alexametrics
30.1 C
Madiun
Sunday, May 22, 2022

Seperempat Abad Parlan Bergelut dengan Reparasi Emas

Parlan tidak bisa lepas dari kegiatan mematri dan menyepuh emas perhiasan. Meski lulusan perguruan tinggi, dia memilih menekuni pekerjaan yang membantunya bertahan kuliah. Bagaimana kisahnya?

=================== 

DUWI SUSILO, Ngawi, Jawa Pos Radar Ngawi

LORONG sempit Pasar Besar Ngawi itu berjejal banyak pedagang. Satu di antaranya Parlan yang menempati lapak seluas delapan meter. Ditemani suara radio tua, pria 54 tahun itu konsentrasi mematri perhiasan emas yang patah.

Bergantian tangan kirinya memegang pinset dan tang untuk mengembalikan bagian barang itu ke bentuk semula. Proses tersebut dibantu panas api yang keluar dari alat modifikasi buatannya. ‘’Semacam peralatan tukang las, ada pengatur besar dan kecilnya api,’’ katanya.

Di pasar tradisional itu, Parlan adalah penjual jasa reparasi emas. Selain mematri atau menambal dan menyambung bagian perhiasan yang rusak, dia juga menyepuh serta mencuci emas perhiasan.  ‘’Kalau mematri sudah pasti sekalian menyepuh, tapi kalau menyepuh belum tentu mematri,’’ ujarnya.

Jasa itu sudah ditawarkan Parlan sejak 25 tahun silam. Ribuan perhiasan emas telah diperbaiki dan disepuh. Keterampilannya itu mulai tidak diminati sejak krisis moneter (krismon) 1998. Jumlah penyedia jasanya juga semakin berkurang. Kini hanya tersisa tiga orang dari sebelumnya belasan. ‘’Dulu sering lembur sampai larut malam. Sekarang, bisa lima pelanggan dalam sehari sudah bagus,’’ ungkap warga Desa Tamanan, Sukomoro, Magetan, tersebut.

Baca Juga :  Temukan Mayat Mr X di Pinggir Jalan

Meski begitu, Parlan tidak berkecil hati. Bapak satu anak itu yakin jasanya tetap dibutuhkan sampai kapan pun. Sebab, emas atau perhiasan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perempuan. Pun dari hasil usahanya itu anaknya bisa kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta. ‘’Saya pasang tarif mulai Rp 10 ribu sampai Rp 30 ribu. Tergantung besar kecilnya perhiasan dan jenis perawatannya,’’ terang Parlan.

Dia sejatinya lulusan S-1 IKIP Surabaya (sekarang Universitas Negeri Surabaya). Namun, dia memilih bekerja sebagai penyepuh emas karena telanjur cinta. Sebab, pekerjaan itu yang membuatnya sanggup membiayai kuliah dan memenuhi kebutuhan sehari-hari di perantauan. ‘’Sambil kuliah, saya kerja menyepuh emas,’’ katanya. ***(cor/c1)

Parlan tidak bisa lepas dari kegiatan mematri dan menyepuh emas perhiasan. Meski lulusan perguruan tinggi, dia memilih menekuni pekerjaan yang membantunya bertahan kuliah. Bagaimana kisahnya?

=================== 

DUWI SUSILO, Ngawi, Jawa Pos Radar Ngawi

LORONG sempit Pasar Besar Ngawi itu berjejal banyak pedagang. Satu di antaranya Parlan yang menempati lapak seluas delapan meter. Ditemani suara radio tua, pria 54 tahun itu konsentrasi mematri perhiasan emas yang patah.

Bergantian tangan kirinya memegang pinset dan tang untuk mengembalikan bagian barang itu ke bentuk semula. Proses tersebut dibantu panas api yang keluar dari alat modifikasi buatannya. ‘’Semacam peralatan tukang las, ada pengatur besar dan kecilnya api,’’ katanya.

Di pasar tradisional itu, Parlan adalah penjual jasa reparasi emas. Selain mematri atau menambal dan menyambung bagian perhiasan yang rusak, dia juga menyepuh serta mencuci emas perhiasan.  ‘’Kalau mematri sudah pasti sekalian menyepuh, tapi kalau menyepuh belum tentu mematri,’’ ujarnya.

Jasa itu sudah ditawarkan Parlan sejak 25 tahun silam. Ribuan perhiasan emas telah diperbaiki dan disepuh. Keterampilannya itu mulai tidak diminati sejak krisis moneter (krismon) 1998. Jumlah penyedia jasanya juga semakin berkurang. Kini hanya tersisa tiga orang dari sebelumnya belasan. ‘’Dulu sering lembur sampai larut malam. Sekarang, bisa lima pelanggan dalam sehari sudah bagus,’’ ungkap warga Desa Tamanan, Sukomoro, Magetan, tersebut.

Baca Juga :  Jembatan Ngantru Bakal Dibongkar Total

Meski begitu, Parlan tidak berkecil hati. Bapak satu anak itu yakin jasanya tetap dibutuhkan sampai kapan pun. Sebab, emas atau perhiasan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perempuan. Pun dari hasil usahanya itu anaknya bisa kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta. ‘’Saya pasang tarif mulai Rp 10 ribu sampai Rp 30 ribu. Tergantung besar kecilnya perhiasan dan jenis perawatannya,’’ terang Parlan.

Dia sejatinya lulusan S-1 IKIP Surabaya (sekarang Universitas Negeri Surabaya). Namun, dia memilih bekerja sebagai penyepuh emas karena telanjur cinta. Sebab, pekerjaan itu yang membuatnya sanggup membiayai kuliah dan memenuhi kebutuhan sehari-hari di perantauan. ‘’Sambil kuliah, saya kerja menyepuh emas,’’ katanya. ***(cor/c1)

Most Read

Artikel Terbaru

/