alexametrics
23.8 C
Madiun
Friday, August 19, 2022

Hujan Tak Menentu, Peserta Asuransi Tani Padi Melonjak

NGAWI, Jawa Pos Radar Madiun – Cuaca yang sulit ditebak membuat sebagian petani padi di Ngawi lebih perhatian terhadap usaha pertaniannya. Mereka ramai-ramai mendaftar asuransi usaha tani padi (AUTP) untuk meminimalkan dampak kerugian. Seandainya padi yang ditanam tahun ini gagal panen.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Ngawi Supardi mengungkapkan, lahan padi seluas 806 hektare ikut AUTP di musim tanam kedua. Jumlah itu melonjak dari rekapitulasi 350 hektare sepanjang tahun lalu. Petani yang menjadi peserta AUTP kebanyakan dari Kecamatan Kwadungan, Padas, dan Pangkur. ”Ketiga wilayah itu memang rawan banjir dan angin kencang,” katanya, Jumat (17/6).

Supardi juga tidak menyangka bahwa hujan masih mengguyur di musim tanam kedua kali ini. Bahkan disertai angin kencang hingga membuat tanaman padi di sejumlah wilayah ambruk. Hingga berpotensi membuat biji padi busuk. ”Di luar perkiraan kalau ternyata musim tanam kedua belum masuk kemarau,” ujarnya.

Baca Juga :  Angin Kencang Terjang Empat Kecamatan di Ngawi

Terlepas cuaca yang sulit ditebak, Supardi menilai sejumlah petani mulai sadar pentingnya ikut AUTP. Mereka memperoleh ganti rugi Rp 6 juta per hektare dari luasan lahan padi yang gagal panen. ”Premi yang harus dibayarkan Rp 180 ribu per hektare,” tuturnya sembari menyebut premi petani dengan lahan kurang dari 0,5 hektare disubsidi Rp 144 ribu oleh pemerintah.

DPP menargetkan 5.000 hektare lahan padi ikut AUTP tahun ini. Target itu menimbang kerawanan usaha pertanian di kabupaten ini. Selain karena faktor alam, juga ada serangan hama, gangguan organisme pengganggu tumbuhan (OPT), dan penyebab force majeure lainnya. ‘’Kami akan memaksimalkan luasan AUTP di musim tanam berikutnya,’’ tutur Supardi. (sae/c1/cor)

NGAWI, Jawa Pos Radar Madiun – Cuaca yang sulit ditebak membuat sebagian petani padi di Ngawi lebih perhatian terhadap usaha pertaniannya. Mereka ramai-ramai mendaftar asuransi usaha tani padi (AUTP) untuk meminimalkan dampak kerugian. Seandainya padi yang ditanam tahun ini gagal panen.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Ngawi Supardi mengungkapkan, lahan padi seluas 806 hektare ikut AUTP di musim tanam kedua. Jumlah itu melonjak dari rekapitulasi 350 hektare sepanjang tahun lalu. Petani yang menjadi peserta AUTP kebanyakan dari Kecamatan Kwadungan, Padas, dan Pangkur. ”Ketiga wilayah itu memang rawan banjir dan angin kencang,” katanya, Jumat (17/6).

Supardi juga tidak menyangka bahwa hujan masih mengguyur di musim tanam kedua kali ini. Bahkan disertai angin kencang hingga membuat tanaman padi di sejumlah wilayah ambruk. Hingga berpotensi membuat biji padi busuk. ”Di luar perkiraan kalau ternyata musim tanam kedua belum masuk kemarau,” ujarnya.

Baca Juga :  Skate Park di Kawasan Alun-Alun Merdeka Rusak

Terlepas cuaca yang sulit ditebak, Supardi menilai sejumlah petani mulai sadar pentingnya ikut AUTP. Mereka memperoleh ganti rugi Rp 6 juta per hektare dari luasan lahan padi yang gagal panen. ”Premi yang harus dibayarkan Rp 180 ribu per hektare,” tuturnya sembari menyebut premi petani dengan lahan kurang dari 0,5 hektare disubsidi Rp 144 ribu oleh pemerintah.

DPP menargetkan 5.000 hektare lahan padi ikut AUTP tahun ini. Target itu menimbang kerawanan usaha pertanian di kabupaten ini. Selain karena faktor alam, juga ada serangan hama, gangguan organisme pengganggu tumbuhan (OPT), dan penyebab force majeure lainnya. ‘’Kami akan memaksimalkan luasan AUTP di musim tanam berikutnya,’’ tutur Supardi. (sae/c1/cor)

Most Read

Artikel Terbaru

/