alexametrics
33.7 C
Madiun
Thursday, September 29, 2022

Warga Ngawi Temukan Balok Kayu Perahu Abad Ke-15 di Sungai Andong

NGAWI, Jawa Pos Radar Madiun – Sejumlah warga Dusun Nangkas, Desa/Kecamatan Jogorogo, Ngawi, sibuk mengevakuasi sebuah balok kayu di aliran Sungai Andong, desa setempat. Warga setempat memercayai benda itu bagian dari perahu peninggalan Kerajaan Pawon pada abad ke-15. Lokasi kerajaan tersebut berada di wilayah Kecamatan Sine. ‘’Kami angkat untuk mengetahui secara jelas bentuknya, mumpung air sungai sedang surut,’’ kata Imam Suparno, tokoh masyarakat desa setempat, Rabu (10/8).

Imam mengungkapkan, keberadaan balok kayu telah diketahui warga sejak 1970-an. Kala itu, bentuknya masih utuh berupa perahu lesung. Ukurannya sepanjang sekitar 20 meter, lebar 90 sentimeter, dan tinggi satu meter. Bagian buritan perahu tenggelam di dasar sungai. Sedangkan haluannya berada di atas permukaan air. ‘’Dulu, banyak anak-anak kecil berenang di sekitaran perahu itu,’’ ujar pria 53 tahun tersebut.

Pada awalnya, tidak ada warga yang berani mengangkat perahu karena dianggap keramat. Namun, salah seorang warga menilai keberadaannya malah memengaruhi kehidupan beragama. Warga itu lantas menghancurkan bagian kanan dan kiri perahu menggunakan kapak pada 1994. ‘’Sudah diingatkan, tapi tetap nekat perahu dihancurkan dan kayunya diambil,’’ kenangnya.

Baca Juga :  Hari Buruh Jadi Momentum untuk Bangkit

Menurut Imam, bagian perahu yang masih utuh tinggal area belakang. Bagian tersebut diyakini terjepit di antara bebatuan sungai. Sisa lainnya, potongan kayu sepanjang sekitar 20 sentimeter yang diduga haluan kapal. Bagian tersebut terlihat kentara ketika aliran sungai surut.

Hingga kemarin, proses penggalian sampai sedalam pinggang orang dewasa. Akan tetapi, pangkal dari kayu yang terendam lumpur dan terjepit bebatuan belum terlihat. ‘’Warga berupaya mengangkat dengan peralatan seadanya sejak Minggu (7/8),’’ ujarnya sembari menyebut bahwa evakuasi untuk menyelamatkan benda yang diyakini bersejarah.

Berdasarkan cerita turun-temurun, lanjut Imam, perahu dinaiki Dewi Roro Amis ketika kabur dari Kerajaan Pawon. Pelarian itu karena menolak dinikahkan dengan Joko Buduk. Nahas, sesampainya di Kedung Suni, aliran Sungai Andong, perahu tenggelam. Cerita tersebut memang belum bisa dipastikan kebenarannya.

Namun, bila benar, perahu menjadi salah satu media untuk merunut sejarah masa lalu. ‘’Bila benar, membuktikan bahwa jurang di aliran Sungai Andong dulunya merupakan sungai besar sebelum Gunung Lawu meletus pada abad ke-17 sampai 18,’’ tuturnya sembari mengklaim bahwa penggalian telah mendapat persetujuan sebagian besar warga Jogorogo. (sae/c1/cor)

NGAWI, Jawa Pos Radar Madiun – Sejumlah warga Dusun Nangkas, Desa/Kecamatan Jogorogo, Ngawi, sibuk mengevakuasi sebuah balok kayu di aliran Sungai Andong, desa setempat. Warga setempat memercayai benda itu bagian dari perahu peninggalan Kerajaan Pawon pada abad ke-15. Lokasi kerajaan tersebut berada di wilayah Kecamatan Sine. ‘’Kami angkat untuk mengetahui secara jelas bentuknya, mumpung air sungai sedang surut,’’ kata Imam Suparno, tokoh masyarakat desa setempat, Rabu (10/8).

Imam mengungkapkan, keberadaan balok kayu telah diketahui warga sejak 1970-an. Kala itu, bentuknya masih utuh berupa perahu lesung. Ukurannya sepanjang sekitar 20 meter, lebar 90 sentimeter, dan tinggi satu meter. Bagian buritan perahu tenggelam di dasar sungai. Sedangkan haluannya berada di atas permukaan air. ‘’Dulu, banyak anak-anak kecil berenang di sekitaran perahu itu,’’ ujar pria 53 tahun tersebut.

Pada awalnya, tidak ada warga yang berani mengangkat perahu karena dianggap keramat. Namun, salah seorang warga menilai keberadaannya malah memengaruhi kehidupan beragama. Warga itu lantas menghancurkan bagian kanan dan kiri perahu menggunakan kapak pada 1994. ‘’Sudah diingatkan, tapi tetap nekat perahu dihancurkan dan kayunya diambil,’’ kenangnya.

Baca Juga :  Wacana Bedah Rumah Pakai Dana Desa

Menurut Imam, bagian perahu yang masih utuh tinggal area belakang. Bagian tersebut diyakini terjepit di antara bebatuan sungai. Sisa lainnya, potongan kayu sepanjang sekitar 20 sentimeter yang diduga haluan kapal. Bagian tersebut terlihat kentara ketika aliran sungai surut.

Hingga kemarin, proses penggalian sampai sedalam pinggang orang dewasa. Akan tetapi, pangkal dari kayu yang terendam lumpur dan terjepit bebatuan belum terlihat. ‘’Warga berupaya mengangkat dengan peralatan seadanya sejak Minggu (7/8),’’ ujarnya sembari menyebut bahwa evakuasi untuk menyelamatkan benda yang diyakini bersejarah.

Berdasarkan cerita turun-temurun, lanjut Imam, perahu dinaiki Dewi Roro Amis ketika kabur dari Kerajaan Pawon. Pelarian itu karena menolak dinikahkan dengan Joko Buduk. Nahas, sesampainya di Kedung Suni, aliran Sungai Andong, perahu tenggelam. Cerita tersebut memang belum bisa dipastikan kebenarannya.

Namun, bila benar, perahu menjadi salah satu media untuk merunut sejarah masa lalu. ‘’Bila benar, membuktikan bahwa jurang di aliran Sungai Andong dulunya merupakan sungai besar sebelum Gunung Lawu meletus pada abad ke-17 sampai 18,’’ tuturnya sembari mengklaim bahwa penggalian telah mendapat persetujuan sebagian besar warga Jogorogo. (sae/c1/cor)

Most Read

Artikel Terbaru

/