alexametrics
24.6 C
Madiun
Thursday, August 18, 2022

Duka Pasangan Ferry-Tessa setelah Anak Divonis Hidrosefalus

NGAWI – Sejak menikah pada 2017 lalu, pasangan Ferry dan Tessa hidup bahagia meski dengan kondisi fisik memiliki keterbatasan. Namun, kebahagiaan itu perlahan sirna bersamaan penyakit hidrosefalus yang diderita sang anak.

Berjingkat dengan separo berlari, Ferry Maulana keluar dari arah dalam rumahnya. Sesaat setelah menyandarkan tongkat di samping televisi, pria itu menjatuhkan badannya ke kasur lantai ruang tamu. Lalu, buru-buru merangkul putranya yang merengek. Diusap-usapnya kepala si buah hati beberapa kali.

Bayi yang masih bersarung tangan itu tenang seusai ujung botol susu masuk ke mulutnya. Bibir merahnya tampak lahap menyesap air susu. Wajah Ferry pun semingrah memandangi putranya. ‘’Tujuh bulan, anak pertama. Namanya Mukhammad Khoiron Maulana,’’ kata Ferry.

Ferry tampak kesulitan mengarahkan botol susu kepada anaknya. Maklum, lengan kanan pria 37 tahun itu tidak selumrahnya lengan normal orang dewasa. Berukuran kecil dan tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Begitu juga dengan kaki kanannya. Sehari-hari, pangkal lengan Ferry tak lepas mengapit tongkat untuk sekadar berjalan. ‘’Katanya kena polio saat saya masih satu tahun dulu,’’ ujar warga Desa Paras, Kecamatan Pangkur, ini.

Tidak banyak yang bisa diperbuat Ferry. Pria kelahiran Malang ini mengisi kesehariannya dengan beternak ayam. Untuk sekadar memberi makan beberapa ekor unggas peliharaan di belakang rumah itu dia masih sanggup. Namun, Ferry cukup kewalahan saat kandang mesti dibersihkan. ‘’Susah memang, tapi ya mau bagaimana lagi dengan kondisi seperti ini,’’ katanya sambil memandangi lengan dan kaki kanannya.

Tidak banyak hal yang bisa dilakukan Ferry setelah memperistri Fitriana Tessa Marantika pada 2017 lalu. Sehari-harinya dia lebih banyak berkutat dengan ayam, tongkat usang yang dimilikinya belasan tahun silam, dan rengek Khoiron. ‘’Saya telanjur begini. Tapi, ingin sekali anak saya sembuh,’’ kata Ferry.

Baca Juga :  Sidak Proyek SMPN 2 Paron, Anggota DPRD Ngawi Beri Tiga Rekomendasi

Nelangsa kian menancap di dadanya sekitar dua bulan lalu. Buah hatinya divonis menderita hidrosefalus. Dia tidak tahu lagi mesti bagaimana. Lengan dan kaki polionya menjadi penyekat antara dirinya dengan lapangan pekerjaan. Kendati begitu, Ferry tetap legawa dengan semua ‘’keistimewaan’’ yang dimilikinya. ‘’Tahunya kena hidrosefalus setelah berobat ke puskesmas (Pangkur),’’ ungkapnya.

Susu dalam botol habis. Khoiron terdiam di bopongan ayahnya. Sementara, dari arah luar sayup tedengar bunyi kerat rantai sepeda saat pedal tidak dikayuh. Sejurus kemudian, seorang perempuan sambil ngindhit baskom muncul dari mulut pintu. ‘’Ibunya Khoiron,’’ kata Ferry memperkenalkan Fitriana Tessa Marantika istrinya.

Tessa yang (maaf) kerdil – tubuhnnya hanya setinggi pinggang orang dewasa- itu lantas menuju dapur. Gemercik air terdengar. Beberapa waktu berselang, dia keluar sambil mengelapi botol yang masih basah. Langkah kakinya yang membentuk huruf O akhirnya berhenti di samping termos tak jauh dari tempat suami dan anaknya duduk. Lengan-lengannya yang kecil cekatan membuka, lalu mengisi ulang botol susu. ‘’Sejak lahir saya seperti ini,’’ katanya

Khoiron berpindah ke gendongan Tessa. Mata perempuan tersebut perlahan membasah. Itu seiring kisah yang keluar dari mulut Tessa mengenai kondisi buah hatinya. ‘’Badannya menjadi semakin lemas. Kepalanya juga tambah membesar. Sebelum dibawa ke puskesmas, badannya panas, tidak bisa BAB, dan rewel terus,’’ ungkapnya.

Jenis penyakit pembesaran rongga otak akibat penumpukan cairan yang diderita Khoiron itu dengan sekejap merenggut kebahagiaan Tessa dan suami. ‘’Sekarang tidak bisa guling-guling dan tengkurap seperti biasanya,’’ ujar Tessa dengan suara tertahan.

Besar harapan si buah hati tumbuh dan berkembang normal mendekam di benak Tessa. Dengan tabungan hasil berjualan gorengan, Tessa berniat mencarikan obat untuk anaknya. ‘’Allah pasti akan memberikan pertolongan,’’ ucapnya. ***(isd)

NGAWI – Sejak menikah pada 2017 lalu, pasangan Ferry dan Tessa hidup bahagia meski dengan kondisi fisik memiliki keterbatasan. Namun, kebahagiaan itu perlahan sirna bersamaan penyakit hidrosefalus yang diderita sang anak.

Berjingkat dengan separo berlari, Ferry Maulana keluar dari arah dalam rumahnya. Sesaat setelah menyandarkan tongkat di samping televisi, pria itu menjatuhkan badannya ke kasur lantai ruang tamu. Lalu, buru-buru merangkul putranya yang merengek. Diusap-usapnya kepala si buah hati beberapa kali.

Bayi yang masih bersarung tangan itu tenang seusai ujung botol susu masuk ke mulutnya. Bibir merahnya tampak lahap menyesap air susu. Wajah Ferry pun semingrah memandangi putranya. ‘’Tujuh bulan, anak pertama. Namanya Mukhammad Khoiron Maulana,’’ kata Ferry.

Ferry tampak kesulitan mengarahkan botol susu kepada anaknya. Maklum, lengan kanan pria 37 tahun itu tidak selumrahnya lengan normal orang dewasa. Berukuran kecil dan tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Begitu juga dengan kaki kanannya. Sehari-hari, pangkal lengan Ferry tak lepas mengapit tongkat untuk sekadar berjalan. ‘’Katanya kena polio saat saya masih satu tahun dulu,’’ ujar warga Desa Paras, Kecamatan Pangkur, ini.

Tidak banyak yang bisa diperbuat Ferry. Pria kelahiran Malang ini mengisi kesehariannya dengan beternak ayam. Untuk sekadar memberi makan beberapa ekor unggas peliharaan di belakang rumah itu dia masih sanggup. Namun, Ferry cukup kewalahan saat kandang mesti dibersihkan. ‘’Susah memang, tapi ya mau bagaimana lagi dengan kondisi seperti ini,’’ katanya sambil memandangi lengan dan kaki kanannya.

Tidak banyak hal yang bisa dilakukan Ferry setelah memperistri Fitriana Tessa Marantika pada 2017 lalu. Sehari-harinya dia lebih banyak berkutat dengan ayam, tongkat usang yang dimilikinya belasan tahun silam, dan rengek Khoiron. ‘’Saya telanjur begini. Tapi, ingin sekali anak saya sembuh,’’ kata Ferry.

Baca Juga :  Sidak Proyek SMPN 2 Paron, Anggota DPRD Ngawi Beri Tiga Rekomendasi

Nelangsa kian menancap di dadanya sekitar dua bulan lalu. Buah hatinya divonis menderita hidrosefalus. Dia tidak tahu lagi mesti bagaimana. Lengan dan kaki polionya menjadi penyekat antara dirinya dengan lapangan pekerjaan. Kendati begitu, Ferry tetap legawa dengan semua ‘’keistimewaan’’ yang dimilikinya. ‘’Tahunya kena hidrosefalus setelah berobat ke puskesmas (Pangkur),’’ ungkapnya.

Susu dalam botol habis. Khoiron terdiam di bopongan ayahnya. Sementara, dari arah luar sayup tedengar bunyi kerat rantai sepeda saat pedal tidak dikayuh. Sejurus kemudian, seorang perempuan sambil ngindhit baskom muncul dari mulut pintu. ‘’Ibunya Khoiron,’’ kata Ferry memperkenalkan Fitriana Tessa Marantika istrinya.

Tessa yang (maaf) kerdil – tubuhnnya hanya setinggi pinggang orang dewasa- itu lantas menuju dapur. Gemercik air terdengar. Beberapa waktu berselang, dia keluar sambil mengelapi botol yang masih basah. Langkah kakinya yang membentuk huruf O akhirnya berhenti di samping termos tak jauh dari tempat suami dan anaknya duduk. Lengan-lengannya yang kecil cekatan membuka, lalu mengisi ulang botol susu. ‘’Sejak lahir saya seperti ini,’’ katanya

Khoiron berpindah ke gendongan Tessa. Mata perempuan tersebut perlahan membasah. Itu seiring kisah yang keluar dari mulut Tessa mengenai kondisi buah hatinya. ‘’Badannya menjadi semakin lemas. Kepalanya juga tambah membesar. Sebelum dibawa ke puskesmas, badannya panas, tidak bisa BAB, dan rewel terus,’’ ungkapnya.

Jenis penyakit pembesaran rongga otak akibat penumpukan cairan yang diderita Khoiron itu dengan sekejap merenggut kebahagiaan Tessa dan suami. ‘’Sekarang tidak bisa guling-guling dan tengkurap seperti biasanya,’’ ujar Tessa dengan suara tertahan.

Besar harapan si buah hati tumbuh dan berkembang normal mendekam di benak Tessa. Dengan tabungan hasil berjualan gorengan, Tessa berniat mencarikan obat untuk anaknya. ‘’Allah pasti akan memberikan pertolongan,’’ ucapnya. ***(isd)

Most Read

Artikel Terbaru

/