alexametrics
24.6 C
Madiun
Sunday, May 22, 2022

Pemilik Pabrik Arang Batok Kena SP

NGAWI, Jawa Pos Radar Ngawi – Satpol PP akhirnya memanggil pemilik pabrik arang batok di Desa Guyung, Gerih, yang beberapa waktu lalu sempat disoal warga sekitar. Pemanggilan itu merupakan tindak lanjut pencabutan izin mendirikan bangunan (IMB) oleh instansi terkait.

‘’Kebetulan saat kami turun ke lokasi kemarin (Senin, Red) tidak bertemu dengan yang bersangkutan, makanya kami panggil agar datang ke kantor,’’ kata Kabid Penegakan Perundang-undangan Daerah Satpol PP Ngawi Arif Setiyono Selasa (7/1).

Dia menjelaskan, pada akhir tahun lalu Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Ngawi mencabut IMB usaha tersebut. Dasarnya, lokasi yang digunakan untuk operasional saat ini tidak sesuai dengan izin yang diajukan sebelumnya. ‘’Diminta berhenti dulu sampai izinnya lengkap. Pemilik kami panggil untuk memastikan usaha tersebut tidak beroperasi sementara waktu ini,’’ ungkapnya.

Arif mengaku kemarin sudah memberikan pembinaan dan pengarahan kepada pemilik pabrik tersebut. Pihaknya juga menyampaikan surat peringatan pertama (SP I) sebagai bentuk teguran. Sebab, hingga saat ini usahanya tersebut masih beroperasi. ‘’Dapat SP I sambil kami minta pemilik segera melengkapi syarat perizinannya,’’ ujar Arif.

Baca Juga :  Airbus 321neo

Lalu, bagaimana jika setelah ini pemilik usaha tetap mengoperasikan pabriknya? Arif menyatakan pihaknya bakal melakukan tindakan sesuai prosedur. Yakni, melayangkan peringatan hingga ketiga. Jika masih membandel ditutup paksa.

‘’Harapan kami jangan sampai disegel. Jadi, pemilik harus segera melengkapi izinnya,’’ tuturnya. ‘’Tapi, saya lihat pemiliknya punya iktikad baik untuk melengkapi perizinan,’’ imbuh Arif.

Sekadar diketahui, beberapa bulan lalu warga sekitar pabrik arang batok di Dusun/Desa Guyung itu sempat mengeluhkan keberadaan usaha tersebut. Pasalnya, dampak pembakaran arang menyebabkan polusi udara dan membuat produktivitas tanaman berkurang.

Menanggapi hal tersebut, satpol PP bersama DPMPTSP beberapa kali turun dan melakukan mediasi antara warga dengan pemilik usaha. Sayangnya, menemui jalan buntu. (tif/c1/isd)

NGAWI, Jawa Pos Radar Ngawi – Satpol PP akhirnya memanggil pemilik pabrik arang batok di Desa Guyung, Gerih, yang beberapa waktu lalu sempat disoal warga sekitar. Pemanggilan itu merupakan tindak lanjut pencabutan izin mendirikan bangunan (IMB) oleh instansi terkait.

‘’Kebetulan saat kami turun ke lokasi kemarin (Senin, Red) tidak bertemu dengan yang bersangkutan, makanya kami panggil agar datang ke kantor,’’ kata Kabid Penegakan Perundang-undangan Daerah Satpol PP Ngawi Arif Setiyono Selasa (7/1).

Dia menjelaskan, pada akhir tahun lalu Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Ngawi mencabut IMB usaha tersebut. Dasarnya, lokasi yang digunakan untuk operasional saat ini tidak sesuai dengan izin yang diajukan sebelumnya. ‘’Diminta berhenti dulu sampai izinnya lengkap. Pemilik kami panggil untuk memastikan usaha tersebut tidak beroperasi sementara waktu ini,’’ ungkapnya.

Arif mengaku kemarin sudah memberikan pembinaan dan pengarahan kepada pemilik pabrik tersebut. Pihaknya juga menyampaikan surat peringatan pertama (SP I) sebagai bentuk teguran. Sebab, hingga saat ini usahanya tersebut masih beroperasi. ‘’Dapat SP I sambil kami minta pemilik segera melengkapi syarat perizinannya,’’ ujar Arif.

Baca Juga :  Pemkab Ngawi Belum Izinkan King Beroperasi Kembali

Lalu, bagaimana jika setelah ini pemilik usaha tetap mengoperasikan pabriknya? Arif menyatakan pihaknya bakal melakukan tindakan sesuai prosedur. Yakni, melayangkan peringatan hingga ketiga. Jika masih membandel ditutup paksa.

‘’Harapan kami jangan sampai disegel. Jadi, pemilik harus segera melengkapi izinnya,’’ tuturnya. ‘’Tapi, saya lihat pemiliknya punya iktikad baik untuk melengkapi perizinan,’’ imbuh Arif.

Sekadar diketahui, beberapa bulan lalu warga sekitar pabrik arang batok di Dusun/Desa Guyung itu sempat mengeluhkan keberadaan usaha tersebut. Pasalnya, dampak pembakaran arang menyebabkan polusi udara dan membuat produktivitas tanaman berkurang.

Menanggapi hal tersebut, satpol PP bersama DPMPTSP beberapa kali turun dan melakukan mediasi antara warga dengan pemilik usaha. Sayangnya, menemui jalan buntu. (tif/c1/isd)

Most Read

Artikel Terbaru

/