alexametrics
29.2 C
Madiun
Tuesday, May 17, 2022

Ada yang Beli Lagi Migor setelah Tinta di Jari Terhapus

NGAWI, Jawa Pos Radar Madiun – Cara pengendalian pembeli yang terkesan sia-sia. Manajemen Supermarket Tiara, Ngawi, mewajibkan setiap pembeli minyak goreng (migor) mencelupkan jari kelingkingnya ke tinta. Sistem yang telah berjalan dua pekan itu nyatanya tidak berhasil membendung praktik pemborongan migor Rp 14 ribu per liter. ‘’Ada yang datang lagi setelah tintanya terhapus,’’ kata Rina Septiana, supervisor Supermarket Tiara, kemarin (17/2).

Rina mengungkapkan, pembelian migor dibatasi maksimal dua liter per orang per harinya. Cara pembatasan layaknya pemungutan suara dalam pemilihan umum itu demi mengantisipasi dobel pembelian. Sebab, pasokan migor dari distributor juga tidak menentu. Padahal permintaannya cukup tinggi. ‘’Pembatasan agar stok tidak habis,’’ ujarnya.

Warga juga menyerbu distributor untuk memperoleh migor. PT Penguin Indo Logistik, salah satunya. Antrean pembeli terjadi sejak sebelum pintu toko di Jalan Ronggowarsito itu dibuka pukul 07.00. Karena tingginya permintaan, jumlah pembelian dibatasi.

Baca Juga :  Komisi II DPRD Ngawi Setujui Lahan Calon SDN 1 Sambirejo

Warga berstatus pedagang gorengan atau usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dijatah dua kardus atau 24 liter per hari.  ‘’Kami wajibkan membawa nomor izin usaha dan kartu identitas agar tidak dobel pembelian, juga mengantisipasi penimbunan,’’ kata Direktur PT Penguin Indo Logistik Endrik Widodo.

Bupati Ngawi Ony Anwar Harsono menyampaikan, operasi pasar murah migor 600–900 liter digelar hari ini. Lokasinya di Pasar Besar, Pasar Beran, dan kawasan sekitar Alun-Alun Merdeka. ‘’Ini untuk menjamin ketersediaan stok dan menstabilkan harga di pasaran,’’ ujarnya.

Ony menegaskan, operasi pasar khusus pelaku UMKM. Seperti industri keripik tempe, kerupuk, penjual gorengan, dan pedagang kaki lima. ‘’Belum menyasar masyarakat umum,’’ tuturnya. (sae/c1/cor/her)

NGAWI, Jawa Pos Radar Madiun – Cara pengendalian pembeli yang terkesan sia-sia. Manajemen Supermarket Tiara, Ngawi, mewajibkan setiap pembeli minyak goreng (migor) mencelupkan jari kelingkingnya ke tinta. Sistem yang telah berjalan dua pekan itu nyatanya tidak berhasil membendung praktik pemborongan migor Rp 14 ribu per liter. ‘’Ada yang datang lagi setelah tintanya terhapus,’’ kata Rina Septiana, supervisor Supermarket Tiara, kemarin (17/2).

Rina mengungkapkan, pembelian migor dibatasi maksimal dua liter per orang per harinya. Cara pembatasan layaknya pemungutan suara dalam pemilihan umum itu demi mengantisipasi dobel pembelian. Sebab, pasokan migor dari distributor juga tidak menentu. Padahal permintaannya cukup tinggi. ‘’Pembatasan agar stok tidak habis,’’ ujarnya.

Warga juga menyerbu distributor untuk memperoleh migor. PT Penguin Indo Logistik, salah satunya. Antrean pembeli terjadi sejak sebelum pintu toko di Jalan Ronggowarsito itu dibuka pukul 07.00. Karena tingginya permintaan, jumlah pembelian dibatasi.

Baca Juga :  4 Meriam Caesar 155 Dipajang dalam Pameran Alutsista di Madiun-Jember

Warga berstatus pedagang gorengan atau usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dijatah dua kardus atau 24 liter per hari.  ‘’Kami wajibkan membawa nomor izin usaha dan kartu identitas agar tidak dobel pembelian, juga mengantisipasi penimbunan,’’ kata Direktur PT Penguin Indo Logistik Endrik Widodo.

Bupati Ngawi Ony Anwar Harsono menyampaikan, operasi pasar murah migor 600–900 liter digelar hari ini. Lokasinya di Pasar Besar, Pasar Beran, dan kawasan sekitar Alun-Alun Merdeka. ‘’Ini untuk menjamin ketersediaan stok dan menstabilkan harga di pasaran,’’ ujarnya.

Ony menegaskan, operasi pasar khusus pelaku UMKM. Seperti industri keripik tempe, kerupuk, penjual gorengan, dan pedagang kaki lima. ‘’Belum menyasar masyarakat umum,’’ tuturnya. (sae/c1/cor/her)

Most Read

Artikel Terbaru

/