alexametrics
24.1 C
Madiun
Thursday, May 26, 2022

Proyek Pembangunan Gedung IGD Terpadu RSUD Caruban, Pelaksana-Pengawas Abai K3

MEJAYAN, Jawa Pos Radar Caruban – Pelaksana proyek pembangunan Instalasi Gawat Darurat (IGD) Terpadu RSUD Caruban diduga abai manajemen keamanan, kesehatan, dan keselamatan kerja (K3). Beberapa pekerja pembangunan gedung dua lantai itu tak mengenakan alat pengamanan sesuai standar. ‘’Proyek besar Rp 13,9 miliar tapi K3-nya buruk,’’ kata Ketua DPRD Kabupaten Madiun Ferry Sudarsono Minggu (27/10).

Penerapan manajemen K3 yang tidak sesuai standard operating procedure (SOP) itu diketahui saat inspeksi mendadak (sidak) Jumat (25/10). Salah satunya pengerjaan fasad bangunan sisi barat. Sejumlah pekerja yang naik scaffolding tidak mengenakan helm dan sabuk pengaman. Serupa dengan di bagian dalam bangunan. Pihaknya pun menegur langsung pelaksana PT Galakarya dan konsultan pengawas PT Kusuma Bangun Karya. ‘’Sangat riskan. Kalau pekerja terluka siapa yang akan bertanggung jawab,’’ ujarnya.

Pentingnya K3 diatur dalam Undang-Undang (UU) 1/1970 tentang Keselamatan Kerja. Sanksi bagi pelanggarnya kurungan tiga bulan atau denda Rp 100 ribu. Sedangkan UU 13/2003 tentang Ketenagakerjaan mengatur sanksi administratif perusahaan yang tak menerapkan sistem manajemen K3. Berupa teguran, pembekuan kegiatan usaha, penghentian sementara sebagian atau seluruh alat produksi, hingga pencabutan izin.

Menurut Ferry, K3 krusial dalam setiap pembangunan fisik. Apalagi proyek besar melibatkan banyak pekerja. Baik penyedia jasa maupun pengawas bertanggung jawab mencegah kecelakaan kerja. Rekanan harus memastikan sarana dan prasarana (sarpras) memadai. Pekerja perlu berhati-hati melakukan tugasnya. ‘’Pengawas juga harus berani menegur kalau K3-nya tidak memenuhi SOP,’’ tegasnya.

Iliya Widiyanto, manajer administrasi PT Galakarya, menyebut perusahaannya menjunjung tinggi K3. Pekerjanya yang di atas ketinggian dua meter dilengkapi body harness. Peranti keselamatan yang melekat tubuh dengan sabuk terikat di bangunan sebagai penyangga. Misalnya, saat mengelas atau pengecoran. ‘’Kalau helm dan sepatu semua sudah menggunakan,’’ klaimnya.

Iliya menambahkan, paranet dipasang di sekeliling bangunan. Salah satunya bagian utara dan barat. Jaring pengaman tersebut untuk melindungi konstruksi bangunan dan pekerja dari ancaman tertimpa material. Di sisi lain, penyaluran material bangunan tidak dilakukan manual. Melainkan menggunakan lift barang. ‘’Jadi, tidak diangkat oleh pekerja,’’ kilahnya. (cor/c1/sat)

Baca Juga :  Rumah Terbakar, Pasutri Terpanggang

 

Rekanan Didesak Bekerja Cepat

DPRD Kabupaten Madiun mendesak PT Galakarya bekerja cepat. Selain merampungkan pembangunan gedung IGD Terpadu RSUD Caruban, kontraktor asal Gresik itu juga harus menyelesaikan ambruknya tembok sisi timur yang diduga salah perencanaan. ‘’Harus segera dibenahi,’’ kata Ketua Komisi D DPRD Kabupaten Madiun Mashudi Minggu (27/10).

Menurut Mashudi, konstruksi dinding dengan tambahan kanopi yang ambruk itu harus diubah. Tidak bisa lagi menggunakan rancangan lama. Perubahan tersebut berpotensi mengulur waktu pengerjaan selama 165 hari kalender. Mengingat pembahasan teknis RSUD Caruban perlu melibatkan instansi terkait. ‘’Review perencanaan harus cepat agar kekurangannya juga tidak terlalu jauh,’’ pintanya.

PT Galakarya menandatangani kontrak proyek senilai Rp 13,9 miliar itu 17 Juli lalu. Setelah terlewat lebih tiga bulan, progresnya 40 persen terhitung pekan lalu. Rekanan mengklaim deviasi positif 10 persen dari target 30 persen. Kekurangan 60 persen harus dituntaskan dengan sisa waktu dua bulan sebelum tutup tahun. ‘’Mumpung ini kan masih jauh dari target selesainya pekerjaan,’’ imbuh Mashudi.

Manajer Administrasi PT Galakarya Iliya Widiyanto menegaskan, persoalan ambruknya tembok sisi timur tidak akan memengaruhi timeline pengerjaan. Ditarget tuntas sebelum 29 Desember mendatang. Sebab, instansi terkait telah memberi rekomendasi penanganan tidak lama setelah tembok ambruk Rabu (23/10).

Pun rehabilitasi atap ruang instalasi farmasi yang rusak tertimpa reruntuhan tembok tidak memengaruhi pengerjaan IGD terpadu. Karena di luar kontraktual.  ‘’Rekondisi itu akan dipercepat,’’ katanya seraya menyebut salah satu rekom itu mengganti beton kanopi dengan alumunium composite panel (ACP).

Iliya menyebut, saat ini pekerja tengah menyelesaikan fasad atau tampilan luar gedung. Pengerjaan itu ditarget rampung dua pekan ke depan. Sebelum lanjut proses plamir. Bersamaan itu, pekerja akan menyelesaikan bagian dalam bangunan. Seperti pemasangan keramik dan pengecatan. ‘’Pekerjaan mekanikal elektronik bobotnya lumayan sekitar 10 persen,’’ ungkapnya. (cor/c1/sat)

MEJAYAN, Jawa Pos Radar Caruban – Pelaksana proyek pembangunan Instalasi Gawat Darurat (IGD) Terpadu RSUD Caruban diduga abai manajemen keamanan, kesehatan, dan keselamatan kerja (K3). Beberapa pekerja pembangunan gedung dua lantai itu tak mengenakan alat pengamanan sesuai standar. ‘’Proyek besar Rp 13,9 miliar tapi K3-nya buruk,’’ kata Ketua DPRD Kabupaten Madiun Ferry Sudarsono Minggu (27/10).

Penerapan manajemen K3 yang tidak sesuai standard operating procedure (SOP) itu diketahui saat inspeksi mendadak (sidak) Jumat (25/10). Salah satunya pengerjaan fasad bangunan sisi barat. Sejumlah pekerja yang naik scaffolding tidak mengenakan helm dan sabuk pengaman. Serupa dengan di bagian dalam bangunan. Pihaknya pun menegur langsung pelaksana PT Galakarya dan konsultan pengawas PT Kusuma Bangun Karya. ‘’Sangat riskan. Kalau pekerja terluka siapa yang akan bertanggung jawab,’’ ujarnya.

Pentingnya K3 diatur dalam Undang-Undang (UU) 1/1970 tentang Keselamatan Kerja. Sanksi bagi pelanggarnya kurungan tiga bulan atau denda Rp 100 ribu. Sedangkan UU 13/2003 tentang Ketenagakerjaan mengatur sanksi administratif perusahaan yang tak menerapkan sistem manajemen K3. Berupa teguran, pembekuan kegiatan usaha, penghentian sementara sebagian atau seluruh alat produksi, hingga pencabutan izin.

Menurut Ferry, K3 krusial dalam setiap pembangunan fisik. Apalagi proyek besar melibatkan banyak pekerja. Baik penyedia jasa maupun pengawas bertanggung jawab mencegah kecelakaan kerja. Rekanan harus memastikan sarana dan prasarana (sarpras) memadai. Pekerja perlu berhati-hati melakukan tugasnya. ‘’Pengawas juga harus berani menegur kalau K3-nya tidak memenuhi SOP,’’ tegasnya.

Iliya Widiyanto, manajer administrasi PT Galakarya, menyebut perusahaannya menjunjung tinggi K3. Pekerjanya yang di atas ketinggian dua meter dilengkapi body harness. Peranti keselamatan yang melekat tubuh dengan sabuk terikat di bangunan sebagai penyangga. Misalnya, saat mengelas atau pengecoran. ‘’Kalau helm dan sepatu semua sudah menggunakan,’’ klaimnya.

Iliya menambahkan, paranet dipasang di sekeliling bangunan. Salah satunya bagian utara dan barat. Jaring pengaman tersebut untuk melindungi konstruksi bangunan dan pekerja dari ancaman tertimpa material. Di sisi lain, penyaluran material bangunan tidak dilakukan manual. Melainkan menggunakan lift barang. ‘’Jadi, tidak diangkat oleh pekerja,’’ kilahnya. (cor/c1/sat)

Baca Juga :  Rekrutmen CPNS Mandiri Pusingkan Pemkab Madiun

 

Rekanan Didesak Bekerja Cepat

DPRD Kabupaten Madiun mendesak PT Galakarya bekerja cepat. Selain merampungkan pembangunan gedung IGD Terpadu RSUD Caruban, kontraktor asal Gresik itu juga harus menyelesaikan ambruknya tembok sisi timur yang diduga salah perencanaan. ‘’Harus segera dibenahi,’’ kata Ketua Komisi D DPRD Kabupaten Madiun Mashudi Minggu (27/10).

Menurut Mashudi, konstruksi dinding dengan tambahan kanopi yang ambruk itu harus diubah. Tidak bisa lagi menggunakan rancangan lama. Perubahan tersebut berpotensi mengulur waktu pengerjaan selama 165 hari kalender. Mengingat pembahasan teknis RSUD Caruban perlu melibatkan instansi terkait. ‘’Review perencanaan harus cepat agar kekurangannya juga tidak terlalu jauh,’’ pintanya.

PT Galakarya menandatangani kontrak proyek senilai Rp 13,9 miliar itu 17 Juli lalu. Setelah terlewat lebih tiga bulan, progresnya 40 persen terhitung pekan lalu. Rekanan mengklaim deviasi positif 10 persen dari target 30 persen. Kekurangan 60 persen harus dituntaskan dengan sisa waktu dua bulan sebelum tutup tahun. ‘’Mumpung ini kan masih jauh dari target selesainya pekerjaan,’’ imbuh Mashudi.

Manajer Administrasi PT Galakarya Iliya Widiyanto menegaskan, persoalan ambruknya tembok sisi timur tidak akan memengaruhi timeline pengerjaan. Ditarget tuntas sebelum 29 Desember mendatang. Sebab, instansi terkait telah memberi rekomendasi penanganan tidak lama setelah tembok ambruk Rabu (23/10).

Pun rehabilitasi atap ruang instalasi farmasi yang rusak tertimpa reruntuhan tembok tidak memengaruhi pengerjaan IGD terpadu. Karena di luar kontraktual.  ‘’Rekondisi itu akan dipercepat,’’ katanya seraya menyebut salah satu rekom itu mengganti beton kanopi dengan alumunium composite panel (ACP).

Iliya menyebut, saat ini pekerja tengah menyelesaikan fasad atau tampilan luar gedung. Pengerjaan itu ditarget rampung dua pekan ke depan. Sebelum lanjut proses plamir. Bersamaan itu, pekerja akan menyelesaikan bagian dalam bangunan. Seperti pemasangan keramik dan pengecatan. ‘’Pekerjaan mekanikal elektronik bobotnya lumayan sekitar 10 persen,’’ ungkapnya. (cor/c1/sat)

Most Read

Artikel Terbaru

/