alexametrics
24.1 C
Madiun
Thursday, May 26, 2022

Keluh Kesah Para Pedagang Food Court Taman Dungus

NGAWI, Jawa Pos Radar Madiun – Genap tiga pekan Dwi Winartin tidak menempati los berjualannya di sentra kuliner Taman Dungus. Pedagang makanan dan minuman itu merasa percuma buka dasar lantaran ujung-ujungnya tidak ada pembeli. Padahal food court bernama lain sculpture zona 5 Taman Dungus itu beroperasi pagi hingga malam. ‘’Pengunjungnya sepi,’’ kata Dwi.

Kala ditemui Jawa Pos Radar Ngawi Minggu (28/2), Dwi sebatas membersihkan tempat berjualan yang ditempatinya sejak 14 Januari lalu. Perempuan yang tinggal di Desa Dungus, Ngawi, itu bercerita bahwa pemasukannya turun drastis. Ketika berjualan di Jalan Sukowati, dia mampu membawa pulang duit rata-rata Rp 100 ribu per hari. ‘’Kalau saat ini sehari belum tentu dapat Rp 30 ribu,’’ keluhnya.

Dwi kebingungan lantaran menjadi tulang punggung keluarga. Suaminya sedang sakit dan tidak sanggup bekerja. ‘’Padahal butuh biaya untuk hidup, berobat, dan bayar angsuran setiap bulan,’’ ungkap ibu dua anak tersebut.

Fitri Kumala sependeritaan dengan Dwi. Dagangan mi ayamnya tidak laku. Dia menduga pusat jajanan selera rakyat (pujasera) yang selesai dibangun tahun lalu itu belum banyak diketahui orang. Fasilitas penunjung promosi dirasa kurang. ‘’Dari jalan tidak kelihatan kalau ada tempat makan, bahkan pengunjung taman juga sedikit,’’ tuturnya sembari menyebut lampu bertuliskan Taman Dungus dan taman mati sejak dua pekan lalu.

Baca Juga :  Kadinkes Ngawi Minta Vaksinator Tidak Libur Menyuntik saat Ramadan

Sumartin, pedagang makanan dan minuman lainnya, berharap pemkab membuat papan penunjuk food court. Supaya pengguna jalan mengetahui lokasinya. Selain itu, memperbaiki atap bocor yang sementara ini diperbaiki secara swadaya oleh pedagang. ‘’Kalau dibiarkan tanpa perhatian, kami tidak bisa bertahan karena pemasukannya tidak cukup,’’ ungkapnya.

Kepala Dinas Perdagangan, Perindustrian, dan Tenaga Kerja Ngawi Yusuf Rosyadi belum dapat berkomentar banyak. Dia beralasan perlu melihat dari dekat persoalan yang dialami pedagang. Apalagi, penataan dan pembangunan food court dikerjakan dinas lingkungan hidup (DLH). ‘’Butuh pertimbangan dan harus melihat kondisi di lapangan,’’ ucapnya.

Kabid Tata Lingkungan dan Pertamanan DLH Ngawi Joko Sutrisno menyampaikan, upaya menarik perhatian pengunjung salah satunya lewat pemeliharaan Taman Dungus. Pihaknya berupaya menjaga ruang terbuka hijau itu tetap rapi, bersih, dan hijau. ‘’Bagus kalau paguyuban (pedagang, Red) mau berpartisipasi membuat papan nama supaya usahanya terlihat,’’ ujarnya. (tr1/cor/c1/her)

NGAWI, Jawa Pos Radar Madiun – Genap tiga pekan Dwi Winartin tidak menempati los berjualannya di sentra kuliner Taman Dungus. Pedagang makanan dan minuman itu merasa percuma buka dasar lantaran ujung-ujungnya tidak ada pembeli. Padahal food court bernama lain sculpture zona 5 Taman Dungus itu beroperasi pagi hingga malam. ‘’Pengunjungnya sepi,’’ kata Dwi.

Kala ditemui Jawa Pos Radar Ngawi Minggu (28/2), Dwi sebatas membersihkan tempat berjualan yang ditempatinya sejak 14 Januari lalu. Perempuan yang tinggal di Desa Dungus, Ngawi, itu bercerita bahwa pemasukannya turun drastis. Ketika berjualan di Jalan Sukowati, dia mampu membawa pulang duit rata-rata Rp 100 ribu per hari. ‘’Kalau saat ini sehari belum tentu dapat Rp 30 ribu,’’ keluhnya.

Dwi kebingungan lantaran menjadi tulang punggung keluarga. Suaminya sedang sakit dan tidak sanggup bekerja. ‘’Padahal butuh biaya untuk hidup, berobat, dan bayar angsuran setiap bulan,’’ ungkap ibu dua anak tersebut.

Fitri Kumala sependeritaan dengan Dwi. Dagangan mi ayamnya tidak laku. Dia menduga pusat jajanan selera rakyat (pujasera) yang selesai dibangun tahun lalu itu belum banyak diketahui orang. Fasilitas penunjung promosi dirasa kurang. ‘’Dari jalan tidak kelihatan kalau ada tempat makan, bahkan pengunjung taman juga sedikit,’’ tuturnya sembari menyebut lampu bertuliskan Taman Dungus dan taman mati sejak dua pekan lalu.

Baca Juga :  Mobil Elf Celaka di Tol, Satu Tewas, Enam Luka

Sumartin, pedagang makanan dan minuman lainnya, berharap pemkab membuat papan penunjuk food court. Supaya pengguna jalan mengetahui lokasinya. Selain itu, memperbaiki atap bocor yang sementara ini diperbaiki secara swadaya oleh pedagang. ‘’Kalau dibiarkan tanpa perhatian, kami tidak bisa bertahan karena pemasukannya tidak cukup,’’ ungkapnya.

Kepala Dinas Perdagangan, Perindustrian, dan Tenaga Kerja Ngawi Yusuf Rosyadi belum dapat berkomentar banyak. Dia beralasan perlu melihat dari dekat persoalan yang dialami pedagang. Apalagi, penataan dan pembangunan food court dikerjakan dinas lingkungan hidup (DLH). ‘’Butuh pertimbangan dan harus melihat kondisi di lapangan,’’ ucapnya.

Kabid Tata Lingkungan dan Pertamanan DLH Ngawi Joko Sutrisno menyampaikan, upaya menarik perhatian pengunjung salah satunya lewat pemeliharaan Taman Dungus. Pihaknya berupaya menjaga ruang terbuka hijau itu tetap rapi, bersih, dan hijau. ‘’Bagus kalau paguyuban (pedagang, Red) mau berpartisipasi membuat papan nama supaya usahanya terlihat,’’ ujarnya. (tr1/cor/c1/her)

Most Read

Artikel Terbaru

/