentuh perihal pengawasan dan pengobatan ternak yang ditengarai terjangkit PMK. ‘’Masyarakat punya peran penting dalam menjaga, terutama yang kesehariannya berkecimpung dengan ternak seperti blantik. Semua harus disiplin,’’ tegasnya.

Meski sejauh ini pasar hewan di Kabupaten Madiun tetap beroperasi, pemkab tak segan-segan melakukan penutupan jika dirasa perlu. Misalnya, wabah PMK menjadi tak terkendali atau ditemukan kasus positif di pasar hewan. ‘’Peran masyarakat penting. Kalau masyarakat tidak taat, lalu PMK semakin menjadi-jadi, penutupan pasar hewan akan dilakukan,’’ ujar Kaji Mbing, sapaan bupati.

Kaji Mbing tidak menampik bahwa penutupan pasar bakal berdampak ke perekonomian masyarakat. Namun, tindakan tersebut harus diambil jika PMK semakin meluas. ‘’Soal lalu lintas ternak sudah diperketat, ada surat kesehatan hewan untuk jual-belinya. Peran penting masyarakat saat ini adalah menaati aturan itu,’’ tuturnya.

Sementara itu, Kabid Peternakan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Madiun Bagus Yulianta menyebutkan bahwa kondisi hewan ternak di Sambirejo yang positif PMK mulai membaik. Salah satunya ditandai nafsu makan yang bertambah. ‘’Kena PMK itu bisa sembuh,’’ katanya. (den/c1/isd)

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Efek domino temuan kasus penyakit mulut dan kuku (PMK) di Desa Sambirejo, Saradan, mulai terasa. Salah satunya pembatasan perniagaan ternak di wilayah kecamatan setempat. Untuk mengantisipasi ledakan kasus, pihak kecamatan meminta warga untuk sementara tidak membeli sapi dari luar daerah.

Camat Saradan Marsono mengatakan, imbauan tidak membeli hewan ternak dari luar daerah itu sebagai antisipasi. Sebab, sapi yang terjangkit PMK diketahui baru dibeli dari Ngawi. ‘’Kalaupun terpaksa bertransaksi, harus betul-betul diperhatikan kondisi kesehatannya,’’ ujarnya, Rabu (25/5).

Marsono mengamini bahwa banyak penduduk Saradan yang memelihara sapi. Kondisi geografis wilayah setempat yang berupa daerah pegunungan disebut sebagai faktor utama. Data dinas ketahanan pangan dan peternakan (DKPP), populasi sapi di Kecamatan Saradan saat ini sebanyak 11.754 ekor.

Dia mengatakan, pemilik sapi yang diketahui positif PMK itu merupakan pedagang ternak. Pun, yang bersangkutan kooperatif dengan mengisolasi hewan ternaknya yang terjangkit. ‘’Petugas juga terus melakukan pemantauan isolasi dan pengobatan,’’ ungkapnya.

Temuan kasus hewan ternak positif PMK tak luput menyita perhatian Bupati Madiun Ahmad Dawami. Dia mengklaim berbagai upaya telah dilakukan pemkab untuk mengantisipasi wabah penyakit tersebut. Termasuk sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat seperti tidak memperjualbelikan ternak dalam kondisi sakit maupun cara penanganan ketika sakit.

Baca Juga :  Berharap Ngurawan Jadi Cagar Budaya

Sosialisasi, lanjut dia, juga menyentuh perihal pengawasan dan pengobatan ternak yang ditengarai terjangkit PMK. ‘’Masyarakat punya peran penting dalam menjaga, terutama yang kesehariannya berkecimpung dengan ternak seperti blantik. Semua harus disiplin,’’ tegasnya.

Meski sejauh ini pasar hewan di Kabupaten Madiun tetap beroperasi, pemkab tak segan-segan melakukan penutupan jika dirasa perlu. Misalnya, wabah PMK menjadi tak terkendali atau ditemukan kasus positif di pasar hewan. ‘’Peran masyarakat penting. Kalau masyarakat tidak taat, lalu PMK semakin menjadi-jadi, penutupan pasar hewan akan dilakukan,’’ ujar Kaji Mbing, sapaan bupati.

Kaji Mbing tidak menampik bahwa penutupan pasar bakal berdampak ke perekonomian masyarakat. Namun, tindakan tersebut harus diambil jika PMK semakin meluas. ‘’Soal lalu lintas ternak sudah diperketat, ada surat kesehatan hewan untuk jual-belinya. Peran penting masyarakat saat ini adalah menaati aturan itu,’’ tuturnya.

Sementara itu, Kabid Peternakan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Madiun Bagus Yulianta menyebutkan bahwa kondisi hewan ternak di Sambirejo yang positif PMK mulai membaik. Salah satunya ditandai nafsu makan yang bertambah. ‘’Kena PMK itu bisa sembuh,’’ katanya. (den/c1/isd)

Most Read

Artikel Terbaru

/