alexametrics
33.7 C
Madiun
Thursday, September 29, 2022

Cerita Ketua Kosti Ngawi Miliki Sepeda Penny Farthing

NGAWI, Jawa Pos Radar Madiun – Para pencinta sepeda tua di Ngawi berkumpul di Benteng Van den Bosch kemarin (17/8). Mereka melaksanakan upacara 17 Agustus dan berkeliling kawasan cagar budaya itu untuk wisata sejarah.

—————————————-

DARI puluhan sepeda kuno yang terparkir, sepeda jenis penny farthing milik Ketua Komunitas Sepeda Tua Indonesia (Kosti) Ngawi Sumar Yoga paling mencolok. Sebab, roda ban depannya berdiameter 1,2 meter. Sedangkan roda ban belakangnya lebih kecil dibandingkan sepeda pada umumnya. ‘’Populer di Eropa pada era 1870-an sampai 1880-an,’’ kata Yoga.

Yoga menyukai sepeda penny farthing bukan semata-mata bentuknya yang unik, melainkan juga sejarahnya. James Starley, insinyur asal Inggris, memperkenalkan sepeda dengan ukuran tidak biasa itu bukannya tanpa alasan. Roda ban depannya dibuat besar dan tinggi agar kayuhan pedal lebih efisien.

Baca Juga :  BUMD DKI Jakarta Perpanjang Kontrak Suplai Beras dari Ngawi

Selain itu, mengurangi goncangan. Sehingga pengendara lebih nyaman ketika berkendara dengan jarak cukup jauh. ‘’Tapi, karena single pedal dan roda depan yang tinggi, sepeda ini sedikit berbahaya untuk jalan tidak rata, karena butuh keseimbangan,’’ terang warga Desa Pelem, Ngawi, tersebut.

Sepeda penny farthing milik Yoga bukan asli buatan Eropa, melainkan custom dari seseorang di Sidoarjo. Sulit mendapatkan sepeda yang asli lantaran sangat langka. Apalagi, masa kejayaan penny farthing terbilang sangat sebentar. ‘’Keberadaannya langsung tergantikan dengan sepeda yang lebih safety,’’ ujar pehobi sepeda tua sejak 2010 silam itu. (sae/cor/c1)

NGAWI, Jawa Pos Radar Madiun – Para pencinta sepeda tua di Ngawi berkumpul di Benteng Van den Bosch kemarin (17/8). Mereka melaksanakan upacara 17 Agustus dan berkeliling kawasan cagar budaya itu untuk wisata sejarah.

—————————————-

DARI puluhan sepeda kuno yang terparkir, sepeda jenis penny farthing milik Ketua Komunitas Sepeda Tua Indonesia (Kosti) Ngawi Sumar Yoga paling mencolok. Sebab, roda ban depannya berdiameter 1,2 meter. Sedangkan roda ban belakangnya lebih kecil dibandingkan sepeda pada umumnya. ‘’Populer di Eropa pada era 1870-an sampai 1880-an,’’ kata Yoga.

Yoga menyukai sepeda penny farthing bukan semata-mata bentuknya yang unik, melainkan juga sejarahnya. James Starley, insinyur asal Inggris, memperkenalkan sepeda dengan ukuran tidak biasa itu bukannya tanpa alasan. Roda ban depannya dibuat besar dan tinggi agar kayuhan pedal lebih efisien.

Baca Juga :  Polisi Selidiki Kelangkaan Masker di Ngawi

Selain itu, mengurangi goncangan. Sehingga pengendara lebih nyaman ketika berkendara dengan jarak cukup jauh. ‘’Tapi, karena single pedal dan roda depan yang tinggi, sepeda ini sedikit berbahaya untuk jalan tidak rata, karena butuh keseimbangan,’’ terang warga Desa Pelem, Ngawi, tersebut.

Sepeda penny farthing milik Yoga bukan asli buatan Eropa, melainkan custom dari seseorang di Sidoarjo. Sulit mendapatkan sepeda yang asli lantaran sangat langka. Apalagi, masa kejayaan penny farthing terbilang sangat sebentar. ‘’Keberadaannya langsung tergantikan dengan sepeda yang lebih safety,’’ ujar pehobi sepeda tua sejak 2010 silam itu. (sae/cor/c1)

Most Read

Artikel Terbaru

/