alexametrics
25.6 C
Madiun
Friday, May 20, 2022

Februari, Tagihan Listrik Lampu Pasar Besar Ngawi Capai Rp 22 Juta

NGAWI, Jawa Pos Radar Madiun – Pasar Besar Ngawi (PBN) boros listrik. Betapa tidak, puluhan lampu di lorong lantai atas dan bawah pasar rakyat itu dinyalakan saat malam. Padahal transaksi jual-beli berakhir maksimal pukul 19.00. Malam pun tetap terang benderang kendati tidak ada aktivitas pedagang.

Kepala PBN Sunarto menerangkan, pencahayaan bagian dalam pasar berasal dari lampu darurat. Sebanyak 40 buah lampunya otomatis menyala ketika hari mulai gelap. Bila ingin mematikannya harus dari panel listrik. ‘’Jadi, tidak bisa manual dinyalakan dan dimatikan,’’ katanya, Rabu (9/3).

Mengapa tidak mematikan lampu darurat dari panel? Sunarto menjelaskan, PBN tidak sepenuhnya sepi saat malam. Misalnya, pedagang ikan yang datang dini hari untuk menaruh dagangan. Belum lagi padagang yang buka dasar pukul 02.30. ‘’Petugas jaga malam juga cuma satu orang,’’ ujarnya.

Dia mengungkapkan, tagihan listrik PBN dalam dua bulan meningkat. Bila Januari lalu Rp 18 juta, bulan berikutnya Rp 22 juta. Kenaikan itu dipengaruhi momen boyongan para pedagang pasca PBN dibangun ulang. ‘’Biaya listriknya memang lumayan besar,’’ sebutnya.

Baca Juga :  Pembangunan Sport Center Ngawi Butuh Rp 270 Miliar

Biaya listrik saat ini ditanggung PP Urban, rekanan pelaksana rebuilding PBN. Sebab, masih masa pemeliharaan enam bulan terhitung proyek selesai Desember tahun lalu. Sedangkan sebelum proyek strategis nasional itu berjalan, tagihan listrik dibebankan ke masing-masing pedagang. ‘’Karena setiap pedagang bayarnya langsung ke PLN, kami kurang tahu berapa total tagihan listrik per bulannya,’’ beber Sunarto.

Dia belum dapat memastikan sistem pembayaran listrik kelak. Tepatnya ketika rekanan menyerahkan pengelolaan PBN ke dinas perdagangan, perindustrian, dan tenaga kerja (DPPTK). ‘’Ada wacana dibebankan ke pedagang, tapi belum pasti skemanya bayar sendiri atau iuran bulanan,’’ tuturnya sembari menyebut kebijakan itu rencananya diikuti pembentukan unit khusus pengelolaan.

Sunarto telah mengusulkan perubahan sistem penyalaan lampu darurat ke rekanan. Dari sebelumnya menyala otomatis menjadi manual. Perubahan tersebut akan menghemat tagihan listrik. ‘’Karena penggunaan lampu bisa diatur, misalnya, pukul 21.00 dimatikan lalu dinyalakan kembali 02.30,’’ ucapnya sembari mengatakan jumlah penjaga malam bakal ditambah. (tr1/c1/cor/her)

NGAWI, Jawa Pos Radar Madiun – Pasar Besar Ngawi (PBN) boros listrik. Betapa tidak, puluhan lampu di lorong lantai atas dan bawah pasar rakyat itu dinyalakan saat malam. Padahal transaksi jual-beli berakhir maksimal pukul 19.00. Malam pun tetap terang benderang kendati tidak ada aktivitas pedagang.

Kepala PBN Sunarto menerangkan, pencahayaan bagian dalam pasar berasal dari lampu darurat. Sebanyak 40 buah lampunya otomatis menyala ketika hari mulai gelap. Bila ingin mematikannya harus dari panel listrik. ‘’Jadi, tidak bisa manual dinyalakan dan dimatikan,’’ katanya, Rabu (9/3).

Mengapa tidak mematikan lampu darurat dari panel? Sunarto menjelaskan, PBN tidak sepenuhnya sepi saat malam. Misalnya, pedagang ikan yang datang dini hari untuk menaruh dagangan. Belum lagi padagang yang buka dasar pukul 02.30. ‘’Petugas jaga malam juga cuma satu orang,’’ ujarnya.

Dia mengungkapkan, tagihan listrik PBN dalam dua bulan meningkat. Bila Januari lalu Rp 18 juta, bulan berikutnya Rp 22 juta. Kenaikan itu dipengaruhi momen boyongan para pedagang pasca PBN dibangun ulang. ‘’Biaya listriknya memang lumayan besar,’’ sebutnya.

Baca Juga :  Pemkab Ngawi Klaim Tak Ada Lagi Desa Tertinggal

Biaya listrik saat ini ditanggung PP Urban, rekanan pelaksana rebuilding PBN. Sebab, masih masa pemeliharaan enam bulan terhitung proyek selesai Desember tahun lalu. Sedangkan sebelum proyek strategis nasional itu berjalan, tagihan listrik dibebankan ke masing-masing pedagang. ‘’Karena setiap pedagang bayarnya langsung ke PLN, kami kurang tahu berapa total tagihan listrik per bulannya,’’ beber Sunarto.

Dia belum dapat memastikan sistem pembayaran listrik kelak. Tepatnya ketika rekanan menyerahkan pengelolaan PBN ke dinas perdagangan, perindustrian, dan tenaga kerja (DPPTK). ‘’Ada wacana dibebankan ke pedagang, tapi belum pasti skemanya bayar sendiri atau iuran bulanan,’’ tuturnya sembari menyebut kebijakan itu rencananya diikuti pembentukan unit khusus pengelolaan.

Sunarto telah mengusulkan perubahan sistem penyalaan lampu darurat ke rekanan. Dari sebelumnya menyala otomatis menjadi manual. Perubahan tersebut akan menghemat tagihan listrik. ‘’Karena penggunaan lampu bisa diatur, misalnya, pukul 21.00 dimatikan lalu dinyalakan kembali 02.30,’’ ucapnya sembari mengatakan jumlah penjaga malam bakal ditambah. (tr1/c1/cor/her)

Most Read

Artikel Terbaru

/