alexametrics
27.3 C
Madiun
Saturday, May 21, 2022

Bupati Ony Ingin Cetak 2 Ribu Tenaga Terampil dari BLK

NGAWI, Jawa Pos Radar Madiun – Kualifikasi calon pekerja di Ngawi tidak relevan terhadap tuntutan zaman. Persoalan itu menjadi salah satu biang lebih dari 21 ribu orang menganggur. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) setempat tahun lalu. ‘’Skill yang dimiliki pencari kerja tidak sesuai kebutuhan industri saat ini,’’ kata Kabid Tenaga Kerja Dinas Perdagangan, Perindustrian, dan Tenaga Kerja (DPPTK) Ngawi Supriyadi, Rabu (2/3).

Supriyadi mengambil contoh salah satu perusahaan alas kaki yang membuka lowongan beberapa waktu lalu. Perusahaan itu membutuhkan 150 karyawan baru. Kualifikasinya mampu menjahit. Kendati pelamarnya banyak, namun tidak ada satu pun yang diterima. ‘’Karena mereka tidak memiliki keterampilan mengoperasikan mesin jahit,’’ ujarnya.

Data BPS, para penganggur didominasi lulusan SMK. Jumlahnya 7.254 orang. Supriyadi menilai realita itu buntut ketidaksesuaian ilmu yang dikuasai dengan kebutuhan pekerjaan. ‘’Di Ngawi banyak lowongan pekerjaan menjahit, tapi SMK dengan jurusan tata busana sedikit, kebanyakan otomotif,’’ ungkapnya.

Baca Juga :  Bagian Lantai Jembatan Dungus Bakal Dibongkar Total

Terlepas ketidaksesuaian skill pekerja dengan kebutuhan industri, DPPTK tetap memfasilitasi pencarian kerja melalui job fair. Selain itu, menggelar pelatihan di balai latihan kerja (BLK). Kegiatan itu menitikberatkan pembekalan keterampilan khusus kepada calon pencari kerja. Antara lain, teknik otomotif, komputer, tata boga, dan tata rias. ‘’Harapannya, peserta dapat memanfaatkan ilmunya untuk melamar di perusahaan atau berwirausaha,’’ terang Supriyadi.

Bupati Ony Anwar Harsono, lanjut dia, memberi target DPPTK untuk melahirkan 2.000 tenaga terampil dari BLK saban tahunnya. Tuntutan itu demi menyambut industrialisasi kabupaten ini. ‘’Yang menjadi kendala, anggaran pelatihannya terbatas,’’ pungkasnya. (tr1/c1/cor/her)

NGAWI, Jawa Pos Radar Madiun – Kualifikasi calon pekerja di Ngawi tidak relevan terhadap tuntutan zaman. Persoalan itu menjadi salah satu biang lebih dari 21 ribu orang menganggur. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) setempat tahun lalu. ‘’Skill yang dimiliki pencari kerja tidak sesuai kebutuhan industri saat ini,’’ kata Kabid Tenaga Kerja Dinas Perdagangan, Perindustrian, dan Tenaga Kerja (DPPTK) Ngawi Supriyadi, Rabu (2/3).

Supriyadi mengambil contoh salah satu perusahaan alas kaki yang membuka lowongan beberapa waktu lalu. Perusahaan itu membutuhkan 150 karyawan baru. Kualifikasinya mampu menjahit. Kendati pelamarnya banyak, namun tidak ada satu pun yang diterima. ‘’Karena mereka tidak memiliki keterampilan mengoperasikan mesin jahit,’’ ujarnya.

Data BPS, para penganggur didominasi lulusan SMK. Jumlahnya 7.254 orang. Supriyadi menilai realita itu buntut ketidaksesuaian ilmu yang dikuasai dengan kebutuhan pekerjaan. ‘’Di Ngawi banyak lowongan pekerjaan menjahit, tapi SMK dengan jurusan tata busana sedikit, kebanyakan otomotif,’’ ungkapnya.

Baca Juga :  Pemerintah Kucurkan Bantuan Rp 12 Miliar ke PKL dan Pedagang Warung di Ngawi

Terlepas ketidaksesuaian skill pekerja dengan kebutuhan industri, DPPTK tetap memfasilitasi pencarian kerja melalui job fair. Selain itu, menggelar pelatihan di balai latihan kerja (BLK). Kegiatan itu menitikberatkan pembekalan keterampilan khusus kepada calon pencari kerja. Antara lain, teknik otomotif, komputer, tata boga, dan tata rias. ‘’Harapannya, peserta dapat memanfaatkan ilmunya untuk melamar di perusahaan atau berwirausaha,’’ terang Supriyadi.

Bupati Ony Anwar Harsono, lanjut dia, memberi target DPPTK untuk melahirkan 2.000 tenaga terampil dari BLK saban tahunnya. Tuntutan itu demi menyambut industrialisasi kabupaten ini. ‘’Yang menjadi kendala, anggaran pelatihannya terbatas,’’ pungkasnya. (tr1/c1/cor/her)

Most Read

Artikel Terbaru

/