alexametrics
21.8 C
Madiun
Tuesday, June 28, 2022

Kabupaten Madiun Masih Bergantung Cabai ’’Impor’’

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Fenomena kenaikan harga cabai di Kabupaten Madiun tampaknya sulit dihindari. Pasalnya, produksi komoditas pertanian tersebut masih jauh di bawah kebutuhan. Catatan dinas pertanian dan perikanan (disperta) setempat, produksi cabai periode Januari-April tahun ini sebanyak 74 ton.

Jumlah tersebut sudah separo lebih dibanding produksi sepanjang 2021 lalu sebanyak 102,7 ton. ”Produksi itu dari lahan seluas 18 hektare,” kata Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura Disperta Priyadi, Jumat (27/5). ”Wilayah penghasil cabai antara lain Kecamatan Dolopo, Dagangan, Wungu, dan Kare,” imbuhnya.

Kendati demikian, angka tersebut masih jauh di bawah tingkat kebutuhan. ”Kebutuhan lebih tinggi dibandingkan dengan produksi daerah sendiri,” kata Kabid Perdagangan Dinas Perdagangan, Koperasi, dan Usaha Mikro (Disperdakop-UM) Kabupaten Madiun Toni Eko Prasetyo sembari mengamini adanya kenaikan harga cabai di pasaran.

Baca Juga :  Wabup Madiun: Harkitnas Jadi Momentum Bangkit dari Keterpurukan akibat Pandemi

Sejauh ini lahan cabai di Kabupaten Madiun hanya 74 hektare. Jauh di bawah lahan padi yang mencapai 88.710 hektare. Karena itu, kebutuhan cabai masih bergantung pasokan daerah lain. ”Salah satu daerah pemasok cabai adalah Nganjuk,’’ sebutnya. ‘’Saat ini pasokan sedikit berkurang karena hasil panen kurang maksimal,” imbuhnya.

Diberitakan sebelumnya, harga cabai mengalami kenaikan secara bertahap sejak seminggu terakhir. Cabai rawit, misalnya, harganya naik dari Rp 50 ribu menjadi Rp 56 ribu per kilogram. Sedangkan cabai merah besar yang semula Rp 35 ribu-Rp 40 ribu kini Rp 50 ribu. Sementara, cabai keriting naik dari Rp 30 ribu-Rp 35 ribu menjadi Rp 40 ribu. (den/c1/isd)

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Fenomena kenaikan harga cabai di Kabupaten Madiun tampaknya sulit dihindari. Pasalnya, produksi komoditas pertanian tersebut masih jauh di bawah kebutuhan. Catatan dinas pertanian dan perikanan (disperta) setempat, produksi cabai periode Januari-April tahun ini sebanyak 74 ton.

Jumlah tersebut sudah separo lebih dibanding produksi sepanjang 2021 lalu sebanyak 102,7 ton. ”Produksi itu dari lahan seluas 18 hektare,” kata Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura Disperta Priyadi, Jumat (27/5). ”Wilayah penghasil cabai antara lain Kecamatan Dolopo, Dagangan, Wungu, dan Kare,” imbuhnya.

Kendati demikian, angka tersebut masih jauh di bawah tingkat kebutuhan. ”Kebutuhan lebih tinggi dibandingkan dengan produksi daerah sendiri,” kata Kabid Perdagangan Dinas Perdagangan, Koperasi, dan Usaha Mikro (Disperdakop-UM) Kabupaten Madiun Toni Eko Prasetyo sembari mengamini adanya kenaikan harga cabai di pasaran.

Baca Juga :  Bangun Jembatan Klumutan yang Baru dengan Dana BTT

Sejauh ini lahan cabai di Kabupaten Madiun hanya 74 hektare. Jauh di bawah lahan padi yang mencapai 88.710 hektare. Karena itu, kebutuhan cabai masih bergantung pasokan daerah lain. ”Salah satu daerah pemasok cabai adalah Nganjuk,’’ sebutnya. ‘’Saat ini pasokan sedikit berkurang karena hasil panen kurang maksimal,” imbuhnya.

Diberitakan sebelumnya, harga cabai mengalami kenaikan secara bertahap sejak seminggu terakhir. Cabai rawit, misalnya, harganya naik dari Rp 50 ribu menjadi Rp 56 ribu per kilogram. Sedangkan cabai merah besar yang semula Rp 35 ribu-Rp 40 ribu kini Rp 50 ribu. Sementara, cabai keriting naik dari Rp 30 ribu-Rp 35 ribu menjadi Rp 40 ribu. (den/c1/isd)

Most Read

Artikel Terbaru

/