alexametrics
28.3 C
Madiun
Tuesday, May 24, 2022

Nilai Kompetensi Numerisasi Ratusan SD di Kabupaten Madiun di Bawah Standar

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Pengalaman Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Madiun, tak banyak siswa SD yang ngacung saat ditanya siapa yang suka matematika. Wajar jika dalam Asesmen Nasional (AN) 2021 nilai kompetensi numerasi ratusan SD di bawah standar. ‘’Dilihat dari kacamata psikologi kognitif, anak tidak suka matematika karena beberapa faktor penyebab,’’ kata psikolog Robik Anwar Dani, Jumat (29/4).

Pertama, stigma negatif matematika. Mata pelajaran tersebut dianggap sulit. Kondisi tersebut muncul karena informasi yang ditangkap anak. Misal, informasi dari kakak kelas dengan kemampuan numerasi yang memang kurang. ‘’Karena mendapat stigma negatif itu, anak mengalami distorsi kognisi sehingga menjadi antipati pada matematika,’’ ujar dosen psikologi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya Kampus Madiun itu.

Baca Juga :  PSK Alumni Gude Masih Berkeliaran

Cara mengajar guru juga menjadi salah satu faktor penyebab siswa tak suka matematika. Robik mengatakan, anak akan susah memahami jika cara mengajar tidak sesuai tipe belajar anak. Misal, penyampaian materi tidak disesuaikan dunia anak. ‘’Dulu, penyampaian pelajaran matematika tidak semenyenangkan bahasa Indonesia atau seni. Tapi, sekarang sudah mulai bergeser,’’ tuturnya.

Ada beberapa metode psikologi yang dapat dilakukan untuk melawan stigma negatif matematika. Baik guru maupun orang tua dapat memberi support dengan mengenalkan konsep numerasi secara multisensori. Secara visual memberi warna-warni angka. Secara audiotori dengan lagu serta kinestetik melalui berbagai permainan. ‘’Kalau secara lisan saja, akan muncul mindset bahwa matematika itu tidak menyenangkan,’’  ungkap Robik. (den/c1/sat/her)

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Pengalaman Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Madiun, tak banyak siswa SD yang ngacung saat ditanya siapa yang suka matematika. Wajar jika dalam Asesmen Nasional (AN) 2021 nilai kompetensi numerasi ratusan SD di bawah standar. ‘’Dilihat dari kacamata psikologi kognitif, anak tidak suka matematika karena beberapa faktor penyebab,’’ kata psikolog Robik Anwar Dani, Jumat (29/4).

Pertama, stigma negatif matematika. Mata pelajaran tersebut dianggap sulit. Kondisi tersebut muncul karena informasi yang ditangkap anak. Misal, informasi dari kakak kelas dengan kemampuan numerasi yang memang kurang. ‘’Karena mendapat stigma negatif itu, anak mengalami distorsi kognisi sehingga menjadi antipati pada matematika,’’ ujar dosen psikologi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya Kampus Madiun itu.

Baca Juga :  Gunadi: Dikbud Ngawi Harus Fokus Pemulihan Psikologis Korban Perundungan

Cara mengajar guru juga menjadi salah satu faktor penyebab siswa tak suka matematika. Robik mengatakan, anak akan susah memahami jika cara mengajar tidak sesuai tipe belajar anak. Misal, penyampaian materi tidak disesuaikan dunia anak. ‘’Dulu, penyampaian pelajaran matematika tidak semenyenangkan bahasa Indonesia atau seni. Tapi, sekarang sudah mulai bergeser,’’ tuturnya.

Ada beberapa metode psikologi yang dapat dilakukan untuk melawan stigma negatif matematika. Baik guru maupun orang tua dapat memberi support dengan mengenalkan konsep numerasi secara multisensori. Secara visual memberi warna-warni angka. Secara audiotori dengan lagu serta kinestetik melalui berbagai permainan. ‘’Kalau secara lisan saja, akan muncul mindset bahwa matematika itu tidak menyenangkan,’’  ungkap Robik. (den/c1/sat/her)

Most Read

Artikel Terbaru

/