alexametrics
23.5 C
Madiun
Tuesday, August 16, 2022

31 Ekor Sapi dan Kambing di Ngawi Terinfeksi PMK dalam Dua Hari

NGAWI, Jawa Pos Radar Madiun – Ngawi tidak lagi menyandang status bebas dari persebaran penyakit mulut dan kuku (PMK). Setelah 31 ekor hewan ternak dinyatakan terjangkit virus genus Apthovirus tersebut dalam dua hari terakhir. ‘’Sejak ada temuan kasus, setiap hewan ternak bergejala klinis mirip PMK dilaporkan ke website siagapmk.id,’’ kata Kabid Kesehatan Hewan Dinas Perikanan dan Peternakan (DPP) Ngawi Wachidah Suryandari kemarin (15/6).

Berdasarkan peta sebaran PMK, 31 ekor hewan ternak yang terinfeksi meliputi 29 ekor sapi dan tiga ekor kambing. DPP menerima laporan 21 hewan ternak sakit pada Rabu (8/6). Enam di antaranya merupakan rusa yang dipelihara pihak wisata Monumen Soerjo.

Laporan lantas diteruskan ke Balai Besar Veteriner (BBVet) Wates, Jogjakarta. Tim dari lembaga itu meluncur ke Ngawi untuk melakukan pemeriksaan. Sampel lendir hewan ternak suspek PMK pun diuji di laboratorium. Hasilnya keluar Selasa dengan 15 ekor dinyatakan terjangkit. Serangan PMK belum selesai. Hasil pelacakan ke peternak lainnya ditemukan 16 kasus PMK baru kemarin. ‘’Kalau yang enam ekor rusa negatif PMK,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Renovasi Pasar Unggas tanpa Tempat Relokasi

Wachidah mengungkapkan, kebanyakan hewan ternak positif PMK hasil pembelian dari sejumlah pasar hewan luar daerah. Pihaknya menduga penularan terjadi saat proses transaksi. ‘’Belum ada hewan ternak yang mati, kami terus mengupayakan pengobatan,’’ ucapnya.

Dokter hewan, lanjut dia, memberikan obat pereda demam. Sebab, suhu tubuh hewan ternak terjangkit PMK mencapai 41 derajat Celsius. Selain itu, memberikan vitamin untuk memperkuat antibodi. Lalu, menambahkan gula dan garam pada makanan atau minuman agar hewan ternak tidak mengalami dehidrasi. ‘’Walau kebanyakan tidak mau makan, harus tetap dipaksa agar antibodi tetap terjaga,’’ tuturnya.

Hewan ternak terjangkit PMK diisolasi hingga waktu yang tidak ditentukan. Tidak sembarang orang boleh masuk ke kandang. Pasalnya, penularan virus salah satunya melalui tubuh manusia. ‘’Sebelum masuk dan keluar kandang harus disterilisasi,’’ tegas Wachidah. (sae/c1/cor)

NGAWI, Jawa Pos Radar Madiun – Ngawi tidak lagi menyandang status bebas dari persebaran penyakit mulut dan kuku (PMK). Setelah 31 ekor hewan ternak dinyatakan terjangkit virus genus Apthovirus tersebut dalam dua hari terakhir. ‘’Sejak ada temuan kasus, setiap hewan ternak bergejala klinis mirip PMK dilaporkan ke website siagapmk.id,’’ kata Kabid Kesehatan Hewan Dinas Perikanan dan Peternakan (DPP) Ngawi Wachidah Suryandari kemarin (15/6).

Berdasarkan peta sebaran PMK, 31 ekor hewan ternak yang terinfeksi meliputi 29 ekor sapi dan tiga ekor kambing. DPP menerima laporan 21 hewan ternak sakit pada Rabu (8/6). Enam di antaranya merupakan rusa yang dipelihara pihak wisata Monumen Soerjo.

Laporan lantas diteruskan ke Balai Besar Veteriner (BBVet) Wates, Jogjakarta. Tim dari lembaga itu meluncur ke Ngawi untuk melakukan pemeriksaan. Sampel lendir hewan ternak suspek PMK pun diuji di laboratorium. Hasilnya keluar Selasa dengan 15 ekor dinyatakan terjangkit. Serangan PMK belum selesai. Hasil pelacakan ke peternak lainnya ditemukan 16 kasus PMK baru kemarin. ‘’Kalau yang enam ekor rusa negatif PMK,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Bupati Ngawi Bentuk Tim Percepatan-Perizinan Urus Izin Operasional RS Geneng

Wachidah mengungkapkan, kebanyakan hewan ternak positif PMK hasil pembelian dari sejumlah pasar hewan luar daerah. Pihaknya menduga penularan terjadi saat proses transaksi. ‘’Belum ada hewan ternak yang mati, kami terus mengupayakan pengobatan,’’ ucapnya.

Dokter hewan, lanjut dia, memberikan obat pereda demam. Sebab, suhu tubuh hewan ternak terjangkit PMK mencapai 41 derajat Celsius. Selain itu, memberikan vitamin untuk memperkuat antibodi. Lalu, menambahkan gula dan garam pada makanan atau minuman agar hewan ternak tidak mengalami dehidrasi. ‘’Walau kebanyakan tidak mau makan, harus tetap dipaksa agar antibodi tetap terjaga,’’ tuturnya.

Hewan ternak terjangkit PMK diisolasi hingga waktu yang tidak ditentukan. Tidak sembarang orang boleh masuk ke kandang. Pasalnya, penularan virus salah satunya melalui tubuh manusia. ‘’Sebelum masuk dan keluar kandang harus disterilisasi,’’ tegas Wachidah. (sae/c1/cor)

Most Read

Artikel Terbaru

/