alexametrics
31.3 C
Madiun
Wednesday, May 18, 2022

Mampet, IPLT Kaliabu Mangkrak

MEJAYAN, Jawa Pos Radar Caruban – Pengolahan limbah kotoran manusia (tinja) setahun terakhir tersendat. Pasalnya, instalansi pengolahan lumpur tinja (IPLT) di Kaliabu, Mejayan, mampet. ‘’Setahu saya mampet sekitar Juni. Setelah saya dilantik jadi Kabid,’’ kata Kabid Cipta Karya Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Madiun Boby Saktia Putra, Selasa (30/11).

Pantauan di lokasi, kondisi IPLT yang bersebelahan dengan tempat pembuangan akhir (TPA) Kaliabu itu mengenaskan. Beberapa atapnya rusak. Sedangkan bak penampungan tinja mangkrak tidak terawat. Lumut dan rumput liar tumbuh subur di atasnya. ‘’Untuk tahun ini memang belum dapat difungsikan,’’ ujarnya.

Menurut Boby, beberapa sarana pendukung dalam pengoperasiannya juga kurang. Apalagi keempat bak penampungan pertama tinja dengan volume lima meter kubik itu mampet lantaran tidak ada pengolahan yang dilakukan. ‘’Hanya menampung, tanpa pengolahan. Jadinya mampet,’’ ungkapnya.

Baca Juga :  Awasi Titik Rawan Kerumunan

Tahun ini pihaknya melakukan pengeboran sedalam 100 meter untuk membuat sumber air. Harapannya, bak-bak penampungan yang mampet dapat disemprot air agar bisa berfungsi maksimal. ‘’Sejak 2016 didirikan, tidak ada sumber air. Biasanya mengambil air dari TPA (Kaliabu). Untuk mengatasi bak yang mampet perlu air yang debitnya tinggi,’’ paparnya.

Sementara progres pengeboran saat ini masih 70 persen dan ditargetkan rampung Desember. Pengeboran menghabiskan dana Rp 200 juta. ‘’Rencananya tahun depan bak tersebut sudah dapat digunakan untuk penampungan kembali,’’ tuturnya.

Kendala lain di IPLT, beberapa sarana pendukung belum tersedia. Aliran listrik, sumber daya manusia (SDM), hingga regulasi terkait retribusi belum ada peraturan daerah (perda)-nya. Padahal, IPLT berfungsi agar kotoran manusia tidak dibuang ke sungai. ‘’Tujuannya untuk mengurangi pencemaran air sungai,’’ pungkasnya. (tr1/c1/sat/her)

MEJAYAN, Jawa Pos Radar Caruban – Pengolahan limbah kotoran manusia (tinja) setahun terakhir tersendat. Pasalnya, instalansi pengolahan lumpur tinja (IPLT) di Kaliabu, Mejayan, mampet. ‘’Setahu saya mampet sekitar Juni. Setelah saya dilantik jadi Kabid,’’ kata Kabid Cipta Karya Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Madiun Boby Saktia Putra, Selasa (30/11).

Pantauan di lokasi, kondisi IPLT yang bersebelahan dengan tempat pembuangan akhir (TPA) Kaliabu itu mengenaskan. Beberapa atapnya rusak. Sedangkan bak penampungan tinja mangkrak tidak terawat. Lumut dan rumput liar tumbuh subur di atasnya. ‘’Untuk tahun ini memang belum dapat difungsikan,’’ ujarnya.

Menurut Boby, beberapa sarana pendukung dalam pengoperasiannya juga kurang. Apalagi keempat bak penampungan pertama tinja dengan volume lima meter kubik itu mampet lantaran tidak ada pengolahan yang dilakukan. ‘’Hanya menampung, tanpa pengolahan. Jadinya mampet,’’ ungkapnya.

Baca Juga :  Sidang Sengketa Pilkades Gandul, Ada Surat Suara Dobel

Tahun ini pihaknya melakukan pengeboran sedalam 100 meter untuk membuat sumber air. Harapannya, bak-bak penampungan yang mampet dapat disemprot air agar bisa berfungsi maksimal. ‘’Sejak 2016 didirikan, tidak ada sumber air. Biasanya mengambil air dari TPA (Kaliabu). Untuk mengatasi bak yang mampet perlu air yang debitnya tinggi,’’ paparnya.

Sementara progres pengeboran saat ini masih 70 persen dan ditargetkan rampung Desember. Pengeboran menghabiskan dana Rp 200 juta. ‘’Rencananya tahun depan bak tersebut sudah dapat digunakan untuk penampungan kembali,’’ tuturnya.

Kendala lain di IPLT, beberapa sarana pendukung belum tersedia. Aliran listrik, sumber daya manusia (SDM), hingga regulasi terkait retribusi belum ada peraturan daerah (perda)-nya. Padahal, IPLT berfungsi agar kotoran manusia tidak dibuang ke sungai. ‘’Tujuannya untuk mengurangi pencemaran air sungai,’’ pungkasnya. (tr1/c1/sat/her)

Most Read

Artikel Terbaru

/