alexametrics
31.3 C
Madiun
Wednesday, May 18, 2022

Agus Purwanto, Guru Honorer di Ngawi yang Juga Pengepul Biji Sengon

NGAWI, Jawa Pos Radar Ngawi – Tinggal di dekat hutan sengon menjadi keuntungan bagi guru honorer ini. Pengajar bahasa Inggris itu menjadi pengepul biji tanaman tersebut. Penghasilannya dari usaha itu lebih besar dari gaji guru tidak tetap.

Di wilayah tempat tinggalnya, Agus memang dikenal menggeluti dua pekerjaan. Saban pagi mengajar, siang hingga sorenya sebagai pengepul biji sengon kering. Usaha yang disebutkan terakhir itu telah dilakoni sejak 2013 silam. ‘’Jadi sumber penghidupan lain. Kalau cuma mengandalkan gaji honorer tidak akan cukup,’’ ujar warga Desa Banyubiru, Widodaren, itu, Jumat (1/10).

Agus mampu mengumpulkan lima hingga delapan kuintal biji sengon kering per pekannya. Biji berwarna cokelat itu lantas dijual kembali ke pengepul dengan jaringan lebih luas. Pria 36 tahun itu punya pelanggan tetap di Ngawi, Madiun, Tuban, dan Probolinggo. Pendapatan bersihnya rata-rata Rp 9 juta per bulan.

Laba itu sudah dipotong modal Rp 300 ribu untuk membeli biji sengon warga. Sedangkan bayaran sebagai guru tidak tetap hanya Rp 250 ribu per bulan. Dengan kalimat lain, penghasilan dari pekerjaan sampingannya itu lebih menguntungkan 36 kali lipat. ‘’Cukup menguntungkan. Juga membantu masyarakat mendapatkan penghasilan tambahan,’’ ucapnya.

Baca Juga :  Dua Polsek Buru Pelaku Pencuri Grill Drainase

Ide menjadi pengepul datang ketika delapan tahun silam Agus jalan-jalan di kawasan hutan tempat tinggalnya. Dia penasaran manfaat pohon sengon buto yang banyak tumbuh dan berbuah di area tersebut. Suami Ani Fatimah itu lantas berseluncur di dunia maya untuk mencari tahu. ‘’Ternyata dapat mengobati berbagai gangguan kesehatan. Juga peluang bisnis yang menjanjikan,’’ tuturnya sembari menekankan bahwa guru masih menjadi profesi utamanya.

Awalnya, Agus mengumpulkan biji sengon sendirian di hutan. Namun, dia akhirnya menawarkan warga untuk ikut mencari dan menjual kepadanya. Tenaganya yang terbatas dan banyaknya pohon sengon membuatnya tidak bisa bekerja sendirian. ‘’Istri juga berinovasi dengan menggoreng biji sengon. Dijual Rp 60 ribu per kilogram,’’ ungkapnya.

Kendati pohon sengon melimpah, namun berbuahnya hanya setahun sekali. Pun, hanya dapat dipanen dalam kurun dua sampai tiga bulan. Hal tersebut menjadi kendala bagi Agus. Upaya mengembangkan jangkauan pemasok biji sengon terkendala jarak. ‘’Ada warga Sine yang menjual ke saya,’’ sebutnya. (tr3/cor/c1/her)

NGAWI, Jawa Pos Radar Ngawi – Tinggal di dekat hutan sengon menjadi keuntungan bagi guru honorer ini. Pengajar bahasa Inggris itu menjadi pengepul biji tanaman tersebut. Penghasilannya dari usaha itu lebih besar dari gaji guru tidak tetap.

Di wilayah tempat tinggalnya, Agus memang dikenal menggeluti dua pekerjaan. Saban pagi mengajar, siang hingga sorenya sebagai pengepul biji sengon kering. Usaha yang disebutkan terakhir itu telah dilakoni sejak 2013 silam. ‘’Jadi sumber penghidupan lain. Kalau cuma mengandalkan gaji honorer tidak akan cukup,’’ ujar warga Desa Banyubiru, Widodaren, itu, Jumat (1/10).

Agus mampu mengumpulkan lima hingga delapan kuintal biji sengon kering per pekannya. Biji berwarna cokelat itu lantas dijual kembali ke pengepul dengan jaringan lebih luas. Pria 36 tahun itu punya pelanggan tetap di Ngawi, Madiun, Tuban, dan Probolinggo. Pendapatan bersihnya rata-rata Rp 9 juta per bulan.

Laba itu sudah dipotong modal Rp 300 ribu untuk membeli biji sengon warga. Sedangkan bayaran sebagai guru tidak tetap hanya Rp 250 ribu per bulan. Dengan kalimat lain, penghasilan dari pekerjaan sampingannya itu lebih menguntungkan 36 kali lipat. ‘’Cukup menguntungkan. Juga membantu masyarakat mendapatkan penghasilan tambahan,’’ ucapnya.

Baca Juga :  Lebih dari Seribu Surat Suara Pemilu Rusak

Ide menjadi pengepul datang ketika delapan tahun silam Agus jalan-jalan di kawasan hutan tempat tinggalnya. Dia penasaran manfaat pohon sengon buto yang banyak tumbuh dan berbuah di area tersebut. Suami Ani Fatimah itu lantas berseluncur di dunia maya untuk mencari tahu. ‘’Ternyata dapat mengobati berbagai gangguan kesehatan. Juga peluang bisnis yang menjanjikan,’’ tuturnya sembari menekankan bahwa guru masih menjadi profesi utamanya.

Awalnya, Agus mengumpulkan biji sengon sendirian di hutan. Namun, dia akhirnya menawarkan warga untuk ikut mencari dan menjual kepadanya. Tenaganya yang terbatas dan banyaknya pohon sengon membuatnya tidak bisa bekerja sendirian. ‘’Istri juga berinovasi dengan menggoreng biji sengon. Dijual Rp 60 ribu per kilogram,’’ ungkapnya.

Kendati pohon sengon melimpah, namun berbuahnya hanya setahun sekali. Pun, hanya dapat dipanen dalam kurun dua sampai tiga bulan. Hal tersebut menjadi kendala bagi Agus. Upaya mengembangkan jangkauan pemasok biji sengon terkendala jarak. ‘’Ada warga Sine yang menjual ke saya,’’ sebutnya. (tr3/cor/c1/her)

Most Read

Artikel Terbaru

/