alexametrics
23 C
Madiun
Thursday, July 7, 2022

Pemkab Ngawi Tutup Akses Masuk Hewan Ternak dari 11 Daerah

 NGAWI, Jawa Pos Radar Madiun – Perputaran uang dari transaksi jual-beli sapi di Ngawi menyusut. Kerugian tersebut buntut keputusan pemkab menutup akses masuk hewan mamalia itu dari 11 kota/kabupaten di Jawa Timur. Daftar hitam disematkan lantaran kasus penyakit mulut dan kuku (PMK) telah ditemukan di sejumlah daerah tersebut. ‘’Jumlah sapi yang dijual di Pasar Legi berkurang,’’ kata Kepala Dinas Perdagangan, Perindustrian, dan Tenaga Kerja (DPPTK) Ngawi Yusuf Rosyadi, Senin (16/5).

Yusuf menyebutkan, jumlah sapi yang dijual di Pasar Legi kemarin hanya 700 ekor. Padahal pada pasaran sebelumnya mencapai 1.000 ekor. Pengurangan berdampak pada melemahnya perputaran uang yang mencapai Rp 1 miliar. Persoalan serupa besar kemungkinan terjadi di 10 pasar hewan lainnya. ‘’Kami tidak ingin mengambil risiko karena sebentar lagi Idul Adha,’’ ujarnya.

Sebelas daerah yang kena blacklist antara lain Magetan, Jombang, dan Sidoarjo (selengkapnya lihat grafis). Pengawasan mobilitas sapi melibatkan dinas peternakan dan perikanan, satpol PP, serta polres. Para petugas gabungan ditempatkan di 11 pasar hewan per kemarin. ‘’Kendaraan pengangkut sapi dari daerah yang di-blacklist akan disuruh putar balik,’’ tuturnya.

Baca Juga :  Akad Nikah Boleh, Resepsi Dilarang

Yusuf mengungkapkan, petugas gabungan mendatangi Pasar Legi kemarin. Sekitar 90 persen dari 700 ekor sapi yang dijual merupakan hasil ternak masyarakat Ngawi. Sisanya berasal dari peternak Bojonegoro. Hasil pemeriksaan kesehatan menunjukkan bahwa nihil sapi yang terjangkit PMK. ‘’Setiap sapi yang dijual harus punya surat keterangan sehat, kami minta penjual memperhatikannya,’’ tegas Yusuf.

Penghadangan akses masuk dan surat keterangan sehat sebagai langkah antisipasi virus PMK masuk ke Ngawi. Sebab, penularannya terbilang cepat karena melalui kontak fisik dan udara. ‘’Sapi yang terjangkit bisa mati, tentunya akan merugikan peternak,’’ sebutnya.

Dia menambahkan, harga daging sapi di pasaran terbilang masih normal. Kendati demikian, ada kekhawatiran virus PMK memengaruhi harga jual hewan ternak. ‘’Mudah-mudahan persebaran PMK dapat dikendalikan sebelum Idul Adha,’’ pungkasnya. (sae/c1/cor)

 NGAWI, Jawa Pos Radar Madiun – Perputaran uang dari transaksi jual-beli sapi di Ngawi menyusut. Kerugian tersebut buntut keputusan pemkab menutup akses masuk hewan mamalia itu dari 11 kota/kabupaten di Jawa Timur. Daftar hitam disematkan lantaran kasus penyakit mulut dan kuku (PMK) telah ditemukan di sejumlah daerah tersebut. ‘’Jumlah sapi yang dijual di Pasar Legi berkurang,’’ kata Kepala Dinas Perdagangan, Perindustrian, dan Tenaga Kerja (DPPTK) Ngawi Yusuf Rosyadi, Senin (16/5).

Yusuf menyebutkan, jumlah sapi yang dijual di Pasar Legi kemarin hanya 700 ekor. Padahal pada pasaran sebelumnya mencapai 1.000 ekor. Pengurangan berdampak pada melemahnya perputaran uang yang mencapai Rp 1 miliar. Persoalan serupa besar kemungkinan terjadi di 10 pasar hewan lainnya. ‘’Kami tidak ingin mengambil risiko karena sebentar lagi Idul Adha,’’ ujarnya.

Sebelas daerah yang kena blacklist antara lain Magetan, Jombang, dan Sidoarjo (selengkapnya lihat grafis). Pengawasan mobilitas sapi melibatkan dinas peternakan dan perikanan, satpol PP, serta polres. Para petugas gabungan ditempatkan di 11 pasar hewan per kemarin. ‘’Kendaraan pengangkut sapi dari daerah yang di-blacklist akan disuruh putar balik,’’ tuturnya.

Baca Juga :  Bakal Dijadikan Gedung Arsip, Bekas Kantor Bawaslu Ngawi Mangkrak

Yusuf mengungkapkan, petugas gabungan mendatangi Pasar Legi kemarin. Sekitar 90 persen dari 700 ekor sapi yang dijual merupakan hasil ternak masyarakat Ngawi. Sisanya berasal dari peternak Bojonegoro. Hasil pemeriksaan kesehatan menunjukkan bahwa nihil sapi yang terjangkit PMK. ‘’Setiap sapi yang dijual harus punya surat keterangan sehat, kami minta penjual memperhatikannya,’’ tegas Yusuf.

Penghadangan akses masuk dan surat keterangan sehat sebagai langkah antisipasi virus PMK masuk ke Ngawi. Sebab, penularannya terbilang cepat karena melalui kontak fisik dan udara. ‘’Sapi yang terjangkit bisa mati, tentunya akan merugikan peternak,’’ sebutnya.

Dia menambahkan, harga daging sapi di pasaran terbilang masih normal. Kendati demikian, ada kekhawatiran virus PMK memengaruhi harga jual hewan ternak. ‘’Mudah-mudahan persebaran PMK dapat dikendalikan sebelum Idul Adha,’’ pungkasnya. (sae/c1/cor)

Most Read

Artikel Terbaru

/