alexametrics
25.6 C
Madiun
Friday, May 20, 2022

Pemkab Ngawi Buka Opsi Tawarkan Pengelolaan Kafe Tawun ke Pihak Luar

NGAWI, Jawa Pos Radar Madiun – Pengelola Kafe Tawun di Wisata Taman Tawun, Ngawi, belum mampu membujuk pedagang kaki lima (PKL) wisata setempat. Alhasil, kafe bergaya milenial berdaya tampung empat pelaku usaha itu masih lowong.

Kepala Disparpora Ngawi Raden Rudi Sulisdiana memberikan batas waktu jawaban atas penawaran sampai selesai Lebaran. Bila memang tidak ada yang berminat, mau tidak mau bakal ditawarkan ke orang di luar Wisata Tawun. ‘’Kami memprioritaskan pengelola kafe adalah warga asli Tawun,’’ ujarnya, Jumat (6/5).

Menurut Rudi, penolakan karang taruna setempat atas pembangunan kafe karena kesalahpahaman. Pemilihan titik bangunan dinilai bertentangan dengan kearifan lokal desa setempat. Yakni, membelakangi tempat makam leluhurnya. Padahal, pihaknya memilih lokasi tersebut agar tidak menyalahi ketentuan. ‘’Kami harus membangun di tanah milik pemkab, bukan pemdes,’’ ucapnya.

Baca Juga :  Ancaman Omicron Bisa Picu Fasyankes Kolaps

Karang taruna juga menilai bahwa lokasinya tidak strategis. Sebab, berada jauh dari pintu gerbang. Rudi mengklaim keputusan itu demi menciptakan fasilitas baru di Taman Tawun. Lahan paling belakang selama ini sebagai tempat pembuangan sampah. Pihaknya menyulapnya menjadi taman. ‘’Pelengkapnya didirikanlah kafe, supaya pengunjung tidak terkonsentrasi hanya di bagian depan,’’ ujarnya.

Mengapa memberikan deadline jawaban sampai setelah Lebaran? Rudi menjelaskan bahwa festival pasar rakyat di Taman Tawun bakal dibuka kembali bulan ini. Berkaca pengalaman sebelumnya, pasar jadul itu mampu menyedot tujuh ribu pengunjung setiap pekannya. ‘’Momentum kafe menjadi daya tarik pengunjung,’’ pungkasnya. (sae/c1/cor/her)

NGAWI, Jawa Pos Radar Madiun – Pengelola Kafe Tawun di Wisata Taman Tawun, Ngawi, belum mampu membujuk pedagang kaki lima (PKL) wisata setempat. Alhasil, kafe bergaya milenial berdaya tampung empat pelaku usaha itu masih lowong.

Kepala Disparpora Ngawi Raden Rudi Sulisdiana memberikan batas waktu jawaban atas penawaran sampai selesai Lebaran. Bila memang tidak ada yang berminat, mau tidak mau bakal ditawarkan ke orang di luar Wisata Tawun. ‘’Kami memprioritaskan pengelola kafe adalah warga asli Tawun,’’ ujarnya, Jumat (6/5).

Menurut Rudi, penolakan karang taruna setempat atas pembangunan kafe karena kesalahpahaman. Pemilihan titik bangunan dinilai bertentangan dengan kearifan lokal desa setempat. Yakni, membelakangi tempat makam leluhurnya. Padahal, pihaknya memilih lokasi tersebut agar tidak menyalahi ketentuan. ‘’Kami harus membangun di tanah milik pemkab, bukan pemdes,’’ ucapnya.

Baca Juga :  Tamar Raup Keuntungan Jual Air Bersih saat Kemarau

Karang taruna juga menilai bahwa lokasinya tidak strategis. Sebab, berada jauh dari pintu gerbang. Rudi mengklaim keputusan itu demi menciptakan fasilitas baru di Taman Tawun. Lahan paling belakang selama ini sebagai tempat pembuangan sampah. Pihaknya menyulapnya menjadi taman. ‘’Pelengkapnya didirikanlah kafe, supaya pengunjung tidak terkonsentrasi hanya di bagian depan,’’ ujarnya.

Mengapa memberikan deadline jawaban sampai setelah Lebaran? Rudi menjelaskan bahwa festival pasar rakyat di Taman Tawun bakal dibuka kembali bulan ini. Berkaca pengalaman sebelumnya, pasar jadul itu mampu menyedot tujuh ribu pengunjung setiap pekannya. ‘’Momentum kafe menjadi daya tarik pengunjung,’’ pungkasnya. (sae/c1/cor/her)

Most Read

Artikel Terbaru

/