alexametrics
24.3 C
Madiun
Tuesday, July 5, 2022

Nekat Sediakan Layanan Esek-Esek, Warkop Dusun Alas Malang Terancam Dibongkar Paksa

NGAWI, Jawa Pos Radar Ngawi – Habis sudah kesabaran Satpol PP Ngawi terhadap pemilik warung kopi (warkop) di Dusun Alas Malang, Desa/Kecamatan Karangjati, yang diduga nyambi menyediakan layanan esek-esek. Bagaimana tidak, meski sudah diperingatkan berkali-kali, PA, 60, pemilik warung, masih saja menyediakan fasilitas prostitusi. ‘’Kami beri waktu dua minggu untuk dibongkar,’’ kata Kasi Pengawasan Pembinaan dan Penyuluhan Satpol PP Ngawi Arif Setyono Selasa (6/8).

Arif mengungkapkan, kenekatan PA kembali diungkap petugas satpol PP saat melakukan patroli dan operasi penertiban warung esek-esek Senin lalu (5/8). Bermula dari adanya informasi warga yang menyebut masih adanya aktivitas prostitusi di warung tersebut. ‘’Tapi, secara sembunyi-sembunyi,’’ jelasnya.

Dari informasi itu akhirnya petugas satpol PP melakukan penelusuran. Benar saja, mereka mendapati dua perempuan diduga pekerja seks komersial (PSK). Sayangnya, seorang di antaranya keburu kabur saat mengetahui kedatangan petugas. ‘’Hanya satu yang berhasil kami amankan dan mintai keterangan,’’ tuturnya.

Perempuan yang berhasil diamankan petugas itu berinisial DI, 41, seorang janda asal Kecamatan Jogorogo. Sedangkan seorang lagi yang kabur diketahui asal Wonogiri, Jawa Tengah. ‘’Pengakuannya masih melayani tamu yang minta ’’servis’’. Tapi, saat kami amankan, yang bersangkutan sedang tidak ada transaksi,’’ terang Arif.

Baca Juga :  Pemkab Ngawi Tutup Sementara 11 Pasar Hewan

DI, lanjut Arif, mengaku mematok tarif Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu sekali main. Dari nominal itu, Rp 10 ribu diberikan kepada PA, pengganti biaya sewa kamar. ‘’Ada empat kamar di warung itu,’’ ujarnya sembari menyebut pihaknya memberi deadline dua pekan kepada PA untuk membongkar warungnya.

Arif mengancam, jika dalam dua pekan ke depan pemilik warung mokong, bakal dilakukan pembongkaran paksa. Pun, dia menyebut perbuatan PA menyediakan layanan esek-esek di warungnya melanggar Perda Nomor 1 Tahun 2017 tentang Ketenteraman dan Ketertiban Umum. Sanksinya berupa kurungan penjara tiga bulan atau denda maksimal Rp 50 juta. ‘’Kami akan awasi terus. Kalau tidak ada iktikad baik terpaksa kami tindak tegas,’’ pungkasnya. (tif/c1/isd)

NGAWI, Jawa Pos Radar Ngawi – Habis sudah kesabaran Satpol PP Ngawi terhadap pemilik warung kopi (warkop) di Dusun Alas Malang, Desa/Kecamatan Karangjati, yang diduga nyambi menyediakan layanan esek-esek. Bagaimana tidak, meski sudah diperingatkan berkali-kali, PA, 60, pemilik warung, masih saja menyediakan fasilitas prostitusi. ‘’Kami beri waktu dua minggu untuk dibongkar,’’ kata Kasi Pengawasan Pembinaan dan Penyuluhan Satpol PP Ngawi Arif Setyono Selasa (6/8).

Arif mengungkapkan, kenekatan PA kembali diungkap petugas satpol PP saat melakukan patroli dan operasi penertiban warung esek-esek Senin lalu (5/8). Bermula dari adanya informasi warga yang menyebut masih adanya aktivitas prostitusi di warung tersebut. ‘’Tapi, secara sembunyi-sembunyi,’’ jelasnya.

Dari informasi itu akhirnya petugas satpol PP melakukan penelusuran. Benar saja, mereka mendapati dua perempuan diduga pekerja seks komersial (PSK). Sayangnya, seorang di antaranya keburu kabur saat mengetahui kedatangan petugas. ‘’Hanya satu yang berhasil kami amankan dan mintai keterangan,’’ tuturnya.

Perempuan yang berhasil diamankan petugas itu berinisial DI, 41, seorang janda asal Kecamatan Jogorogo. Sedangkan seorang lagi yang kabur diketahui asal Wonogiri, Jawa Tengah. ‘’Pengakuannya masih melayani tamu yang minta ’’servis’’. Tapi, saat kami amankan, yang bersangkutan sedang tidak ada transaksi,’’ terang Arif.

Baca Juga :  Penertiban Kawasan Eks Stasiun Berlangsung Ricuh

DI, lanjut Arif, mengaku mematok tarif Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu sekali main. Dari nominal itu, Rp 10 ribu diberikan kepada PA, pengganti biaya sewa kamar. ‘’Ada empat kamar di warung itu,’’ ujarnya sembari menyebut pihaknya memberi deadline dua pekan kepada PA untuk membongkar warungnya.

Arif mengancam, jika dalam dua pekan ke depan pemilik warung mokong, bakal dilakukan pembongkaran paksa. Pun, dia menyebut perbuatan PA menyediakan layanan esek-esek di warungnya melanggar Perda Nomor 1 Tahun 2017 tentang Ketenteraman dan Ketertiban Umum. Sanksinya berupa kurungan penjara tiga bulan atau denda maksimal Rp 50 juta. ‘’Kami akan awasi terus. Kalau tidak ada iktikad baik terpaksa kami tindak tegas,’’ pungkasnya. (tif/c1/isd)

Most Read

Artikel Terbaru

/