alexametrics
30.6 C
Madiun
Thursday, August 18, 2022

Pamerkan Kepingan Sejarah Ngawi sejak Periode 1839

NGAWI, Jawa Pos Radar Madiun – Puluhan pigura tergantung di ruang pameran Perpustakaan Daerah dan Arsip Ngawi. Bingkai kayu beragam ukuran itu bukan memajang lukisan, melainkan arsip sejarah kabupaten ini dari periode 1839 hingga 1990-an.

Dinas perpustakaan dan kearsipan setempat menggelar pameran arsip itu selama tiga hari mulai Kamis (16/6) lalu. Literatur sejarah tersebut berupa foto, kliping koran, dan buku. ‘’Ada arsip Benteng Van den Bosch, Radjiman Wedyodiningrat, kunjungan Presiden Soekarno, dan kegiatan seni budaya tempo dulu,’’ kata Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Ngawi Kartikawari Pinilih, Sabtu (18/6).

Pinilih menuturkan, pameran arsip untuk mengenalkan sejarah Ngawi lintas masa kepada masyarakat. Sebagian warga menganggap sepele arsip. Padahal, lembaran dokumen, foto, dan koran tersebut dapat menambah khazanah pengetahuan. Pihaknya terus berupaya menelusuri keping demi keping sejarah kabupaten ini dalam bentuk arsip. ‘’Arsip penting untuk dunia pendidikan dan penelitian,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Ony Pernah Gabung Demokrat, Jadi Pengurus DPD Jatim 2015-2020

Menurut Habiburiza, salah seorang pengunjung, pameran arsip perlu didatangi anak muda. Dokumentasi yang disajikan memuat kondisi dan peristiwa penting di masa lampau. ‘’Karena literatur berupa buku tentang Ngawi belum banyak ditulis,’’ ucap warga Desa Gendingan, Widodaren, tersebut.

Habib, sapaan akrab Habiburiza, merasa arsip yang dipamerkan belum begitu lengkap. Kendati demikian, dirinya cukup puas. ‘’Saya jadi tahu peristiwa yang terjadi di masa lalu,’’ ujarnya.

Pemuda 22 tahun itu memberikan saran agar pameran arsip ke depannya tidak hanya di satu lokasi. Pelaksanaannya juga perlu dikemas secara virtual. Sebab, peminat sejarah bukan hanya warga Ngawi. ‘’Kalau virtual bisa menjangkau banyak orang,’’ tuturnya. (sae/c1/cor)

NGAWI, Jawa Pos Radar Madiun – Puluhan pigura tergantung di ruang pameran Perpustakaan Daerah dan Arsip Ngawi. Bingkai kayu beragam ukuran itu bukan memajang lukisan, melainkan arsip sejarah kabupaten ini dari periode 1839 hingga 1990-an.

Dinas perpustakaan dan kearsipan setempat menggelar pameran arsip itu selama tiga hari mulai Kamis (16/6) lalu. Literatur sejarah tersebut berupa foto, kliping koran, dan buku. ‘’Ada arsip Benteng Van den Bosch, Radjiman Wedyodiningrat, kunjungan Presiden Soekarno, dan kegiatan seni budaya tempo dulu,’’ kata Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Ngawi Kartikawari Pinilih, Sabtu (18/6).

Pinilih menuturkan, pameran arsip untuk mengenalkan sejarah Ngawi lintas masa kepada masyarakat. Sebagian warga menganggap sepele arsip. Padahal, lembaran dokumen, foto, dan koran tersebut dapat menambah khazanah pengetahuan. Pihaknya terus berupaya menelusuri keping demi keping sejarah kabupaten ini dalam bentuk arsip. ‘’Arsip penting untuk dunia pendidikan dan penelitian,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Banjir Rendam Belasan Rumah Warga di Padas

Menurut Habiburiza, salah seorang pengunjung, pameran arsip perlu didatangi anak muda. Dokumentasi yang disajikan memuat kondisi dan peristiwa penting di masa lampau. ‘’Karena literatur berupa buku tentang Ngawi belum banyak ditulis,’’ ucap warga Desa Gendingan, Widodaren, tersebut.

Habib, sapaan akrab Habiburiza, merasa arsip yang dipamerkan belum begitu lengkap. Kendati demikian, dirinya cukup puas. ‘’Saya jadi tahu peristiwa yang terjadi di masa lalu,’’ ujarnya.

Pemuda 22 tahun itu memberikan saran agar pameran arsip ke depannya tidak hanya di satu lokasi. Pelaksanaannya juga perlu dikemas secara virtual. Sebab, peminat sejarah bukan hanya warga Ngawi. ‘’Kalau virtual bisa menjangkau banyak orang,’’ tuturnya. (sae/c1/cor)

Most Read

Artikel Terbaru