27.2 C
Madiun
Friday, December 9, 2022

Kasus Pembobolan M-Banking, BRI Sebut Nasabah Jadi Korban Social Engineering

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Pihak Bank Rakyat Indonesia (BRI) angkat suara terkait kasus pembobolan m-banking milik Hari Wahyudi pada 1 September lalu. Melalui stanby statement yang dikirim lewat WhatsApp kepada Jawa Pos Radar Caruban kemarin (27/9), BRI menyatakan keprihatinannya atas kasus yang menimpa warga Desa Purworejo, Geger, itu.

Dalam stanby statement tersebut, Pimpinan Kantor Cabang BRI Madiun Rizky Andhika membenarkan bahwa pihaknya telah menerima pengaduan dari Hari atas kasus yang menimpanya. ‘’Kami juga sudah lakukan investigasi dan informasikan hasil investigasinya pada 16 dan 21 September,’’ kata Rizky.

Menurut Rizky, Hari telah menjadi korban tindak kejahatan social engineering. Itu terjadi setelah pria 51 tahun tersebut memberikan informasi atau data transaksi perbankan yang bersifat pribadi dan rahasia kepada pihak lain. ‘’Hal itulah yang menyebabkan transaksi pemindahan dana dari rekening tersebut berjalan sukses,’’ ujarnya.

Meski menyatakan keprihatinannya, pihak BRI menyebutkan bahwa Hari tidak memperoleh ganti rugi atas kejadian tersebut. Ganti rugi hanya diberikan kepada nasabah apabila kesalahan dan kelalaian terjadi pada sistem perbankan.

‘’Kami mengimbau kepada nasabah lebih berhati-hati dalam melakukan transaksi perbankan dan tidak menginformasikan kerahasiaan data pribadi maupun data perbankan kepada orang lain serta pihak yang mengatasnamakan BRI dari sumber tidak resmi,’’ tuturnya dalam stanby statement itu.

Baca Juga :  Panen Hadiah Simpedes BRI Semester II 2021, Dua Nasabah Bakal Dapat Mobil

Diberitakan sebelumnya, duit ratusan juta yang tersimpan di rekening BRI milik Hari raib. Nahas itu menghampiri setelah korban menerima telepon seseorang tak dikenal pada 1 September lalu sekitar pukul 11.00. Si penelepon yang mengaku bernama Dedi itu menanyakan keberadaan Hari. Namun, saat ditanya Dedi siapa, tidak ada jawaban dari seberang sana.

Merasa tidak kenal, Hari lantas menutup sambungan teleponnya. Nah, beberapa menit berselang ada pesan singkat masuk dari BRI-OTP yang menunjukkan adanya sejumlah transaksi mencurigakan. ‘’Sempat dua kali dia (Dedi, Red) telepon lagi. Setelah itu, BRImo (aplikasi m-banking BRI) saya tidak bisa dibuka lagi,’’ ungkapnya.

Hari menyebutkan, dalam rentang waktu sekitar 50 menit saat itu ada enam kali transaksi. Setelah dicek, saldo rekening miliknya berkurang Rp 222,9 juta. Mengetahui hal itu, Hari lantas melapor ke pihak BRI kantor cabang pembantu (KCP) Sudirman, Kota Madiun.

Saat dicek petugas bank, lanjut dia, diketahui aplikasi BRImo miliknya telah jalan sendiri melakukan transaksi di luar kendali. Termasuk uang Rp 100 juta yang baru saja ditransfer Hari ke rekeningnya saat perjalanan menuju kantor BRI ikut amblas. (mg3/c1/isd)

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Pihak Bank Rakyat Indonesia (BRI) angkat suara terkait kasus pembobolan m-banking milik Hari Wahyudi pada 1 September lalu. Melalui stanby statement yang dikirim lewat WhatsApp kepada Jawa Pos Radar Caruban kemarin (27/9), BRI menyatakan keprihatinannya atas kasus yang menimpa warga Desa Purworejo, Geger, itu.

Dalam stanby statement tersebut, Pimpinan Kantor Cabang BRI Madiun Rizky Andhika membenarkan bahwa pihaknya telah menerima pengaduan dari Hari atas kasus yang menimpanya. ‘’Kami juga sudah lakukan investigasi dan informasikan hasil investigasinya pada 16 dan 21 September,’’ kata Rizky.

Menurut Rizky, Hari telah menjadi korban tindak kejahatan social engineering. Itu terjadi setelah pria 51 tahun tersebut memberikan informasi atau data transaksi perbankan yang bersifat pribadi dan rahasia kepada pihak lain. ‘’Hal itulah yang menyebabkan transaksi pemindahan dana dari rekening tersebut berjalan sukses,’’ ujarnya.

Meski menyatakan keprihatinannya, pihak BRI menyebutkan bahwa Hari tidak memperoleh ganti rugi atas kejadian tersebut. Ganti rugi hanya diberikan kepada nasabah apabila kesalahan dan kelalaian terjadi pada sistem perbankan.

‘’Kami mengimbau kepada nasabah lebih berhati-hati dalam melakukan transaksi perbankan dan tidak menginformasikan kerahasiaan data pribadi maupun data perbankan kepada orang lain serta pihak yang mengatasnamakan BRI dari sumber tidak resmi,’’ tuturnya dalam stanby statement itu.

Baca Juga :  Panen Hadiah Simpedes BRI, Grand Prize Diantar Sampai Rumah Pemenang

Diberitakan sebelumnya, duit ratusan juta yang tersimpan di rekening BRI milik Hari raib. Nahas itu menghampiri setelah korban menerima telepon seseorang tak dikenal pada 1 September lalu sekitar pukul 11.00. Si penelepon yang mengaku bernama Dedi itu menanyakan keberadaan Hari. Namun, saat ditanya Dedi siapa, tidak ada jawaban dari seberang sana.

Merasa tidak kenal, Hari lantas menutup sambungan teleponnya. Nah, beberapa menit berselang ada pesan singkat masuk dari BRI-OTP yang menunjukkan adanya sejumlah transaksi mencurigakan. ‘’Sempat dua kali dia (Dedi, Red) telepon lagi. Setelah itu, BRImo (aplikasi m-banking BRI) saya tidak bisa dibuka lagi,’’ ungkapnya.

Hari menyebutkan, dalam rentang waktu sekitar 50 menit saat itu ada enam kali transaksi. Setelah dicek, saldo rekening miliknya berkurang Rp 222,9 juta. Mengetahui hal itu, Hari lantas melapor ke pihak BRI kantor cabang pembantu (KCP) Sudirman, Kota Madiun.

Saat dicek petugas bank, lanjut dia, diketahui aplikasi BRImo miliknya telah jalan sendiri melakukan transaksi di luar kendali. Termasuk uang Rp 100 juta yang baru saja ditransfer Hari ke rekeningnya saat perjalanan menuju kantor BRI ikut amblas. (mg3/c1/isd)

Most Read

Artikel Terbaru

/