alexametrics
24.3 C
Madiun
Tuesday, July 5, 2022

Sukarni Mustofa dan Liku-Liku Perjalanan Religinya

NGAWI – Kiai Sukarni Mustofa punya jalannya sendiri untuk menyelami ilmu keagamaan. Dia dulu gemar sowan kepada seorang kiai ke kiai lain di berbagai daerah. Tumbuh di keluarga yang kurang taat beribadah, sekarang dirinya kerap disowani jamaah.

Suara azan Zuhur merambati indera pendengaran katika memasuki kawasan Dusun Nglencong, Desa Dempel, Kecamatan  Geneng. Bunyi itu semakin keras sesaat setelah sampai di salah satu mulut gang. Tampak sebuah menara pengeras suara berdiri menjulang. Sejumlah warga yang bersarung-berpeci satu per satu menuju masjid. ‘’Mari Zuhuran dulu,’’ ajak salah seorang jamaah.

Salat Zuhur siang itu diimami Kiai Sukarni Mustofa. Takbir pertama diakhiri salam setelah empat rakaat rampung ditunaikan. Setelah berdoa, sebagian jamaah kembali ke rumah masing-masing. Sisanya memilih rehat sejenak di teras masjid. ‘’Alhamdulillah, jamaah tambah banyak sekarang,’’ kata Sukarni.

Beberapa tahun lalu Sukarni mendirikan masjid di samping rumahnya. Awalnya masih sekadar musala dan untuk tempat beribadah pribadi. Seiring berjalannya waktu, dia mendapatkan rezeki lebih untuk merehab musala menjadi masjid.

Keberadaan masjid itu secara tidak langsung mengundang warga sekitar menunaikan ibadah berjamaah. Jamaah semakin bertambah dari waktu ke waktu. ‘’Dulu sekitar 2×3 meter, belum ada niat ke arah masjid waktu itu,’’ kenang Sukarni.

Berbagai kegiatan agama kerap digelar di masjid samping rumah Sukarni. Termasuk pembelajaran mengaji untuk anak-anak sekitar saban sore. Untuk jamaah dewasa, Sukarni punya jadwal pengajian khusus di Pekalongan sebulan sekali setiap Jumat Kliwon. Di Kota Batik itu mereka belajar ilmu tariqat kepada Habib Luthfi. ‘’Kadang naik bus, kadang mobil saat jamaah yang ikut sedikit,’’ ujarnya.

Dua meja disusun berderet di ruang tamu kediaman Sukarni. Meja diapit dua deretan kursi. Sementara, satu kursi lagi di paling ujung mepet tembok kayu yang siang itu didudukinya. Bukan tanpa sebab tata letak ruang tamu seperti itu. Sekarang, Sukarni kerap menerima jamaah yang bertamu ke rumahnya dari berbagai wilayah Ngawi. ‘’Bertamu biasa, kadang-kadang minta pitutur seperti itu,’’ ungkap suami Karmini ini.

Baca Juga :  Kisah Kiai Musyafa Melanjutkan Perjuangan Bapaknya sebagai Ulama

Tokoh agama yang satu ini enggan bercerita banyak tentang jamaah-jamaah yang bertamu ke rumahnya. Sukarni malah antusias mengisahkan perjalanan hidupnya sebelum seperti sekarang ini. ‘’Saya tidak pernah menuntut ilmu ke pondok pesantren,’’ sebutnya

Sejatinya, niat untuk menimba ilmu agama sudah mendekam lama di benak Sukarni muda. Namun, keinginan itu cuma sebatas keinginan. Kondisi orang tua yang serba kekurangan menjadi sekat yang tak dapat ditembus Sukarni untuk mondok. ‘’Saat saya SD, orang tua belum mau salat,’’ kenang pria 66 tahun ini.

Sukarni sempat patah hati saat lulus SD. Dia yang kala itu mengajak ayah-ibunya salat, ditolak mentah-mentah. ‘’Kamu saja yang salat, kami biar yang mencari uang,’’ kata Sukarni mengingat perkataan orang tuanya. ‘’Baru mau salat saat geger 1965,’’ imbuhnya.

Sukarni kala itu sadar diri bahwa keinginannya menimba ilmu di pondok pesantren mustahil terwujud. Kendati begitu, momen sowan ke salah seorang kiai menyulut kembali semangatnya. Setelah itu, kiai-kiai di Magelang sampai Madura tak ketinggalan dikunjunginya. ‘’Waktu ke KH. Ali Maksum, Krapyak, Jogja, dapat wejangan tentang menghafal Alquran,’’ ungkap Sukarni.

Sukarni ingin apa yang dialaminya semasa kecil tidak menimpa dua anaknya. Suntikan moral dari sowan satu kiai ke kiai lain memberinya keyakinan. Dia bersusah-payah mencari nafkah supaya bisa memondokkan anak-anaknya ke pondok pesantren. Gayung bersambut, kedua anaknya kini menjadi ulama. ‘’Alhamdulillah, dua-duanya selesai mondok di Tebu Ireng, Jombang,’’ ungkapnya. ***(deni kurniawan/isd)

NGAWI – Kiai Sukarni Mustofa punya jalannya sendiri untuk menyelami ilmu keagamaan. Dia dulu gemar sowan kepada seorang kiai ke kiai lain di berbagai daerah. Tumbuh di keluarga yang kurang taat beribadah, sekarang dirinya kerap disowani jamaah.

Suara azan Zuhur merambati indera pendengaran katika memasuki kawasan Dusun Nglencong, Desa Dempel, Kecamatan  Geneng. Bunyi itu semakin keras sesaat setelah sampai di salah satu mulut gang. Tampak sebuah menara pengeras suara berdiri menjulang. Sejumlah warga yang bersarung-berpeci satu per satu menuju masjid. ‘’Mari Zuhuran dulu,’’ ajak salah seorang jamaah.

Salat Zuhur siang itu diimami Kiai Sukarni Mustofa. Takbir pertama diakhiri salam setelah empat rakaat rampung ditunaikan. Setelah berdoa, sebagian jamaah kembali ke rumah masing-masing. Sisanya memilih rehat sejenak di teras masjid. ‘’Alhamdulillah, jamaah tambah banyak sekarang,’’ kata Sukarni.

Beberapa tahun lalu Sukarni mendirikan masjid di samping rumahnya. Awalnya masih sekadar musala dan untuk tempat beribadah pribadi. Seiring berjalannya waktu, dia mendapatkan rezeki lebih untuk merehab musala menjadi masjid.

Keberadaan masjid itu secara tidak langsung mengundang warga sekitar menunaikan ibadah berjamaah. Jamaah semakin bertambah dari waktu ke waktu. ‘’Dulu sekitar 2×3 meter, belum ada niat ke arah masjid waktu itu,’’ kenang Sukarni.

Berbagai kegiatan agama kerap digelar di masjid samping rumah Sukarni. Termasuk pembelajaran mengaji untuk anak-anak sekitar saban sore. Untuk jamaah dewasa, Sukarni punya jadwal pengajian khusus di Pekalongan sebulan sekali setiap Jumat Kliwon. Di Kota Batik itu mereka belajar ilmu tariqat kepada Habib Luthfi. ‘’Kadang naik bus, kadang mobil saat jamaah yang ikut sedikit,’’ ujarnya.

Dua meja disusun berderet di ruang tamu kediaman Sukarni. Meja diapit dua deretan kursi. Sementara, satu kursi lagi di paling ujung mepet tembok kayu yang siang itu didudukinya. Bukan tanpa sebab tata letak ruang tamu seperti itu. Sekarang, Sukarni kerap menerima jamaah yang bertamu ke rumahnya dari berbagai wilayah Ngawi. ‘’Bertamu biasa, kadang-kadang minta pitutur seperti itu,’’ ungkap suami Karmini ini.

Baca Juga :  PMI Ngawi Kehabisan Darah O

Tokoh agama yang satu ini enggan bercerita banyak tentang jamaah-jamaah yang bertamu ke rumahnya. Sukarni malah antusias mengisahkan perjalanan hidupnya sebelum seperti sekarang ini. ‘’Saya tidak pernah menuntut ilmu ke pondok pesantren,’’ sebutnya

Sejatinya, niat untuk menimba ilmu agama sudah mendekam lama di benak Sukarni muda. Namun, keinginan itu cuma sebatas keinginan. Kondisi orang tua yang serba kekurangan menjadi sekat yang tak dapat ditembus Sukarni untuk mondok. ‘’Saat saya SD, orang tua belum mau salat,’’ kenang pria 66 tahun ini.

Sukarni sempat patah hati saat lulus SD. Dia yang kala itu mengajak ayah-ibunya salat, ditolak mentah-mentah. ‘’Kamu saja yang salat, kami biar yang mencari uang,’’ kata Sukarni mengingat perkataan orang tuanya. ‘’Baru mau salat saat geger 1965,’’ imbuhnya.

Sukarni kala itu sadar diri bahwa keinginannya menimba ilmu di pondok pesantren mustahil terwujud. Kendati begitu, momen sowan ke salah seorang kiai menyulut kembali semangatnya. Setelah itu, kiai-kiai di Magelang sampai Madura tak ketinggalan dikunjunginya. ‘’Waktu ke KH. Ali Maksum, Krapyak, Jogja, dapat wejangan tentang menghafal Alquran,’’ ungkap Sukarni.

Sukarni ingin apa yang dialaminya semasa kecil tidak menimpa dua anaknya. Suntikan moral dari sowan satu kiai ke kiai lain memberinya keyakinan. Dia bersusah-payah mencari nafkah supaya bisa memondokkan anak-anaknya ke pondok pesantren. Gayung bersambut, kedua anaknya kini menjadi ulama. ‘’Alhamdulillah, dua-duanya selesai mondok di Tebu Ireng, Jombang,’’ ungkapnya. ***(deni kurniawan/isd)

Most Read

Artikel Terbaru

/