alexametrics
33.7 C
Madiun
Thursday, September 29, 2022

Benteng Van den Bosch, Bukti Perlawanan Sengit Dua Juta Prajurit

NGAWI, Jawa Pos Radar Madiun – TIM ahli cagar budaya nasional (TACBN) tengah menelaah hasil verifikasi dan klarifikasi kondisi Benteng Van den Bosch, Ngawi. Kegiatan tersebut dilakukan selama dua hari mulai Jumat (12/8) lalu.

Proses telaah untuk memutuskan bangunan berstatus cagar budaya peringkat nasional dari sebelumnya kabupaten. ‘’Pantas naik peringkat karena telah memenuhi kriteria (Undang-Undang 11/2010 tentang Cagar Budaya, Red),’’ kata  Surya Helmi, anggota TACBN, Senin (15/8).

Helmi menyebutkan, Benteng Pendem, nama lain Benteng Van den Bosch, memenuhi kriteria wujud kesatuan dan persatuan bangsa. Dalam kisahnya, Belanda membangun benteng pertahanan itu merespons perlawanan sengit dua juta prajurit pada 1825–1830.

Serangan dari pasukan yang dipimpin Pangeran Diponegoro itu membuat Belanda menderita kerugian sangat besar. ‘’Bukan hanya 15 ribu pasukannya mati, biaya sekitar 20 juta gulden pun harus dikeluarkan,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Perputaran Uang Harian di Objek Wisata Ngawi Ditaksir Mencapai Rp 1,5 Miliar

Belanda, lanjut dia, lantas membangun benteng pertahanan di Pulau Jawa mengantisipasi pemberontakan lokal. Bukan hanya Benteng Pendem, namun ada lainnya, seperti Benteng Willem I di Ambarawa (Kabupaten Semarang), Benteng Prins Frederik di Batavia (sekarang Jakarta), dan Benteng Prins Hendrik di Surabaya.

‘’Karena itu, jangan dilihat dari peninggalannya Belanda, tapi kerasnya perjuangan masyarakat Jawa melawan Belanda,’’ ucapnya sembari menyebut Benteng Pendem lolos kriteria bangunan langka jenisnya, unik rancangannya, dan jumlahnya sedikit. (sae/cor)

NGAWI, Jawa Pos Radar Madiun – TIM ahli cagar budaya nasional (TACBN) tengah menelaah hasil verifikasi dan klarifikasi kondisi Benteng Van den Bosch, Ngawi. Kegiatan tersebut dilakukan selama dua hari mulai Jumat (12/8) lalu.

Proses telaah untuk memutuskan bangunan berstatus cagar budaya peringkat nasional dari sebelumnya kabupaten. ‘’Pantas naik peringkat karena telah memenuhi kriteria (Undang-Undang 11/2010 tentang Cagar Budaya, Red),’’ kata  Surya Helmi, anggota TACBN, Senin (15/8).

Helmi menyebutkan, Benteng Pendem, nama lain Benteng Van den Bosch, memenuhi kriteria wujud kesatuan dan persatuan bangsa. Dalam kisahnya, Belanda membangun benteng pertahanan itu merespons perlawanan sengit dua juta prajurit pada 1825–1830.

Serangan dari pasukan yang dipimpin Pangeran Diponegoro itu membuat Belanda menderita kerugian sangat besar. ‘’Bukan hanya 15 ribu pasukannya mati, biaya sekitar 20 juta gulden pun harus dikeluarkan,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Pemkab Ngawi Dampingi 178 Anak Korban Covid-19

Belanda, lanjut dia, lantas membangun benteng pertahanan di Pulau Jawa mengantisipasi pemberontakan lokal. Bukan hanya Benteng Pendem, namun ada lainnya, seperti Benteng Willem I di Ambarawa (Kabupaten Semarang), Benteng Prins Frederik di Batavia (sekarang Jakarta), dan Benteng Prins Hendrik di Surabaya.

‘’Karena itu, jangan dilihat dari peninggalannya Belanda, tapi kerasnya perjuangan masyarakat Jawa melawan Belanda,’’ ucapnya sembari menyebut Benteng Pendem lolos kriteria bangunan langka jenisnya, unik rancangannya, dan jumlahnya sedikit. (sae/cor)

Most Read

Artikel Terbaru

/