alexametrics
29.9 C
Madiun
Wednesday, July 6, 2022

Sanksi bagi Para Pelanggar Prokes Pencegahan Covid-19

NGAWI, Jawa Pos Radar Ngawi – Pemkab akhirnya menerapkan sanksi denda terhadap para pelanggar protokol kesehatan (prokes) pencegahan persebaran Covid-19. Sanksi itu mulai diberlakukan bertepatan operasi yustisi yang digelar pemkab bersama anggota forum komunikasi pimpinan daerah (forkopimda) setempat Selasa (15/9).

Kabid Penegakan Perundang-undangan Daerah Satpol PP Ngawi Arif Setyono menjelaskan, sanksi denda itu merujuk pada Perda Jatim Nomor 2 Tahun 2020 tentang Ketenteraman, Ketertiban Umum, dan Perlindungan Masyarakat.

Selain itu, Instruksi Presiden (Inpres) 6/2020 tentang Peningkatan Disiplin dan Penegakan Hukum Protokol Kesehatan dalam Pencegahan dan Pengendalian Covid-19. ‘’Sesuai aturan itu, semua orang wajib menaati protokol kesehatan, salah satunya pakai masker,’’ ujarnya.

Arif mengungkapkan, berdasarkan hasil rapat koordinasi (rakor) forkopimda sebelumnya, disepakati besaran denda bagi pelanggar prokes pencegahan persebaran Covid-19 di Ngawi sebesar Rp 10 ribu alias ceban plus biaya administrasi. Angka itu jauh di bawah yang ditetapkan dalam perda maupun pergub yakni Rp 250 ribu. ‘’Ini kan masih permulaan dan kondisi setiap daerah juga pasti berbeda. Tapi, nanti tetap dievaluasi dan kemungkinan bisa dinaikkan lagi,’’ tuturnya.

Sementara, dari hasil operasi kemarin, total sanksi denda yang terkumpul mencapai Rp 360 ribu. Itu berasal dari 36 pelanggar prokes yang disidangkan di depan Pasar Beran. Mereka yang terjaring operasi mayoritas karena tidak memakai masker.  ‘’Kalau tidak bisa membayar denda, disita e-KTP-nya,’’ ujarnya sembari menyebut operasi dan sidang di tempat akan digelar hingga beberapa hari ke depan dengan lokasi berbeda.

Rido Novianto, salah seorang pelanggar, mengaku kecewa dengan penerapan sanksi denda tersebut. Menurutnya, sebelum denda diberlakukan mestinya didahului dengan peringatan. ‘’Kalau tiba-tiba didenda seperti itu, pasti semua orang keberatan,’’ ucapnya. (tif/c1/isd)

Baca Juga :  Sehari, Labkesda Ngawi Uji 100 Spesimen Hasil Tes PCR

Pasien Meninggal Tambah Jadi Empat

PASIEN positif Covid-19 di Ngawi yang meninggal kembali bertambah. Hingga Selasa (15/9), virus korona telah merenggut nyawa empat warga setempat. ‘’Yang meninggal pasien nomor 105,’’ kata Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Ngawi drg Endah Pratiwi.

Pasien yang meninggal itu merupakan seorang petani asal Kecamatan Paron. Sebelum terkonfirmasi positif Covid-19, yang bersangkutan menderita sakit dengan gejala awal nyeri pinggang dan pusing. Pada akhir Juli lalu, pasien tersebut sempat berobat ke RSUD dr Soeroto, Ngawi. Hasil diagnosis menyebutkan mengidap tumor ginjal dan penyumbatan kepala.

Kemudian, lanjut Endah, pada 8 September lalu pasien ke-105 itu berobat ke RSUD dr Moewardi, Solo. Pun, di sana diambil swab-nya dua kali. Hasil pemeriksaan swab pertama negatif korona. Namun, pada Minggu sore (13/9) pasien tersebut akhirnya meninggal. ‘’Sehari kemudian, hasil swab test keduanya keluar dan dinyatakan terkonfirmasi positif Covid-19,’ paparnya.

Endah mengaku pihaknya sudah melakukan tracing dan identifikasi terhadap semua kontak erat pasien. Juga mengambil sampel swab anggota keluarganya. ‘’Sampai 14 hari ke depan, semua orang yang pernah kontak erat wajib dikarantina dengan dipantau petugas dari dinkes. Kami juga sudah lakukan disinfeksi rumah serta lingkungannya,’’ ungkap Endah.

Selain pasien meninggal tersebut, kemarin ada tambahan satu kasus positif Covid-19. Sedangkan pasien yang dinyatakan sembuh dan suspect tidak ada penambahan. (tif/c1/isd)

NGAWI, Jawa Pos Radar Ngawi – Pemkab akhirnya menerapkan sanksi denda terhadap para pelanggar protokol kesehatan (prokes) pencegahan persebaran Covid-19. Sanksi itu mulai diberlakukan bertepatan operasi yustisi yang digelar pemkab bersama anggota forum komunikasi pimpinan daerah (forkopimda) setempat Selasa (15/9).

Kabid Penegakan Perundang-undangan Daerah Satpol PP Ngawi Arif Setyono menjelaskan, sanksi denda itu merujuk pada Perda Jatim Nomor 2 Tahun 2020 tentang Ketenteraman, Ketertiban Umum, dan Perlindungan Masyarakat.

Selain itu, Instruksi Presiden (Inpres) 6/2020 tentang Peningkatan Disiplin dan Penegakan Hukum Protokol Kesehatan dalam Pencegahan dan Pengendalian Covid-19. ‘’Sesuai aturan itu, semua orang wajib menaati protokol kesehatan, salah satunya pakai masker,’’ ujarnya.

Arif mengungkapkan, berdasarkan hasil rapat koordinasi (rakor) forkopimda sebelumnya, disepakati besaran denda bagi pelanggar prokes pencegahan persebaran Covid-19 di Ngawi sebesar Rp 10 ribu alias ceban plus biaya administrasi. Angka itu jauh di bawah yang ditetapkan dalam perda maupun pergub yakni Rp 250 ribu. ‘’Ini kan masih permulaan dan kondisi setiap daerah juga pasti berbeda. Tapi, nanti tetap dievaluasi dan kemungkinan bisa dinaikkan lagi,’’ tuturnya.

Sementara, dari hasil operasi kemarin, total sanksi denda yang terkumpul mencapai Rp 360 ribu. Itu berasal dari 36 pelanggar prokes yang disidangkan di depan Pasar Beran. Mereka yang terjaring operasi mayoritas karena tidak memakai masker.  ‘’Kalau tidak bisa membayar denda, disita e-KTP-nya,’’ ujarnya sembari menyebut operasi dan sidang di tempat akan digelar hingga beberapa hari ke depan dengan lokasi berbeda.

Rido Novianto, salah seorang pelanggar, mengaku kecewa dengan penerapan sanksi denda tersebut. Menurutnya, sebelum denda diberlakukan mestinya didahului dengan peringatan. ‘’Kalau tiba-tiba didenda seperti itu, pasti semua orang keberatan,’’ ucapnya. (tif/c1/isd)

Baca Juga :  Pembunuhan Herfina di Jembatan Galok Direkonstruksi, Pelaku Peragakan 19 Adegan

Pasien Meninggal Tambah Jadi Empat

PASIEN positif Covid-19 di Ngawi yang meninggal kembali bertambah. Hingga Selasa (15/9), virus korona telah merenggut nyawa empat warga setempat. ‘’Yang meninggal pasien nomor 105,’’ kata Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Ngawi drg Endah Pratiwi.

Pasien yang meninggal itu merupakan seorang petani asal Kecamatan Paron. Sebelum terkonfirmasi positif Covid-19, yang bersangkutan menderita sakit dengan gejala awal nyeri pinggang dan pusing. Pada akhir Juli lalu, pasien tersebut sempat berobat ke RSUD dr Soeroto, Ngawi. Hasil diagnosis menyebutkan mengidap tumor ginjal dan penyumbatan kepala.

Kemudian, lanjut Endah, pada 8 September lalu pasien ke-105 itu berobat ke RSUD dr Moewardi, Solo. Pun, di sana diambil swab-nya dua kali. Hasil pemeriksaan swab pertama negatif korona. Namun, pada Minggu sore (13/9) pasien tersebut akhirnya meninggal. ‘’Sehari kemudian, hasil swab test keduanya keluar dan dinyatakan terkonfirmasi positif Covid-19,’ paparnya.

Endah mengaku pihaknya sudah melakukan tracing dan identifikasi terhadap semua kontak erat pasien. Juga mengambil sampel swab anggota keluarganya. ‘’Sampai 14 hari ke depan, semua orang yang pernah kontak erat wajib dikarantina dengan dipantau petugas dari dinkes. Kami juga sudah lakukan disinfeksi rumah serta lingkungannya,’’ ungkap Endah.

Selain pasien meninggal tersebut, kemarin ada tambahan satu kasus positif Covid-19. Sedangkan pasien yang dinyatakan sembuh dan suspect tidak ada penambahan. (tif/c1/isd)

Most Read

Artikel Terbaru

/