alexametrics
28.9 C
Madiun
Friday, July 1, 2022

Atribut Tujuh Belasan Belum Dilirik Pembeli

NGAWI, Jawa Pos Radar Ngawi – Memasuki bulan Agustus, pedagang atribut perayaan tujuh belasan mulai menyerbu Ngawi. Bahkan, tidak sedikit yang membuka lapak sejak Juli lalu. Mereka sengaja menggelar dagangan di pinggir jalan protokol yang strategis demi menggaet pembeli. ‘’Masih sedikit yang beli,’’ kata Wawan Suyanto, salah seorang pedagang bendera, Senin (5/8).

Wawan yang membuka lapak tak jauh dari perempatan Kartonyono itu mengaku berjualan pernik Agustusan sejak pekan ketiga Juli lalu. Meski begitu, sejauh ini dalam sehari hanya mampu menjual dua hingga tiga bendera dan umbul-umbul. ‘’Dulu lumayan hasilnya. Tapi, sejak 2011 penjualan sepi,’’ ungkap pria asal Bandung, Jawa Barat, itu.

Wawan mengaku sekadar menjualkan dagangan milik seorang pengusaha di kotanya. Per omzet Rp 1 juta dia hanya mendapat komisi Rp 150 ribu. Selama dua pekan berjualan, bapak dua anak itu mengaku baru mengantongi omzet Rp 1,7 juta.

Baca Juga :  Tujuh Tempat Karaoke di Ngawi Dilarang Beroperasi, Mana Saja?

Jika dikalkulasi dengan biaya makan dan menginap, dia sangsi modal yang telah dikeluarkan bakal kembali. ‘’Tahun lalu dari tiga karung yang dibawa ke sini (Ngawi, Red) hanya terjual satu karung,’’ terang Wawan sembari menyebut harga bendera dan umbul-umbul berkisar Rp 20 ribu hingga Rp 40 ribu.

Meski begitu, pria yang di luar momen Agustusan sehari-hari bekerja sebagai kuli pasir itu berharap pada pekan terakhir menjelang 17 Agustus kelak dagangannya laris manis. ‘’Biasanya dinas-dinas atau perusahaan belinya borongan, bisa sampai Rp 3 juta,’’ ungkapnya. (gen/c1/isd)

NGAWI, Jawa Pos Radar Ngawi – Memasuki bulan Agustus, pedagang atribut perayaan tujuh belasan mulai menyerbu Ngawi. Bahkan, tidak sedikit yang membuka lapak sejak Juli lalu. Mereka sengaja menggelar dagangan di pinggir jalan protokol yang strategis demi menggaet pembeli. ‘’Masih sedikit yang beli,’’ kata Wawan Suyanto, salah seorang pedagang bendera, Senin (5/8).

Wawan yang membuka lapak tak jauh dari perempatan Kartonyono itu mengaku berjualan pernik Agustusan sejak pekan ketiga Juli lalu. Meski begitu, sejauh ini dalam sehari hanya mampu menjual dua hingga tiga bendera dan umbul-umbul. ‘’Dulu lumayan hasilnya. Tapi, sejak 2011 penjualan sepi,’’ ungkap pria asal Bandung, Jawa Barat, itu.

Wawan mengaku sekadar menjualkan dagangan milik seorang pengusaha di kotanya. Per omzet Rp 1 juta dia hanya mendapat komisi Rp 150 ribu. Selama dua pekan berjualan, bapak dua anak itu mengaku baru mengantongi omzet Rp 1,7 juta.

Baca Juga :  Pedagang Dua Pasar di Ngawi Digelontor 5.800 Liter Minyak Goreng

Jika dikalkulasi dengan biaya makan dan menginap, dia sangsi modal yang telah dikeluarkan bakal kembali. ‘’Tahun lalu dari tiga karung yang dibawa ke sini (Ngawi, Red) hanya terjual satu karung,’’ terang Wawan sembari menyebut harga bendera dan umbul-umbul berkisar Rp 20 ribu hingga Rp 40 ribu.

Meski begitu, pria yang di luar momen Agustusan sehari-hari bekerja sebagai kuli pasir itu berharap pada pekan terakhir menjelang 17 Agustus kelak dagangannya laris manis. ‘’Biasanya dinas-dinas atau perusahaan belinya borongan, bisa sampai Rp 3 juta,’’ ungkapnya. (gen/c1/isd)

Most Read

Artikel Terbaru

/